Selasa, 23 Desember 2008
Langkah Kembali Terayun
Setapak Demi Setapak Terlewati
Masa Yang Telah Berlalu
Menjadi Prasasti
Yang Memberi Pelajaran Berarti
Untuk Menapaki Jalan
Yang Belum Pernah Terlewati
Jangan Lagi Tersesat
Jangan Lagi Hilang
Berpaling Pada Kenikmatan Dunia
Berpikir Lebih Jernih
Menghadapi Makin Keruhnya Hidup
Berbuat Lebih Bijak
Dalam Menempuh Kelamnya Suasana
Raih Mimpi - Mimpi Menjadi Kenyataan
Bergerak Menuju Hidup Damai Yang Abadi
Jumat, 19 Desember 2008
Tertawa, Acara TV dan Budi Anduk
Humoris. Bagi beberapa orang menjadi sifat. Selain menyenangkan diri sendiri, juga menyenangkan orang lain. Dia akan menjadi “happy makers” untuk orang-orang sekitarnya. Seorang yang humoris selalu dikangeni. Bila tidak ada, dia dicari.
Tertawa. Di tengah beban berat pekerjaan, enak rasanya bisa melepas kepenatan. Setelah seharian bekerja, tertawa enak kali ya? Tidak ada teman yang humoris? Gampang, lihat TV, baca buku lucu. Kalau sampai tertawa dilarang? Atau perlu mengeluarkan uang untuk tertawa? Apa jadinya?
Sulit tertawa. Banyak orang mengalaminya. Stress, depresi. Mungkin itu yang menjadi ide awal Kelik Pelipur Lara cs mendirikan LBH alias Lembaga Bantuan Humor). Namanya lembaga bantuan, tugasnya membantu tertawa orang-orang dengan banyolan-banyolan segar.
Namun ada juga yang tertawa sampai kebablasan. Gila, sakit jiwa. Hingga ada tempat khusus, rumah sakit jiwa. Terus bertambah kalau masa-masa krisis seperti ini. Kalau tidak sakit jiwa, bunuh diri. Capek deh
Mending tertawa. Pulang kerja sore, ada acara “Suami-Suami Takut Istri”. Acara itu selesai, ada acara “Temon dan Abdel”. Acara itu selesai ada guyonan “ Cagur Naik Bajaj”. Selesai acara itu ada di Budi Anduk dkk di “Tawa Sutra XL”. Atau ada pula acara “Bukan Empat Mata” yang Empat Mata banget karena “sempat dicekal KPI. Tertawalah.
Tokoh humoris. Tentu tidak lepas dari acara humor di televisi-televisi itu. Sosok humoris. Tidak hanya dari ucapan-ucapan, namun dari wajah, mimik muka maupun dari penampilan, sosok tokoh humoris bisa membuat tertawa.
Adalah Budi Anduk. Salah satu pemeran di Tawa Sutra XL (Tidak tahu juga, mengapa nama acara itu Tawa Sutra). Sosoknya selalu ditunggu bila menyaksikan salah satu acara komedi situasi itu. Ungkapan “Oke coyyy” atau mimik mukanya ketika bermain. Sangat lucu dan ditunggu.
Wi Agus, selalu menjadi penonton setia Budi Anduk. Dia bisa tertawa terbahak-bahak. Dan dia selalu menunggu-nunggu sosok Budi Anduk. Salah satu perannya “Si Buta dari Gua Batu”, ada keunikan tersendiri dan lucu.
Atau salah satu sketsa yang dimainkan Rabu malam, di suatu “sekolah” dengan Arie, Aldi, Budi dan Ade sebagai murid dan diasuh oleh seorang guru yang cantik.
Si Guru bertanya, “ Ada yang bisa melukis Ibu?”
Si Budi menjawab, “Saya Bu!”
Tiba-tiba dia maju dan meluk Ibu Guru. Kaget Ibu Guru. Disuruh melukis kok malah meluk.
“Lha itu kan meluk, lha ini kiss-nya”, jawab si Budi sambil hendak mencium Ibu Guru.
Itulah “melukis” versi Budi Anduk. Itulah Budi Anduk, salah satu komedian yang bisa mengocok perut pemirsa. Dan Itulah komedi. Membuat tertawa melalui lelucon, banyolan dan plesetan-plesetan. Muka yang dinilai “pas-pasan”, dijadikan bahan lawak, membuat orang senang. Meski dia harus “tersia-sia”, namun itulah kesengsaraan yang mendatangkan kenikmatan dan penghasilan. Hahahahaha
Selamat tertawa.
Selasa, 16 Desember 2008
Catatan Ringan Training IRI
Denpasar, 15 Desember 2008
Untuk membantu partai politik dan para calon legislatif agar dapat bekerja efektif dalam Kampanye Pemilu 2009 mendatang, IRI memiliki program khusus untuk pemuda partai politik yang akan membekali para pemuda partai dengan ketrampilan khusus yang dibutuhkan untuk membantu partai politik pada masa sebelum dan sesudah pemilu. Sifat program pelatihan ini adalah ToT (Training of Trainers). Para pemyda diharapkan akan kembali ke partai masing-masing untuk melakukan pelatihan lanjutan dan/atau aktivitas bagi partai masing-masing untuk meraih dukungan suara pada Pemilu 2009 mendatang.
Lebih lanjut, tujuan dari program ini adalah untuk membantu partai serta calon legislatifnya untuk meraih dukungan suara pada masa pra-Pemilu serta untuk membantu anggota dewan ketika sudah mulai bekerja lembaga legislatif. IRI dalam undangan yang dibagikan ke partai politik mensyaratkanpeserta dalam kegiatan ini adalah pemuda partai yang bukan calon legislatif. Namun, kenyataan yang terjadi adalah banyak peserta yang merupakan calon legislatif dari suatu partai. Hal tersebut ditemui ketika berbincang santai dengan beberapa peserta, ada beberapa orang yang memberikan kartu nama yang menyatakan bahwa dirinya adalah calon legislatif dari suatu partai politik. Menjadi sebuah bahan evaluasi untuk training-training selanjutnya
Pada tahap pertama ini, materi yang disampaikan akan berfokus kepada mengenai Research Importance to a Campaign. Meskipun demikian, ada beberapa materi lain yang telah disiapkan oleh IRI. Sebelum sesi pertama dimulai, Ibu Desi Indrimayutri, selalu Program Officer IRI, memiliki beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta training dan dikumpulkan pada saat makan siang. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan pada program-program training yang selama ini penulis ikuti baik sebagai peserta maupun panitia.
1. Mengapa Anda datang ke training IRI ini?
2. Harapan Anda dengan mengikuti training IRI ini?
3. Bagaimana kemungkinan hasil pencapaian harapan Anda tersebut melalui training yang dilakukan IRI ini?
Pada sesi pertama dengan topik “Pemuda dalam Politik“ oleh Yudistira Adnyana, seorang dosen FISIP dari Universitas Udayana. Dalam makalahnya yang berjudul “Peran Pemuda dalam Partai Politik untuk Mendukung Demokratisasi“. Adnyana menyampaikan bahwa beberapa hal penting mengenai peran pemuda dalam kancah politik. Dosen FISIP Universitas Udayana ini memaparkan peran pemuda baik secara historis dan komparatif seperti gerakan pemuda di Perancis, Amerika Serikat Jerman maupun di negera sendiri, Indonesia.
Meskipun demikian, untuk memainkan perannya di dunia politik, pemuda perlu mengetahui dan memahami beberapa hal yang penting, seperti masalah demokratisasi, sistem pemilu, sistem kepartaian, sistem pemerintahan. Dalam kaitannya dengan perannya di parpol, pemuda perlu mengambil peran dalam memperkuat fungsi-fungsi partai politik, baik dalam hal komunikasi politik, sosialisasi politik, rekrutmen politik maupun pengatur konflik.
Dalama kesimpulan akhirnya, beliau memaparkan bahwa demokrasi sebagai “proyek politik“ jangka panjang, maka generasi muda partai secara alamiah mempunyai peran penting demi kelangsungan partai dan demokrasi. Oleh sebab itu, untuk memperbaiki sistem politik demokrasi ke depan, generasi muda partai harus punyai visi penataan sistem politik demokrasi.
Sebagai generasi muda yang akan melanjutkan tongkat estafet di partai politik mereka khususnya, kepemimpinan adalah salah satu hal yang penting dan harus dimiliki. Perdebatan kepemimpinan apakah dari bakat keturunan atau karena proses belajar menjadi salah satu bahan diskusi kelompok yang difasilitasi oleh Supriyadi dari bagian Ilmu Perilaku Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
Namun, diawal sesi, peserta diajak untuk bermain dalam kelompok, semacam ice breaking. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok dan tiap kelompok dipilih ketua dan sekretaris. Tiap ketua dan sekretaris kelompok maju ke depan untuk mengambil undian. Ternyata kertas undian tersebut ialah daftar lagu. Tiap kelompok harus menyanyikan 4 lagu yang diacak secara bersama-sama dan sekeras-kerasnya. Lagu-lagu yang harus dinyanyikan adalah Garuda Pancasila, Matahari Tenggelam, Maju Tak Gentar dan Halo-Halo Bandung.
Semua kelompok bersemangat. Meskipun kelompok lain menyanyi dengan keras, tiap kelompok harus bersemangat dan tidak terpengaruh. Meskipun makalah yang disajikan banyak membahas teori kepemimpinan, namun Supriyadi menyampaikan materi secara sederhana. Supriyadi mampu menyederhanakan teori kepemimpinan yang abstrak ke yang lebih empiris melalui permainan-permainan yang dilakukan.
Dari dua sesi yang disampaikan, terdapat 5 karakteristik pemimpin yaitu fokus, semangat, kebersamaan, belajar, mencari harapan anggota dan komunikasi dua arah. Karakteristik tersebut diperoleh dari sampaikan oleh peserta melalui proses permainan atau diskusi yang dilakukan. Permainan menyanyi kelompok bersama-sama dengan lagu yang berbeda, diskusi karakteristik kepemimpinan individu dan kelompok serta permainan komunikasi.
Khusus permainan komunikasi ini, ketua kelompok diharuskan menyampaikan perintah hanya secara lisan sedangkan anggota diminta menggambar bangun yang diuraikan secara lisan oleh ketua dan sekretaris masing-masing kelompok dengan estimasi waktu sesuai dengan permintaan ketua dan sekretaris kelompok. Hasilnya, banyak yang keliru dengan tahap pertama ini. Banyak yang bingung atas apa yang disampaikan sehingga banyak bangun yang digambar peserta salah. Terjadi diskusi. Apa yang salah? Si pemberi pesan ataukah penerima pesan yang salah? Keduanya salah. Apa yang kurang? Hanya satu arah, disampaikan lisan, tidak ada alat bantu/peraga dan estimasi waktu pemberian informasi kurang.
Baiklah. Diulang. Sekarang diperbaiki. Perkirakan estimasi waktu, peserta boleh bertanya atau pun menggunakan peraga/alat bantu. Ketua dan sekretaris kelompok tampil lebih bagus. Peserta pun dalam menggambar bangun lebih mudah dan jelas. Hasilnya, jauh lebih bagus dari tahap pertama bila hanya dilakukan dengan komunikasi satu arah. Metode belajar yang sangat-sangat menarik. Setiap mendapatkan kesimpulan dari tiap-tiap game dicatat. Hasilnya, 5 hal utama dalam kepemimpinan. Pemimpin yang memiliki karakteristik fokus, semangat, kebersamaan, belajar, mencari harapan anggota dan selalu berkomunikasi dua arah.
Di akhir sesi, Supriyadi dan panitia membagikan selembar kertas ke masing-masing peserta yang berisi pertanyaan seputar pengetahuan umum. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan sangatlah terbatas. Banyak peserta yang “terjebak“ mengerjakan semua 21 pertanyaan tersebut. Mereka tidak mengindahkan perintah “bacalah kesemuanya dulu dengan cermat“, padahal, peserta hanya diharuskan menjawab 2 pertanyaan saja.
“Seorang pemimpin harus cermat dan teliti“, kata Supriyadi.
“Kalau nanti jadi pemimpin, dimintai tanda tangan surat penting langsung ditandatangani tanpa dibaca dulu, namun ternyata ada kesalahan bagaimana?“, tandasnya
Menarik sekali materi yang dibawakan Pak Supriyadi.
Di sesi selanjutnya, diisi oleh James Lantry dari Australia. Materi inti dari training ini yaitu tentang “Research Importance to a Campaign“. James memaparkan bahwa sangat penting melakukan riset sebelum melakukan kampanye, akan akan dapat mengerti sasaran dari kampanye serta sesuai dengan isu-isu serta permasalahan hangat yang ada di masyarakat. Selain itu, penting untuk menggali data dan informasi yang ada di masyarakat sehingga sasaran kampanye akan jelas dan terarah. Biaya (cost) untuk kampanye pun akan lebih efisien bila dilakukan riset. Hal tersebut telah dibuktikan melalui pengalaman-pengalaman James pada beberapa riset-riset yang telah dilakukannya.
Tujuan dari materi ini adalah peserta dapat melakukan riset yang sederhana sebelum melakukan kampanye. Melalui riset tersebut akan diperoleh sejumlah data dan informasi yang sangat berguna untuk berkampanye. Riset yang dapat didesain oleh parpol sendiri, tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Data-data dapat diperoleh melalui berita di televisi, koran, interne, data hasil pemilihan masa lalu atau data sekunder lainnya.
James memberikan 12 pertanyaan sederhana yang dapat digunakan parpol untuk melakukan riset yang tidak membutuhkan biaya yang besar, bisa melalui kuesioner atau telepon. Selain melalui penelitian kuantitatif tersebut, riset juga dapat dilakukan melalui penelitian kualitatif dengan melakukan Focus Group Discussion. Akan banyak informasi yang didapat jika melakukan riset dan hasilnya bermanfaat untuk kampanye.
Sesi James pada hari pertama berakhir dan akan dilanjutkan pada hari kedua. Di ruang yang sama, James kembali memaparkan pentingnya data, pentingnya melakukan riset untuk mencari topik aktual di masyarakat sehingga kampanye yang dilakukan akan efektif dan efisien. Dia buktikan melalui tayangan iklan kampanye yang dibuatnya dibandingkan dengan iklan kampanye pesaing. Lebih mengena dan lebih hemat cost jika melakukan riset. Hasil penelitian baik yang kuantitatif maupun yang kualitatif bermanfaat untuk kampanye di masyarakat dan menarik simpati masyarakat.
Cukup interaktif diskusi James dengan peserta. Ada yang bertanya harus seberapa besar sampel yang diambil karena biasanya itu menjadi “rahasia dapur“ lembaga survei, apakah 1000, 2000 dan seterusnya. Adapula yang bertanya mengenai FGD yang dinilai mempunyai banyak kelemahan baik karena fasilitator atau peserta FGD yang dominan berbicara sehingga peserta lain jadi “ngikut“ sehingga akan sangat bias.
Sangat menarik. Meski hanya satu sesi. Namun, pembicara selanjutnya akan memaparkan mengenai pertanyaan dan daftar pertanyaan. Sesuai dijadwal acara, materi ini akan disampaikan selama 2 sesi oleh Drs. I Nyoman Wiratmaja M.Si, dosen Universitas Warmadewa Denpasar.
Ada banyak tips yang diberikan untuk merumuskan dan mendesain suatu alat ukur berupa kuesioner, baik jenis-jenis pertanyaan maupun jawaban yang dikehendaki, apakah pertanyaan terbuka atau tertutup. Selain itu juga dipaparkan kelemahan dan keunggulan masing-masing serta hal-hal yang perlu dihindari dalam mendesain pertanyaan, contohnya pertanyaan memihak, satu pertanyaan dua makna, bias kebaikan umum, bias identitas responden, istilah asing dan teknis, bias simbol kehormatan, pertanyaan membingungkan, pertanyaan negatif ganda, pertanyaan prediksi di luar diri responden, kategori jawaban tidak menunjukkan prioritas penempatan, kategori jawaban yang tumpang tindih dan kategori jawaban tidak menampung semua kemungkinan. Oleh sebab itu penting melakukan pre-test kuesioner sehingga akan dapat diketahui kelemahan dan dapat dilakukan perbaikan-perbaikan.
Sayang, pelatihan seperti ini masih minim simulasi, meskipun banyak diskusi. Pengalaman yang dilakukan oleh penulis pada beberapa training di beberapa dinas pemerintahan di Jawa Tengah membuktikan bahwa training seperti itu perlu latihan dan praktek lapangan. Pernah melakukan training penelitian di dinas Pariwisata Kebumen dan Banyumas mengenai metodologi penelitian mulai dari desain kuesioner hingga pengolahan data dan pelaporan.
Selama 2 hari peserta ditatar untuk praktek lapangan. Pada saat masih ada trainer, bisa dikatakan berhasil, peserta mengerti. Ya, karena kalau lupa masih bisa bertanya, bahkan ada yang mencatat. Namun, ketika trainer pergi dan mereka hendak melakukan penelitian yang serupa, semuanya lupa, bingung mulai darimana. Satu pelajaran yang berharga...
Sempat “menyentil“ Ibu Desi dengan usul kurang simulasi, dia jawab bahwa pada sesi selanjutnya akan dilakukan simulasi. Dan ternyata memang benar. Peserta diminta untuk membuat pertanyaan sederhana terkait dengan jumlah parpol di Bali yang ikut, nama-nama parpol yang dikenal dan apakah responden mengenal nama partai peserta pelatihan atau pertanyaan-pertanyaan lain yang masih berkaitan. Masing-masing peserta harus mencari seorang responden di sekitar Aston Hotel untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan kemudian akan didiskusikan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ditemui.
Setelah selesai banyak peserta yang menceritakan pengalaman-pengalaman mereka. Ada yang menanyai orang yang sama (double posting), pengetahuan responden yang kurang tentang jumlah parpol di Bali terbukti dari ketidaktahuan mereka mengenai jumlah parpol peserta pemilu 2009, hingga parpol pewawancara yang belum dikenal oleh responden dikarenakan parpol kecil. Melalui moments wawancara ini, pewawancara juga melakukan edukasi maupun promosi terhadap parpolnya. Banyak hal yang bisa ditemui di lapangan.
Setelah sesi diskusi tersebut, James kembali menjadi fasilitator. Dia memandu mengenai tabulasi secara sederhana. Dalam presentasinya itu, dia biasa menggunakan Microsoft Excel untuk mentabulasi, atau software SPSS. Sangat menarik sebenarnya, lagi-lagi peserta tidak simulasi yang disayangkan pada tahap ini.
Namun menurut Ibu Desi, akan dilakukan training lanjutan terkait dengan pengolahan data, database ataupun teknologi informasi. Untuk menjaring aspirasi peserta, IRI telah membagikan angket untuk bahan-bahan yang dikehendaki peserta untuk training teknologi informasi di bulan Januari 2009, menurut rencana.
Semoga peserta training ini tidak seperti peserta training dari Dinas Pariwisata Kabupaten Kebumen dan Banyumas di atas. Ketika peserta kembali ke parpol masing-masing, hasil pelatihan ini dapat ditularkan kepada parpol masing-masing. Paling tidak, penelitian sederhana dapat dilakukan oleh partai politik yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar melakukan kampanye. Atau, karakteristik kepemimpinan sebagai hasil kesimpulan diskusi di sesi Kepemimpinan dapat dilakukan oleh masing-masing peserta dan disebarkan laksana “virus“ figur pemimpin yang dihasilkan adalah sesuai dengan cita-cita luhur bangsa. (Win)
Skripsi: Masihkah Karya Mahasiswa
Pengantar: Realita Tergambar Dari Penelitian
Kehidupan di kampus mempunyai makna yang tidak bisa dilepaskan dari pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Ketiga hal tersebut menjadi nyawa perguruan tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi. Oleh sebab itu, civitas akademika suatu universitas perlu sejalan seiring dalam melaksanakan dan menjalankan idealisme yang disebut dengan Tridarma Perguruan Tinggi tersebut. Menyoroti peran perguruan tinggi yang dilihat pada ketiga pilar tersebut, menarik untuk mengamati salah satu pilar (dengan tidak mengabaikan kedua pilar yang lain) yaitu penelitian.
Penelitian/research diartikan secara luas sebagai suatu pemeriksaan atau pengujian yang teliti dan kritis dalam mencari fakta/prinsip-prinsip penyelidikan yang tekun guna memastikan suatu hal (Ndraha 1988 dalam Umar 2004). Lebih lanjut, Umar (2004) menjelaskan bahwa riset memiliki tiga unsur penting yaitu sasaran, usaha untuk mencapai sasaran serta metode ilmiah. Setiap penelitian perlu memperhatikan ketiga unsur tersebut. Patut digaris bawahi adalah unsur kedua dalam riset yaitu usaha untuk mencapai sasaran. Seringkali budaya instan mempengaruhi seseorang untuk menggunakan jalan cepat dan instan untuk mencapai sesuatu. Namun hasil/output yang didapat tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Mengacu pada pernyataan bahwa penelitian sebagai pilar perguruan tinggi serta pengertian research di atas, maka menarik apabila menemui penelitian-penelitian yang dilaksanakan selama ini menyimpang dari patron-patron tersebut. Penelitian seakan hanya menjadi kegiatan-kegiatan bersifat formalitas yang mengarah pada bisnis yang menghasilkan rupiah bukan pada upaya untuk menggali ilmu pengetahuan. Tidak hanya itu, unsur-unsur penelitian sebagai hal krusial seakan-akan diabaikan hanya untuk mengejar target setoran.
Sebagai bagian dari dunia kampus, mahasiswa pun memiliki kewajiban mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian itu dilakukan sebagai bagian dari tugas perkuliahan, lomba karya tulis maupun skripsi/tugas akhir. Namun mencermati fakta-fakta yang terjadi, penelitian mahasiswa pun tidak jauh berbeda dengan dengan penelitian yang mengarah ke bisnis yang menghasilkan uang serta meninggalkan substansi riset. Selain itu, unsur-unsur dalam penelitian ilmiah pun tidak dihiraukan, asalkan secara formal target terpenuhi namun secara kualitas amat memprihatinkan. Realita tersebut dapat diketahui apabila mencermati dan mengamati proses maupun sampai membaca dan memahami hasil penelitian.
Di Balik Skripsi
Banyak dimuat dalam berita-berita di media massa baik cetak/elektronik penelitian mahasiswa atau lebih khusus skripsi, merupakan skripsi ”bodong”. Tidak hanya itu saja, proses pembuatan sampai dengan pelaporan hasil penelitian dibuat seolah-oleh memenuhi kaidah-kaidah dan norma-norma penelitian ilmiah, akan tetapi pada kenyataannya tidak. Skripsi telah menjadi barang komoditas yang diperjualbelikan di masyarakat, bukan lagi menjadi rahasia bisnis-bisnis pembuatan skripsi menjadi marak di masyarakat. Banyak mahasiswa yang ramai-ramai mencari ”pembimbing bayaran” dengan tujuan untuk memudahkan dan mempercepat proses pembuatan skripsinya. Layaknya bimbingan dengan dosen pembimbing, mahasiswa tersebut berupaya mempelajari hal-hal yang tertuang dan tertulis dalam skripsinya sehingga seakan-akan skripsi tersebut merupakan jerih payah dan usahanya.
Skripsi dipandang sebagai karya monumental mahasiswa seakan-akan hanya menjadi sebuah permainan. Usaha, kerja keras serta semangat mahasiswa yang tercermin berada dibalik proses pembuatan skripsi sirna dengan bermunculan bisnis skripsi. Output dari proses skripsi yang menuntut semangat juang sehingga dikatakan sebagai karya monumental mahasiswa telah dirubuhkan.
Siapa yang dapat disalahkan? Tentu ada faktor pendorong mahasiswa membeli skripsi serta ada faktor penarik dari bisnis pembuatan skripsi. Manakala mahasiswa sudah dipusingkan dengan proses penyusunan skripsi atau tidak mau dipusingkan dengan penyusunan skripsi, maka dicarilah solusi yang cepat yaitu membeli/menggunakan jasa pihak yang menyediakan jasa pembuatan skripsi. Dari sisi penyedia jasa melihat bahwa bisnis pembuatan skripsi akan menuai untung dengan belajar dari pengalaman bahwa mahasiswa yang sedang menyusun skripsi akan mengalami hambatan, kesulitan sampai kepada deadlock penyusunan skripsi. Oleh sebab itu, didirikanlah jasa penyusunan skripsi. Berawal dari ”gethok tular” sesama teman dekat sampai dengan memasang iklan ”konsultan skripsi”.
Kedua pihak sama-sama diuntungkan. Mahasiswa tidak perlu berpusing-pusing memikirkan latar belakang masalah, konsep definisi konsep atau bagian skripsi yang lain. Mahasiswa tinggal menunggu dibuatkan, dibimbing ke dosen pembimbing, direvisi apabila perlu sampai disetujui untuk ujian. Pada saat akan ujian pun, mahasiswa diajari oleh penyedia jasa bagaimana cara presentasi serta trik-trik menjawab pertanyaan dosen penguji. Penyedia jasa pembuatan skripsi pun menuai untung dalam bentuk rupiah yang tidak sedikit.
Langkah seperti itu sebenarnya layaknya penelitian-penelitian pesanan yang dilimpahkan dari organisasi baik swasta maupun pemerintah kepada konsultan-konsultan baik dari institusi pendidikan maupun swasta. Prinsipnya sama, manakala organisasi akan melakukan penelitian mengenai sebuah topik, namun karena keterbatasan sumber daya manusia, dicarilah konsultan untuk melakukan penelitian tersebut dengan anggaran dan batas waktu yang sudah ditentukan. Pada akhir penelitian dilakukan presentasi dari pihak peneliti ke organisasi pemesan. Keduanya sama-sama untung. Organisasi pemesan memperoleh hasil penelitian, institusi yang melakukan penelitian memperoleh rupiah yang tidak sedikit.
Skripsi dan Unsur-Unsur Penelitian
Lebih lanjut, skripsi sebagai karya monumental mahasiswa dirubuhkan melalui ketidaksesuaian dengan unsur-unsur penelitian, seolah-olah hasil penelitian tersebut hanyalah sebagai formalitas dan tidak mengutamakan subtansi. Berdasarkan pengamatan[1] penulis, hasil skripsi mahasiswa belum memenuhi unsur-unsur penelitian seperti yang telah diutarakan di depan. Kembali lagi pada pernyataan di atas, bahwa kini skripsi hanyalah formalitas untuk lulus dari Fakultas Ekonomi, tanpa melihat kualitas dan subtansi yang terkandung di dalamnya.
Unsur-unsur yang telah dikemukakan meliputi sasaran, usaha untuk mencapai sasaran serta metode ilmiah. Ketiga unsur tersebut merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu, pengamatan terhadap skripsi ini pun akan meliputi ketiga unsur tersebut. Secara keseluruhan, pengamatan terhadap skripsi ini Penulis dapat dari perbincangan dengan beberapa teman yang sedang menyusun skripsi, membaca skripsi-skripsi yang tersusun rapi di lantai 3 Perpustakaan serta dari pengamatan terhadap perilaku-perilaku proses bimbingan sampai kepada ujian akhir.
Skripsi yang tertata rapi di lantai 3 Perpustakaan dianggap sebagai monumen mahasiswa yang telah menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi. Namun, apa sasaran yang telah dicapai melalui penulisan skripsi tersebut? Topik skripsi mengenai kepuasan konsumen produk X, Strategi pemasaran PT.XXX dan masih banyak topik yang lain seakan-akan hanyalah penelitian formal untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi. Apakah memang itu yang menjadi sasaran dari skripsi-skripsi? Apakah tidak ada tindak lanjut terhadap hasil penelitian tersebut sehingga memiliki dan memberikan sumbangsih kepada objek yang yang diteliti? Minimal perlu ada tindak lanjut misalnya berupa presentasi hasil penelitian di objek penelitian atau dipublikasikan sehingga khalayak akademisi dan praktisi memperoleh manfaat dari hasil penelitian, tidak hanya teronggok dan tertata rapi di rak.
Memang perlu kerjasama dari berbagai pihak baik Fakultas, mahasiswa dan dosen pembimbing apabila ingin skripsi tidak sekedar berhenti dan menjadi koleksi di perpustakaan. Fakultas perlu menyediakan fasiltas/bentuk-bentuk insentif yang mendukung dan mendorong publikasi-publikasi skripsi mahasiswa. Memang telah ada yang sampai kepada publikasi, namun masih begitu banyak yang belum mengarah ke sana.
Bagian yang kedua mengenai usaha dan upaya untuk mencapai sasaran. Dengan budaya instan yang telah berkembang di masyarakat, dalam penulisan skripsi pun telah dirasuki oleh budaya tersebut. Potret bisnis pembuatan skripsi adalah contohnya. Mahasiswa (tentu tidak semua mahasiswa melakukannya) tidak mau lagi berupaya dan bekerja keras dalam penyusunan skripsinya atau lebih tepatnya tidak mau berpusing-pusing dengan skripsinya. Pergi ke konsultan skripsi menjadi solusi baginya. Tindakan lain adalah dengan cara meniru skripsi-skripsi koleksi yang ada di perpustakaan sehingga tidak perlu membaca buku/jurnal ataupun sumber-sumber yang lain. Dengan demikian, dosa tersebut turun-temurun sampai ke adik-adik angkatan. Dengan meniru tersebut, tidak perlu susah payah membaca buku/jurnal asli sehingga akan memudahkan dalam penyusunan skripsinya karena telah dipermudah dengan merangkum dan meniru hasil yang sudah jadi.
Namun tidak adil apabila hanya menyorot dari sisi mahasiswa. Dari dosen pembimbing pun perlu memiliki upaya dan bekerja keras dalam membimbing skripsi mahasiswanya. Pernah seorang teman mengirim surat kepada dosen pembimbingnya bahwa tanpa peran dosen pembimbing, maka proses penyusunan skripsi tidak akan pernah berhasil. Hal tersebut dia lakukan karena selama proses bimbingan tidak pernah bertemu langsung dosen pembimbing. Skripsi dikumpulkan, dikoreksi dan dikembalikan dengan sudah ada corat-coret bak tulisan seorang dokter kemudian diambil oleh mahasiswa tersebut. Atau ada kejadian, dosen pembimbing tidak membaca skripsi yang dikumpulkan hingga sampai ujian ternyata didapati banyak kesalahan. Atau lebih parah lagi skripsi yang dikumpulkan untuk proses bimbingan hilang. Lalu bagaimana mahasiswa bisa bersemangat apabila dosen pembimbing tidak mengarahkan dan melaksanakan proses bimbingan dengan baik? Sekali lagi perlu komitmen dan kerja sama dari berbagai pihak untuk menghasilkan output penelitian yang berhasil.
Bagian ketiga adalah yang mengenai metode ilmiah. Metode ilmiah memiliki kriteria (Nazir 1998 dalam Umar 2004):
- berdasarkan pada fakta, maksudnya berdasarkan fakta yang nyata bukan kira-kira, legenda-legenda dan semacamnya.
- bebas dari prasangka, maksudnya bebas dari sudut pandang yang subjektif tetapi benar-benar berdasarkan alasan dan bukti lengkap dengan pembuktian yang objektif.
- menggunakan analisis, maksudnya permasalahan harus dicari sebab-sebabnya serta pemecahannya dengan menggunakan analisis yang logis.
- menggunakan ukuran yang objektif, maksudnya selama melakukan proses penelitian tahapan-tahapan hasil yang dicapai dapat diukur dengan alat yang objektif.
Cobalah mengamati skripsi-skripsi yang ada di perpustakaan. Secara laporan memang telah tersusun secara sistematis menurut metode ilmiah. Dalam dalam prosesnya masih banyak yang tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya di lapangan. Contoh sederhana, secara metodologi penelitian, suatu skripsi menggunakan probability sampling, namun di lapangan dilaksanakan dengan cara non probability sampling. Hal tersebut dilakukan dalam upaya untuk mempermudah dan mempercepat memperoleh data. Secara metode ilmiah hal tersebut keliru. Dilihat dari unsur upaya untuk mencapai sasaran, tindakan tersebut tidak memiliki upaya yang maksimal untuk mencapai sasaran. Pernah suatu saat mendengar ucapan seorang mahasiswa bahwa yang terpenting adalah impresi dan bagaimana meyakinkan dosen pembimbing dan penguji meskipun metode yang digunakan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan atau dengan kata lain “sekali berbohong teruslah berbohong” tentang penelitian itu.
Yang paling menyedihkan adalah manakala menjumpai pengakuan seorang mahasiswa yang melakukan penelitian dengan menggunakan kuesioner, namun sama sekali kuesioner tersebut tidak diperbanyak dan tidak diberikan kepada responden. Semua jawaban langsung di ketik dengan “mata peteng” di Microsoft Excel. Ada pula yang diperbanyak namun diberikan tidak pada responden yang dimaksudkan, melainkan meminta bantuan teman-temannya untuk diisi. Dalam pemikirannya, toh dosen pembimbing tidak tahu apalagi dosen penguji, yang penting output dari penelitian itu ada meskipun tidak sesuai dengan fakta dan kenyataan di lapangan.
Sekali lagi peran dosen pembimbing sangat krusial dalam mengarahkan mahasiswa untuk menggunakan metode ilmiah dalam penulisan skripsinya. Namun muncul pertanyaan, apakah dosen pembimbing pun telah menganggap bahwa skripsi hanyalah sebagai formalitas untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi? Karena pernah suatu saat melihat ujian terbuka seorang teman mahasiswa dan dosen penguji menilai bahwa mulai dari awal sampai dengan akhir skripsinya salah. Teman tersebut tidak mampu mempertahankan skripsinya di hadapan dosen penguji, dia hanya terdiam. Malahan dosen penguji mengatakan bahwa hanya memberikan apresiasi karena berani melakukan ujian terbuka. Namun, toh juga lulus. Tidak adakah standar yang pasti dalam penilaian skripsi seorang mahasiswa? Namun, pernah juga mendapati mahasiswa yang melakukan ujian tertutup, skripsi tersebut lebih sistematis dan lebih baik dari skripsi yang pertama tadi, malahan mahasiswa tadi tidak lulus. Apakah apabila ujian terbuka langsung lulus tanpa melihat kualitas tulisan dan presentasi?
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah skripsi yang telah disetujui serta telah lolos ujian masih belum mengindahkan penulisan-penulisan ilmiah. Mengutip pernyataan orang lain baik dari buku, jurnal atau sumber lain namun tidak mencantumkan nama penulis yang bersangkutan. Padahal di skripsi-skripsi telah ada pernyataan keaslian karya tulis skripsi, namun toh masih banyak yang mengingkari penyataan tersebut. Juga dijumpai kasus sumber kutipan di badan tulisan ada tercantum namun di daftar pustaka tidak dijumpai, namun toh skripsi tersebut telah lolos sensor baik pada saat bimbingan dan proses ujian. Melihat dan mengamati fakta-fakta tersebut, sedemikian lemahkah pengawasan mutu/kualitas karya tulis mahasiswa di Fakultas ini?
Senin, 15 Desember 2008
Inter di Giornata ke-16 Serie A Italia: Sempat Lengah
Denpasar, 15 Desember 2008
Kekalahan Inter Milan di pentas Champion League pada Minggu lalu melawan Werder Bremen adalah sebuah cambuk yang sangat berarti. Dengan kekalahan tersebut membuat mereka harus puas hanya di posisi runner-up klasemen akhir group B. Lebih lanjut, pada babak knock out 16 besar, Inter Milan akan menghadapi juara grup yang akan ditentukan melalui undian.
Seperti diberitakan oleh Kompas.com, karena kejadian tersebut Inter sempat kena marah oleh pelatihnya, Jose Mourinho. Meskipun demikian, Kapten Tim, Javier Zannetti, mengaku siap menghadapi tim mana pun di 16 besar Liga Champions nanti. Bahkan, dia sangat berharap bisa bertemu dengan juara bertahan, Manchester United (MU).
Di liga domestic, pada giornata ke-16 ini, Inter Milan menantang tim papan bawah, Chievo. Inter Milan nyaris malu di kandang sendiri. Sempat ditahan 2-2, Inter akhirnya menang 4-2 berkat dua gol Zlatan Ibrahimovic.
Kemenangan itu memperkokoh Inter Milan di puncak klasemen. I Nerazzurri tetap memimpin klasemen dengan nilai 39. Pada pertandingan lain, Juventus mampu menghajar AC Milan dengan skor 4-2. Hasil ini menempatkan Juventus di posisi kedua dengan 33 poin dan AC Milan turun ke posisi keempat dengan poin 30. Sementara Napoli berhasil naik ke posisi ketiga klasemen dengan poin 30 setelah berhasil mengalahkan Lecce dengan skor 3-0. Meski poin AC Milan dan Napoli sama, Napoli unggul dalam selisih gol.
Lengah. Itu gambaran Inter Milan manakala bertanding dengan Chievo semalam. Pertandingan yang dilakoni Inter dengan Chievo sangat mendebarkan. Inter unggul 2-0 lebih dulu lewat gol Maxwell menit ke-3 dan Dejan Stankovic menit ke-47. Namun, Chievo di luar dugaan mampu menyamakan kedudukan melalui gol Pellisier menit ke-51 dan Bentivoglio menit ke-65. Hasil itu membuat Inter mencoba menekan lebih kencang. Hasilnya, Zlatan Ibrahimovic mencetak dua gol kemenangan pada menit ke-79 dan 88.
Perjalanan masih panjang. Pentas Champion League dan Serie-A yang keras masih menanti serta membutuhkan konsentrasi yang tinggi.
Jumat, 12 Desember 2008
Dibalik Berita Pengumuman Orang (ter)Kaya di Indonesia
Denpasar, 12 Desember 2008
Media Indonesia Kamis, 11 Desember 2008 21:10 WIB, melansir berita mengenai 10 besar orang-orang terkaya di Indonesia, menurut majalah Forbes Asia. Menurut Media Indonesia, daftar orang terkaya di Indonesia berubah seiring dengan krisis perekonomian global dan Majalah Forbes Asia kini menempatkan Sukanto Tanoto sebagai orang terkaya di Indonesia, sedangkan Aburizal Bakrie yang tahun lalu di peringkat pertama menjadi ke sembilan.
Daftar orang kaya seluruhnya 40 orang akan dilaporkan Majalah Forbes Asia edisi 22 Desember. Berikut 10 besar orang terkaya di Indonesia menurut Majalah Forbes Asia:
- Sukanto Tanoto, 2 miliar dolar AS
- R. Budi Hartono, 1,72 miliar dolar AS
- Michael Hartono, 1,68 miliar dolar AS
- Putera Sampoerna, 1,5 miliar dolar AS
- Martua Sitorus, 1,3 miliar dolar AS
- Peter Sondakh, 1,05 miliar dolar AS
- Eddy William Katuari, 1,04 miliar dolar AS
- Eka Tjipta Widjaja, 950 juta dolar AS
- Aburizal Bakrie, 850 juta dolar AS
- Murdaya Poo, 825 juta dolar AS
Ketika berita dari Media Indonesia tersebut saya upload ke beberapa milis, ada beberapa komentar yang menarik. Wartawan Media Indonesia menulis dalam salah kalimatnya menyebutkan “Tahun sebelumnya Bakrie sebagai orang asli Indonesia pertama terkaya di negeri ini”. Kalimat tersebut bisa dimaknai bahwa hanya Bakrie sebagai orang pribumi asli dideretan nama-nama tersebut, sedangkan sisanya adalah warga negara keturunan.
Theo Litaay dalam komentarnya di milis mengatakan “Itu beritanya diskriminatif terhadap ras. Nggak benar itu wartawannya. Koq soal ras dijadikan dasar penulisan, yang penting kan mereka warga negara Indonesia. Kapan kita bisa maju kalau gini terus”.
Terkait dengan berita tersebut, seorang anggota Milis SMAGA-Surakarta membuat satu refleksi dari pengalamannya di SMU N 3 Surakarta yang notabene banyak murid dari etnis Tionghoa. Saya juga mengetahuinya dengan jelas karena alumni dari salah satu sekolah favorit di Kota Solo itu.
Berikut refleksi lengkapnya:
Ngono yo ngono, ning ojo ngono
Jumat, 12 Desember 2008
Di Solo, smaga merupakan satu-satunya (mungkin) smu negeri, yang paling banyak memiliki siswa yang berasal dari keturunan Tiong Hoa, diantara smu negeri yang lain. Kota Solo sendiri, oleh sebagian pengamat social, dijuluki sebagai kota yang bersumbu pendek, gampang meledak. Julukan ini, dilatarbelakangi oleh serangkaian kerusuhan rasial, yang pernah melanda kota tersebut. Sebagai sebuah kota yang dianggap sebagai pusat kebudayaan jawa, julukan sumbu pendek ini sangat bertolak belakang dengan kelemahlembutan masyarakatnya, maupun kehalusan tutur kata mereka. Penyebab kerusuhan social tersebut, sangat komplek. Salah satu biang keladinya adalah, berkembangnya pandangan negative di sebagian besar masyarakat jawa, atau yang dikenal sebagai sikap apriori, terhadap masyarakat keturunan Tionghoa.
Dahulu, saya juga pernah memiliki sikap apriori terhadap suku atau bangsa lain, utamanya, yang berasal dari keturunan Tiong Hoa. Saya memandang masyarakat keturunan Tionghoa, sebagai sebuah komunitas yang agresif dalam mencari rizqi, dengan, seringkali, mengabaikan etika bisnis, misalnya, saya menganggap bahwa, masyarakat tionghoalah yang menumbuhkan kultur suap menyuap di kalangan birokrasi. Kemudian, kesan eksklusif. Kesan ini menguat setelah saya menjalani pendidikan di smaga, dan melihat bahwa, sebagian besar teman-teman yang berasal dari keturunan tionghoa, memiliki kecenderungan untuk tidak berbaur ketika mereka bergaul. Kebetulan, teman-teman tionghoa ini, memiliki kemapanan ekonomi lebih dibanding teman-teman yang berasal dari suku yang lain. Ini semakin memperkuat kesan eksklusif tersebut. Saya juga meragukan kesetiaan masyarakat tionghoa terhadap Negara RI, karena melihat sebagian besar masyaratkatnya masih mempertahankan adat istiadat yang berasal dari negeri leluhurnya, Cina daratan. Juga, dalam sejarah pergerakan nasional, terutama pada fase perang kemerdekaan, hampir tidak ada tokoh yang berasal dari keturunan tionghoa. Lebih-lebih lagi, dengan peristiwa larinya pengusaha pengemplang BLBI ke Singapura, yang kebetulan keturunan tionghoa,
Pelan-pelan, seiring dengan berlalunya waktu, Alloh SWT mulai mendidik saya, meluruskan pandangan sempit saya, yang mungkin ada benarnya, tetapi juga sebagian besar, ternyata keliru. Belakangan, saya baru menyadari bahwa sikap saya, ternyata mengundang murka Alloh SWT, sebagai dzat yang menciptakan manusia, dengan berbagai suku bangsa, dengan maksud, untuk saling mengenal karakteristik masing-masing ciptaanNYA. Apriori terhadap ciptaanNYA, berarti juga apriori terhadap penciptanya. Saya sendiri, tidak bisa memilih, ketika Alloh SWT menakdirkan saya terlahir dari suku jawa. Semua suku bangsa, yang diciptakan Alloh SWT, memiliki karakteristik yang unik, plus maupun minus. Perilaku sebagian suku bangsa, tidak bisa digeneralisir sebagai perilaku suku bangsa tersebut seluruhnya, pars pra toto. Perilaku negative sebagian suku bangsa, dipengaruhi oleh banyak factor eksternal, dan bukan bawaan dari suku tersebut, kecuali, kita menuduh bahwa Alloh SWT jahat, menciptakan suku bangsa dengan kelemahan bawaan. Alangkah beraninya tuduhan tersebut. Ternyata, semua manusia berpotensi untuk menjadi chauvinis, narsis, tidak hanya masyarakat aria jerman, dengan nazinya, atau, yang sekarang sedang populer, kaum yahudi dengan gerakan zionismenya.
Yang paling penting di mata Alloh SWT adalah, jalan hidup yang dipilih oleh masing-masing manusia ciptaanNYA, yang terdiri dari berbagai suku bangsa, mulai dari yang bermata sipit sampai yang bermata melotot, mulai dari yang berkulit putih, sampai yang berkulit hitam. Seandainya manusia telah menjalani hidup di bawah langit sampai dengan usia 40 tahun, dan ternyata dia masih salah memilih jalan hidup, maka dia tidak boleh menyalahkan takdir. Empat puluh tahun di bawah langit adalah waktu yang cukup bagi manusia untuk mempelajari, menimbang, membandingkan, dan akhirnya, memilih jalan hidup terbaik guna menghabiskan sisa usia hidupnya.
Saatnya manusia meninggalkan sekat-sekat SARA. Ibarat Yamaha atau Honda, suku bangsa boleh berbeda, yang penting, ketika ditunggangi oleh valentine rossi (dulu), semua merk motor bisa menjadi juara. Tugas kita, mencari pembalap yang tepat, yang akan mengantar kita menjadi pemenang, di lintasan balap dunia yang hanya sebentar saja. Hidup yang singkat ini, ibarat kumpulan episode pagi dan sore hari, terlalu berharga bila hanya dihabiskan dalam sekat SARA..
Menarik mencermati kalimat terakhir. Senada dengan yang ditulis di atas, Tommy Bernadus dalam milis IKASATYA mengatakan “Memang di negara kita masih terjadi diskriminasi. Seorang Susi Susanti menangis ketika mendapat medali emas di olimpiade barcelona 1992. Dia tak sanggup menahan rasa haru ketika bendera merah putih dikibarkan.... Tapi rupanya dia masih WNA. Sekarang susi susanti dan elizabeth swan membuka namanya fontana, sport massage gitu. Susi susanti juga punya produk olaah raga terutama raket dan sepatu. Brandnya ASTech alias alan susi technology. Berapa pekerja yang mereka serap? Tapi kok masih diskriminatif.
Kasus wartawan Media Indo yang menulis Aburizal Bakrie pengusaha asli indonesia sebenarnya menunjukan bahwa masih ada diskriminasi”.
Sudah saatnya kotak-kotak itu ditinggalkan. Dewa 19 pun setuju akan hal itu, tercermin dari syair lagu “Indonesia Saja” dari album Laskar Cinta. Lirik tersebut menuliskan
Aku hanya merasa
Aku orang indonesia saja
Aku hanya merasa
Aku orang indonesia saja
Hananto anggota Milis SMAGA Surakarta mengutip pidato kemenangan Obama
"It's the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled - Americans who sent a message to the world that we have never been a collection of Red States and Blue States: we are, and always will be, the United States of America"
Jangan kalah dengan Ameika. Kita semua Indonesia yang Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia, Berbangsa Satu Bangsa Indonesia dan Berbahasa Satu Bahasa Indonesia.
Kamis, 11 Desember 2008
Selamat Jalan Pak Alatas

Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, Ali Alatas, Kamis (11/12), meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura pada pukul 07.30 waktu setempat. Ali Alatas merupakan salah satu diplomat andal yang dimiliki Indonesia. Kelahiran Jakarta, 4 November 1932 ini, "dipakai" oleh lima orang Presiden RI, mulai dari sebagai Menteri Luar Negeri zaman Soeharto dan Habibie tahun 1987-1999, kemudian sebagai penasihat Presiden Abdurrahman Wahid.
Pada zaman Megawati Soerkarnoputri, alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 1956 ini ditunjuk menjadi penasihat untuk urusan luar negeri. Sebagai penasihat presiden, Alex, demikian ia akrab disapa, antara lain telah menjalankan misi diplomat ke berbagai negara, termasuk membicarakan perdamaian Aceh dengan Hasan Tiro di Swedia. Pada 2007 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkat Alex sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.
Ali Alatas lahir 4 November 1932 di Jakarta. Ia meniti karirnya sejak 22 tahun sebagai diplomat di Sekretaris II Kedubes RI di Bangkok. Alumni Fakultas Hukum UI 1956 dan Akademi Dinas Luar Negeri ini sejak kecil bercita-cita ingin menjadi pengacara.
Sebelumnya, ia sempat berkecimpung dalam dunia jurnalistik sebagai korektor Harian Niewsgierf (1952-1952) dan redaktur Kantor Berita Aneta (1953-1954). Selepas bertugas di Kedubes RI Bangkok, ia kemudian menjabat Direktur Penerangan dan Hubungan Kebudayaan Departemen Luar Negeri (1965-1966). Lalu ditugaskan menjabat Konselor Kedutaan Besar RI di Washington (1966-1970). Kembali lagi ke tanah air, menjabat Direktur Penerangan Kebudayaan (1970-1972), Sekretaris Direktorat Jenderal Politik Departemen Luar Negeri (1972-1975) dan Staf Ali dan Kepala Sekretaris Pribadi Menteri Luar Negeri (1975-1976).
Sebagai penasehat presiden ia antara lain telah menjalankan misi diplomat ke berbagai negara, termasuk ke Swedia, mengenai Hasan Tiro. Namun, aktivitasnya sebagai penasehat presiden tidak lagi sesibuk ketika ia menjabat Menlu. Sehingga, ia berkesempatan mengisi waktu dengan mewujudkan impiannya menjadi pengacara, sebagai salah satu penasihat hukum di Biro Pengacara Makarim & Taira's. Dan untuk mengisi waktu ia pun menikmati hidup dengan keluarga di rumah kediamannya di Kemang Timur, Jakarta Selatan.
Kepergian Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Ali Alatas menghadap Ilahi mengagetkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden sangat menghormati Ali Alatas. Presiden Yudhoyono menganggap Ali Alatas adalah negarawan di Indonesia. Tidak hanya itu, selama menjadi Watimpres SBY, Ali Alatas sering memberikan pandangan dan penilaian penting atas peran Indonesia di dunia. Sampai akhir hayat beliau selalu semangat menjalankan tugasnya. Beliau selalu memberi masukan-masukan secara jujur dan selalu berbobot, apa adanya, serta utamakan kepentingan nasional.
Menurut rencana, jenazah Ali Alatas tiba di Jakarta sekitar pukul 18.00. Jenazah akan disemayamkan di rumah duka dan kemudian esok harinya, Jumat pagi sekitar pukul 09.00, diberangkatkan menuju peristirahatan terakhir di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Menurut Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal, Pak Alatas dimakamkan di TMP Kalibata karena beliau mempunyai bintang Adi Mahaprana dan juga bintang Republik Indonesia Utama.
Selamat jalan Pak Alatas. Perjuanganmu akan kami teruskan.
Hati-Hati Penipuan Bermodus Kupon Berhadiah
Ini adalah cerita nyata pada hari Rabu, 10 Desember 2008, tepat hari Hak Asasi Manusia Sedunia diperingati. Adalah Kumbang, seorang direktur sebuah lembaga penelitian yang masih relatif baru di Bali. Hatinya gembira ketika diberi kupon berhadiah. Sang pemberi mengatakan bahwa kupon itu dia peroleh dari dalan bungkus sabun cuci Attack, milik KAO. Kupon tersebut berhadiah satu mobil AVANZA. Lumayan.
Cepat-cepatlah si Kumbang menelpon nomor yang tertera di kupon tersebut. Telepon diangkat dan terjadi diskusi mengenai kebenaran kupon berhadiah tersebut. Si Kumbang diberitahu dia telah beruntung mendapatkan satu unit mobil AVANZA, namun harus melakukan beberapa prosedur yang diperintahkan oleh “PT. KAO”.
Panjang bercerita di telepon, akhirnya di Kumbang minta untuk pergi ke ATM terdekat untuk mentransfer sejumlah uang sekitar 4,5 juta rupiah. Untung Si Kumbang segera menutup telepon itu meskipun sebelumnya Si Oknum mengatakan akan rugi kalau menutup pembicaraan itu. Si Kumbang kemudian menghubungi PT KAO di Jakarta. Pihak PT KAO mengatakan bahwa tidak ada undian berhadiah yang seperti yang dimaksudkan Si Kumbang. Berarti kupon tersebut adalah sebuah penipuan.
Si Kumbang juga menelpon Polda Bali untuk melaporkan kejadian yang baru saja dia alami. Polda Bali segera menindaklanjuti dengan menelpon oknum yang mengaku dari PT. KAO. Hasilnya nihil, nomor itu sudah tidak aktif.
Meskipun tidak memberikan nomor rekeningnya, Si Kumbang menghubungi kantor bank untuk memastikan bahwa uang direkeningnya aman. Pihak bank menyatakan bahwa selama tidak memberitahukan nomor rekening, uang yang ada direkening aman.
Untung belum mentransfer sejumlah uang. Bisa-bisa kantong bobol. Meskipun demikian, untuk menelpon sejumlah orang di atas, Si Kumbang telah menghabiskan uang sekitar 94 ribu rupiah. Lain kali hati-hati. Ikuti pesan sponsor, jangan percaya dengan undian berhadiah. Namun yang meyakinkan Si Kumbang adalah kupon tersebut berada di dalam kemasan, sangat rapi sekali seolah-olah kupon itu dari produsen. Semakin pintar juga ya penipu-penipu sekarang ini.
Rabu, 10 Desember 2008
Sebuah Refleksi: Hari Anti Korupsi dan HAM
Dua hari berturut-turut yaitu tanggal 9 dan 10 Desember merupakan hari peringatan yang sangat sangat penting bagi umat manusia. Kemarin, tanggal 9 Desember ialah hari anti korupsi sedunia. Di Indonesia, banyak pihak memeringati hari tersebut dan menyatakan perang terhadap korupsi dan koruptor. Seperti yang diberitakan oleh detik.com, peringatan hari anti korupsi tahun ini dimeriahkan oleh grup band Gigi dan Slank. Grup Band Gigi menyanyikan 2 buah lagu, sedangkan Slank 4 lagu, mulai dari “Birokrasi Komplex”, “Para Koruptor” hingga “Generasi Biru” dinyanyikan Slank yang langsung disambut oleh pendukungnya, Slankers.
Berbicara mengenai korupsi, kata ini begitu familiar di telinga masyarakat Indonesia khususnya. Korupsi diidentikkan dengan penggelapan/pencurian uang negara oleh para pejabat-pejabat yang berwenang. Tercatat sudah banyak pejabat negara yang terbukti dan atau sedang dalam proses peradilan karena kasus korupsi. Nama-nama pejabat tersohor di negeri ini telah banyak yang menghuni bui.
Korupsi adalah tindakan pencurian, merugikan negara serta merugikan rakyat. Pejabat telah diberikan wewenang dan kepercayaan menyelewengkannya. Kemunculan KPK di negeri ini merupakan salah satu wujud perang terhadap bahaya korupsi yang dilakukan merugikan negara dan rakyat. Pencurian terhadap uang negera perlu ditindak tegas.
Pada sisi lain, korupsi tidak hanya dimonopoli dalam aspek kenegaraan, namun juga pasti aspek individual. Sudahkah kita benar-benar menghindarkan diri dari korupsi? Korupsi jam kerja, korupsi uang bensin, korupsi ide dan korupsi-korupsi yang lainnya. Seorang mahasiswa ketika kuliah datang terlambat, berarti dia telah korupsi waktu. Seorang dosen yang sering datang terlambat mengajar atau malah tidak mengajar telah korupsi waktu. Seseorang yang telah menyelewengkan wewenang yang telah diberikan adalah sebuah kasus korupsi. Sudahkan kita mencoba sepenuh hati menghindari perbuatan korupsi?
Hari ini pula 10 Desember 2008 diperingati hari Hak Asasi Manusia. Namun, masih banyak pelanggaran Hak Asasi Manusia disekeliling kita. Bagaimana korban lumpur Lapindo? Apa yang bisa kita perbuat? Adakah air mata ini menetes untuk mereka di tengah doa-doa kita atau adakah mereka ada di hati pejabat-pejabat negeri ini? Mereka berhak untuk memperoleh kehidupan yang layak. Apakah kita menangis mendengar jeritan mereka? Sedangkan menonton film Laskar Pelangi ataupun Ayat-Ayat Cinta hati kita tersentuh dan akhirnya air mata menetes?
Sudahkan orang-orang di sekeliling kita memperoleh hak mereka? Di antara gemerlap dan glamour Pantai Kuta, terlihat seorang nenek-nenek yang meminta-minta kepada turis lokal dan asing. Atau di jalanan terlihat anak-anak kecil yang meminta-minta padahal mereka seharusnya memperoleh pendidikan yang layak.
Apa yang sudah kita berikan untuk sekeliling kita?
Senin, 08 Desember 2008
KESUNYIAN HATI
MEMBAWA PIKIRANKU
PADA KESEPIAN
SESEPI HATIKU
YANG HIDUP TANPA KAMU
DISISIKU
AKU TAK BISA BERBUAT BANYAK
TIADA YANG BISA MEMBUAT
HATIKU KEMBALI CERIA
SELAIN KAMU SEORANG
TIADA YANG BISA MENYINARI
SUDUT GELAP HATIKU
SELAIN SEBERKAS CAHAYA HATIMU
AC Milan dan Juventus Tetap Mengancam
Hasil yang gemilang ditorehkan Inter Milan dengan menghancurkan Lazio di kandangnya dengan skor telak 0-3. Dengan hasil ini, hingga pekan ke-15 Inter Milan memimpin klasemen sementara dengan perolehan nilai 36.
Pesaing terdekat Inter Milan yaitu AC Milan dan Juventus tetap mengancam karena pekan ini pun mereka berhasil mengalahkan lawan-lawannya. AC Milan di Stadion San Siro menang tipis 1-0 atas Catania berkat gol Kaka di menit ke-65. Juventus pun demikian. Mereka mengalahkan Lecce dengan skor 1-2.
Dengan hasil ini, AC Milan dan Juventus mengantongi poin sama 30. Namun demikian, Juventus berada di posisi kedua sedangkan AC Milan di posisi ketiga. Juventus unggul pada selisih gol. Kedua tim tersebut tetap mengancam pemuncak klasemen sementara dikarenakan masih menyisakan 23 pekan lagi. Perjalanan masih panjang Guys. (Win)
Selasa, 02 Desember 2008
Empat Mata Ditambahi “Bukan“
Denpasar, 2 Desember 2008Empat Mata muncul lagi. Acara yang ditayangkan oleh Trans 7 ini kembali muncul dengan nama baru namun dengan konsep yang sama “ Bukan Empat Mata“. Tukul Arwana sebagai host ditemani oleh Vega dan Peppy mengembalikan keceriaan yang sudah hampir sebulan ini tidak tayang karena dilarang oleh KPI.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pusat memutuskan untuk menghentikan program acara Empat Mata yang ditayangkan Trans7 pada tanggal 4 November 2008. Penghentian tersebut karena acara itu dinilai tidak pantas dan melanggar standar program siaran.
Seperti dilansir Kompas.com bahwa mulai Selasa, 4 November 2008 KPI memberikan sanksi administratif berupa penghentian selama satu bulan. Jika ingin disiarkan kembali, masa satu bulan tersebut untuk evaluasi dan konsolidasi. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua KPI Pusat Sasa Djuarsa Sendjaja.
Sasa menuturkan, sebelumnya KPI telah memberikan teguran sebanyak tiga kali. Teguran tersebut ditayangkan pada 5 Mei 2007, 27 September 2007, dan 25 Agustus 2008. Namun, pada tayangan 29 Oktober 2008 dalam episode Sumanto, mantan pemakan mayat, kembali ditemukan pelanggaran. Dalam salah satu adegan ada bintang tamu yang memakan hewan kodok hidup-hidup sehingga dinilai telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran.
Setelah sebulan tidak tayang, “Empat Mata” berganti nama menjadi “Bukan Empat Mata”. Meskipun nama Empat Mata ditambah kata “bukan”, namun nyaris tidak ada perbedaan. Kata-kata “kembali ke laptop” yang sudah lama tidak terdengar masih menjadi trade mark Tukul “Aldi” Arwana. Bintang tamu pertama dalam acara “Bukan Empat Mata” ini adalah Sandra Dewi. Untuk menepis isu-isu mengenai Empat Mata, diawal acara dia menunjukkan “fotonya” bersama Tukul di Menara Eiffel Paris dan mengatakan bahwa selama sebulan ini dia bersama Tukul pergi bersama ke Paris, seolah-olah ingin menepis kabar buruk mengenai Empat Mata sebulan yang lalu.
Selamat berguyon-guyon ria bersama Empat Mata ditambah Bukan.
Senin, 01 Desember 2008
Kokoh di Puncak Klasemen

Malam terakhir di bulan November itu benar-benar memberikan inspirasi. Mario Teguh mengangkat tema “If tomorrow never comes” dan Metro Files mengangkat Panglima Besar Jenderal Soedirman. Sungguh anugerah yang tak terkira disuguhi motivasi dari Mario Teguh dan semangat perjuangan Pak Dirman.
Setelah melihat dua tayangan inspirasional itu, akhirnya pertandingan Inter Milan vs Napoli dimulai. Giornata yang berat bagi Inter Milan, mengingat prestasi Napoli yang sangat mengesankan sehingga berada di lima besar klasemen.
Pada pertandingan pekan ke-14, Minggu (30/11), I Nerazzurri mengalahkan Napoli 2-1.Inter unggul 2-0 lebih dulu lewat gol Ivan Cordoba pada menit ke-16 dan Sulley Muntari menit ke-24. Namun, Napoli mampu memperkecil kekalahan lewat Lavezzi menit ke-36. Dengan kemenangan itu, Inter Milan yang memimpin klasemen sudah mengantongi nilai 33. Sementara Inter unggul 6 poin atas Juventus dan AC Milan.
Juventus pada pertandingan pekan ini mengalahkan Reggina dengan skor telah 4-0, sedangkan AC Milan harus tunduk di kandang Palermo dengan skor 3-1. Juventus dan AC Milan berada di peringkat kedua dan ketiga dengan poin yang sama 27.
Perjuangan masih panjang, jalan menuju scudetto masih terjal. Masih tersisa 24 pertandingan lagi untuk sampai ke tangga juara di musim ini. Mengutip salah satu lagu yang sering dinyanyikan suporter Indonesia “Tunjukkan prestasimu, libaslah musuhmu, Inter Milan aku nang mburimu” (Lagu ini begitu akrab denganku manakala aku sering melihat pertandingan sepakbola di Stadion Manahan Solo, ketika itu Solo menjadi homebase beberapa klub seperti Pelita Solo, Persijatim Solo FC. Setelah kedua tim itu hengkang, tim asli dari Kota Bengawan menggunakan Stadion Manahan sebagai kandang mereka).
Minggu, 30 November 2008
Jelang Inter Milan Vs Napoli


Denpasar, 30 November 2008
Minggu yang sangat melelahkan kudu dilakoni Inter Milan. Setelah pekan lalu di Serie A Liga Italia harus menghadapi musuh bebuyutan, Juventus, dan di Liga Champion Eropa menghadapi Panathinaikos Yunani, pada pekan ke-14 ini Inter Milan harus menghadapi kuda hitam Napoli.
Di pentas Liga Champion Eropa, Inter Milan kalah di kandang sendiri dengan kemenangan 1-0. Akankah Inter Milan sanggup mempertahankan posisi di Puncak klasemen? Bersama menunggu aksi-aksi bintang Inter Milan yang diramu oleh pelatih Jose "The Special One " Mourinho.
Sabtu, 29 November 2008
Mengenang Keceriaan dan Kehampaan
DAN AMAT MERINDUKAN
SAAT DAUN – DAUN BETERBANGAN
JATUH BERSERAKAN
MENGAYUH LANGKAH – LANGKAH KEHIDUPAN
MENUJU GERBANG KEEMASAN
AKU AMAT MERINDUKAN
BERSAMA – SAMA MENCAPAI KEJAYAAN
MUNGKINKAH MASA LALU KEMBALI TERULANG?
KETIKA TERIK MENTARI MEMBAKAR KULIT
ANGIN PANAS MENIUP RAGA
DI TENGAH HATI YANG DINGIN TERTIUP CINTA
BERJALAN MENGELILINGI PUTARAN WAKTU
DALAM KEBISINGAN MASIH ADA KEHAMPAAN
DALAM KEHAMPAAN MASIH ADA KECERIAAN
TERASA SEMPURNA
Luapan Cinta
Terang kemilau
Cahaya terpendar
Dalam kalbu
Menerangi sudut demi sudut
Relung hati
Tiada yang ku damba
Selain dirimu
Peluk mesra dan cium Kekaguman itu
Mengobati hati ini
Yang selalu rindu
Perhiasan yang melekat Dalam jiwa
Senantiasa memberi Keindahan
Lihatlah daku dan dikau
Selalu bersama dalam Kemesraan
Membisikkan kata-kata cinta
Meneriakkan panji-panji cinta
Bersama bertolak menuju lautan
Yang terhampar seakan tiada bertepi
Dengarkan ombak telah berteriak
Memanggil-manggil
Mengajak bersama
Mengarungi samudera raya
Suara Nurani
Menyejukan hati
Membius setiap telinga
Yang terpampang mempesona
Lagu-lagu mengalun
Diiringi suara rintik hujan
Syair yang didendangkan
Menyayat kalbu
Mengiris sampai menusuk
Tulang raga ini
Nyanyian perdamaian bertalu-talu
Merinding bulu roma
Setiap kali memaknai syairnya
Jumat, 28 November 2008
(Masih) Menunggu Konsistensi Inter Milan
Minggu 23 November 2008 pukul 03.00 WIB, alarm ponselku berbunyi. Sengaja kupasang pada jam tersebut karena ingin melihat pertandingan big match Inter Milan vs Juventus di TV 7. Partai yang ditunggu-tunggu penggemar sepakbola terutama Liga Italia Serie A. Giornata ke-13 ini, Inter Milan akan menghadapi Si Nyonya Besar, Juventus.
Inter Milan sebagai pemuncak klasemen sementara harus berupaya keras untuk mempertahankan posisi dari pesaing-pesaing terdekatnyanya seperti AC Milan, Juventus, Napoli, Lazio dan Fiorentina. Persaingan yang ketat di papan atas klasemen ini menyebabkan Inter Milan waspada dengan Juventus.
Pertandingan pagi itu berjalan sangat ketat, silih berganti kedua kesebelasan menyerang dan bertahan. Setelah lama menunggu gol, Inter Milan akhirnya mencetaknya melalui Muntari. Hingga menit akhir, kedudukan 1-0 untuk kemenangan Inter Milan. Dengan nilai 30 hingga pekan ke-13 ini, Inter Milan masih kokoh di puncak klasemen. Di pertandingan lain, AC Milan bertanding lawan Torino dengan hasil seri 2-2. Dengan poin 27 yang dimiliki AC Milan di peringkat ke-2 (selisih 3 poin), menjadikan Inter Milan penguasa hingga pekan ini.
Pada pentas Serie-A, Inter Milan akhir-akhir ini memang merajai dengan menjadi juara 3 kali berturut-turut, sejak pelimpahan mahkota juara dari Juventus karena kasus calciopoli. Kasus tersebut akhirnya menyeret Juventus terlempar ke Serie B.
Kamis pagi 27 November 2008 waktu Indonesia, Inter Milan menghadapi Panathinaikos di ajang Liga Champion Eropa. Bertanding dengan klub asal Yunani tersebut, Inter Milan dijagokan akan menang, apa lagi bermain di Stadion Giuseppe Meazza, Milan. Namun, hasil pertandingan berkata lain. Setelah keasyikan menggempur pertahanan Panathinaikos melalui striker andalan Zlatan “Ibra Kadabra” Ibrahimovic dan Adriano, Inter Milan malah lengah dan akhirnya kebobolan satu gol di menit 69 oleh Jose Sarriegi.
Meski tetap lolos ke babak 16 “Knock Out“ Besar, hasil ini mengecewakan. Klasemen akhir apakah Inter Milan menjadi juara atau runner-up group B, akan ditentukan pada match day ke-6 Liga Champion, Inter Milan akan melawan Werder Bremen, sedangkan Panathinaikos akan menghadapi Anathosis.
Sebagai salah satu klub besar dengan pelatih yang paten, pemain berkelas dunia dan dukungan dana yang melimpah, konsistensi Inter Milan dalam setiap pertandiangan masih terus ditunggu. Namun, dengan berkaca pada filosofi kehidupan, tidak selamanya kemenangan ada ditangan, tidak selamanya kekalahan akan didapat, tidak mungkin menang terus, tidak mungkin kalah terus. Yang terpenting adalah lakukan yang terbaik dan bermain secara fair play. (Win)
Kamis, 27 November 2008
Makna 24

Selasa, 25 November 2007 pukul 23.50 WITA, terdengar suara ring tone ponselku, ada panggilan masuk. Aku yang sudah tertidur terbangun dan mengangkat panggilan tersebut. Ada yang mengucapakan selamat ulang tahun kepadaku. Hanya singkat dialog malam itu, kemudian aku tutup bermaksud ingin berdoa mengucap syukur dan ber-make a wish. Waktu menunjukkan pukul 00.00 WITA, pertanda sudah masuk hari Rabu 26 November 2008.
Di kamar aku bersama Sunny, sedang mengetik menggunakan laptop. Terlihat serius sekali. Aku beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar. Denpasar dingin dan mendung melingkupi kota ini sejak pagi. Duduk di teras sambil merenung sebentar. Pikiranku melayang dan membayangkan 24 tahun yang lalu di Dusun Benowo Wetan. Mak (panggilan untuk Ibuku) melahirkanku. Dan tanggal 26 November ini aku kini berumur 24 tahun.
Ulang tahun ke-24 ini sangat istimewa untukku. Untuk pertama kalinya, aku tidak ”merayakan” bersama keluarga di Benowo. Meskipun bukan dalam arti perayaan yang mewah, namun selama 23 tahun yang lalu aku mesti selalu berkumpul ketika tanggal 26 November. Itu yang penting dan selalu membuatku kangen bersama keluarga. Ulang tahun kali ini istiwewa, aku tidak bersama keluargaku.
Malam terus berjalan, mendekati pagi. Di teras rumah aku mengucapkan beberapa harapan-harapanku. Tanpa meniup lilin dan potong kue, aku berharap dapat membahagiakan keluargaku. Mereka telah banyak berkorban untukku, tidak ternilai harganya. Tanggal 25 November 2008, Bapak dan Mak menelponku, kangen. Aku katakan bahwa aku akan pulang pas libur Natal dan Tahun Baru. Aku pun sudah kangen dengan pecel bakmi Mak.
Aku juga ingin kuliah lagi. Bapak pernah mengatakan bahwa beliau hanya ”kuat” membiayai sampai S1 saja. Namun, pernah suatu saat mengatakan aku disuruh untuk kuliah S2. Entah uang darimana aku tidak tahu. Dalam hatiku, aku ingin melanjutkan kuliah dari usahaku sendiri, baik bekerja maupun mencari beasiswa. Aku telah memulainya dengan bekerja di Global Research and Intelligence Network. Sebuah awal yang bagus. Aku mulai menabung untuk melanjutkan studiku. Di samping itu, aku pun banyak memiliki kenalan dengan orang-orang luar negeri melalui perusahaan ini. Pengalaman yang sangat berharga.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 WITA. Aku kembali ke kamar. Terlihat Sunny masih serius mengetik. Aku berbaring untuk tidur, karna nanti jam 05.30 aku harus bangun. Rutin itu aku lakukan dengan dibantu alarm di ponsenku.
Meskipun hari ini ultahku, namun tidak ada yang istimewa. Semua berjalan seperti hari-hari biasa. Paling terima SMS berisi ucapan selamat. Atau dari comments/message friendster ucapan selamat ultah yang datang dari teman-teman. Pikiranku masih dengan harapan-harapanku semalam.
Siang hari di kantor, ada SMS masuk mengucapkan selamat ultah. Ada yang menulis ”tiup lilinnya......potong kuenya........”, beraneka ragam SMS masuk ke ponselku.
”Potong kue?”, kataku dalam hati
Sampai umur ke-24 ini, hanya sekali potong kue plus tiup lilin. Itupun hadiah dari kakak ponakanku. Bagiku bukan itu substansinya. Aku lebih suka melakukan perenungan dalam kesendirian. Tidak ada pesta, makan-makan, mentraktir teman pun tidak. Mentraktir kalau ada teman yang tahu kemudian mereka ”menodong” minta ditraktir.
Aku ingin menggapai setiap harapanku, dengan tetap ”ora et labora”. Selamat ulang tahun Winarto
Rabu, 26 November 2008
Peta Berjasa
Peta di samping adalah peta kota Denpasar. Peta tersebut dipasang di dinding kamar Agung. Aku juga menggunakan kamar itu. Hingga saat ini, aku masih sering melihat peta itu.Peta itu sudah berjasa selama aku di Bali.
Menolak UU Pornografi
(Foto oleh: Sunny Boy Batubara
Senin, 10 November 2008
(Bagian Empat: Habis) Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi: Jaga Dong Indonesia
Himbauan Bang Napi di atas menjadi sebuah refleksi yang mengingatkan kita untuk selalu waspada...waspada dan waspada sebab “bahaya” dapat mengancam sewaktu-waktu. Lihatlah, betapa sangat menyedihkan dan mengerikan kasus-kasus kriminalitas yang terjadi akhir-akhir ini dengan segala macam motif dan metode untuk melakukannya.
Tengoklah kasus mutilasi yang banyak terjadi di Indonesia, yang paling heboh akhir-akhir ini adalah kasus mutilasi yang dilakukan oleh Ryan. Belum selesai kasus itu diselidiki, Kepolisian Republik Indonesia disibukkan lagi dengan mutilasi di bus Mayasari. Kasus mutilasi juga terjadi di Denpasar, Bali.
Tidak hanya mutilasi, kasus-kasus kriminalitas mencuat ke permukaan dan pemberitaan mulai dari pencurian, perampokan, pemerkosaan, penculikan, perjudian, penjambretan, aborsi, narkoba serta kasus-kasus kriminalitas yang mengerikan lainnya. Inikah yang dimaksudkan dengan bangsa yang berkeTuhanan Yang Maha Esa dan Berkemanusiaan yang adil dan beradab? Amatlah disayangkan jika di tengah bangsa yang berketuhanan dan berkemanusian, namun tingkat kriminalitas yang terjadi juga meningkat.
Telah banyak korban yang berjatuhan akibat semakin tinggi angka kriminalitas. Mencermati berbagai peristiwa-peristiwa kriminalitas yang terjadi, banyak pelajaran yang dapat dipetik. Indonesia sebagai negara hukum yang berKetuhanan dan berperikemanusiaan perlu mawas diri dan berkaca. Aparat kepolisian tiap-hari terus disibukkan untuk mengungkap kasus-kasus kriminal yang terus mengalami peningkatan. Inikah pertanda idealisme bangsa tidak lagi tertanam dan dilaksanakan oleh anak-anak bangsa?
Menekan angka kriminalitas memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Jangan sampai Indonesia menjadi tidak aman dikarenakan oleh ulah anak bangsa sendiri. Ketakutan, trauma adalah bagian yang tidak terpisahkan dari korban kriminalitas maupun warga lainnya. Maka dari itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan lingkungan.
Tidakkah akan menjadi lebih harmonis, ketika kehidupan dipenuhi dengan sikap saling toleransi dan menghormati. Tidak jarang, kasus kriminal terjadi hanya dikarenakan oleh masalah-masalah yang sepele. Meskipun demikian, kewaspadaan terhadap segala macam tindakan kriminal yang mengancam kehidupan tetap diperlukan. Jaga keamanan Indonesia sehingga masyarakat akan dapat tenang manakala bekerja, anak-anak dapat konsentrasi untuk sekolah dan kehidupan masyarakat akan berjalan secara harmonis.
Dari bagian satu sampai empat ini, adalah sebuah kewajiban setiap warga negara untuk menjaga negara di mana mereka berdiam. Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi hanyalah sedikit penggambaran terhadap fenomena dan fakta yang terjadi di masyarakat Indonesia. Sudah menjadi kewajiban bagi kita semua menjaga Indonesia. Kalau bukan kita yang menjaga Indonesia, siapa lagi.