Tampilkan postingan dengan label Sosial Kemasyarakatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Kemasyarakatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2009

Dari Diskusi Santai di Taman 65

Kamis, 7 Mei 2009 pukul 13.14 WITA, sebuah email dikirim oleh Anton Muhajir ke milis Baliblogger. Ada undangan diskusi santai bareng Ariel Heryanto dan Gusti Agung Putri Astrid Kartika, Direktur non aktif Elsam Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat. Ariel dikenal sebagai salah satu akademisi yang memiliki banyak penelitian khususnya mengenai sejarah Indonesia. Sejak 2009 Ariel menjadi Head of the Southeast Asia Centre di Australian National University, setelah sebelumnya mengajar di Melbourne University.

Diskusi dilaksanakan di Taman 65, yang berlokasi di Jalan WR. Supratman 193 Kesiman Denpasar Timur. Diskusi santai, memang demikianlah yang diterjadi. Kalau di Solo, ingat dengan diskusi di angkringan yang di tayangankan oleh TA TV Solo. Relax. Hampir mirip-mirip suasananya. Meskipun demikian, topik yang diangkat dan alur pembicaraan menarik untuk diikuti.

Ternyata, diskusi santai ini adalah agenda rutin di Taman 65. Ketika membaca email yang masuk ke milis Baliblogger mengenai undangan diskusi itu, ada dua hal yang saling terkait yaitu tempat pelaksanaan dan topik yang diangkat. Tempat diskusi di Taman 65 dan topik diskusi mengenai Tragedi ’65. Wuidih, setelah 8 bulan di Denpasar, ternyata ada komunitas yang sering berkumpul di Taman 65, yang notabene adalah kumpulan “korban” tragedi tahun 65. Namun demikian, meskipun bernama Taman 65, tidak melulu membicarakan ’65. Itu diungkapkan oleh Agung Alit, salah satu convenor Taman 65. Pernyataan itu mematahkan perkiraanku bahwa Taman ’65 hanya melulu berbicara tragedi kelam bangsa Indonesia ini, kalau dilihat dari namanya. Di sana juga akan mudah ditemui lukisan-lukisan karya teman-teman di sana sebagai ungkapan hati atas kekejaman tragedi '65.

Lokasinya pun tidak jauh dari rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal ku, di tempat Agung. Kalau menggunakan istilah yang sering digunakan Agung, “cuma setimpukan batu”. Saat menerima email itu, aku langsung SMS Agung memberitahukan email itu, yang kebetulan beberapa waktu yang lalu, aku mengirim email ke Ariel mengenai buku yang ditulis Agung berjudul “Imu Ekonomi dan Kebebasan”. Sekalian reuni, maklum ketika berkuliah di Satya Wacana, nama Ariel Heryanto begitu popular, namun belum pernah bertemu. Saat yang tepat untuk bertemu Ariel yang lulus Sarjana Pendidikan tahun 1980 dari Satya Wacana itu.

Malam itu, dengan naik mobil Taft menuju Taman 65 Kesiman. Sudah ramai dengan peserta, tidak hanya dari orang Indonesia, namun terlihat beberapa orang asing hadir di Taman 65. Dijadwalkan diskusi mulai jam 19.30 WITA, namun akhirnya dimulai sekitar pukul 20.00 WITA.
Di luar dugaan, ternyata diskusi memang betul-betul santai. Boleh dikatakan hanyalah curhat atau sharing. Gung Tri (panggilan Gusti Agung Putri Astrid Kartika) memulai dengan sering pengalaman sekitar 10 menit. Bahkan setelah giliran Ariel berbicara, dia katakan bahwa sama sekali tidak mempersiapkan apa yang akan dibicarakan, tahunya hanya topik tentang tragedy ’65. Ketika Gung Tri berbicara, Ariel baru berpikir, apa yang harus dia bicarakan.

Point penting yang menarik dari diskusi tersebut adalah mengenai apakah peristiwa kelam itu harus dilupakan atau diingat, kalau dilupakan pada bagian apa dan apabila harus diingat, apa yang perlu diingat. Yah, tragedi yang masih menjadi misteri. Penuh dengan pembelokan alur cerita. Banyak “korban” dengan intensitas yang berbeda dari tragedy tersebut, baik korban meninggal, disiksa, penjara, korban dari pembelokan sejarah/berita dan korban-korban lainnya.

Pada bagian lain, meskipun terjadi pembelokan alur cerita, sejarah itu pasti akan terkuak meski memakan waktu yang tidak tahu kapan akan terjadi. Ada saja rintangan untuk mencapai ke tujuan tersebut hingga masih terbentur sana, terbentur sini. Sulit, namun tidak ada yang tidak mungkin. Syuting film “Lastri” yang beberapa waktu lalu akan dilaksanakan di Kota Solo, dihentikan setelah terjadi pro kontra terhadapnya. Meskipun hanya mengambil tema percintaan di masa tahun ’65, film tersebut dianggap tidak layak karena dianggap akan menyebarkan ajaran komunisme dan marxisme. Akan tetapi masih ada jalan mengungkap peristiwa itu, melalui bahasa tutur, tulisan-tulisan, penelitian hingga diskusi kecil seperti di Taman 65.

Memang pahit dan menggoreskan luka, manakala mengingat tragedi berdarah itu. Ketakutan, trauma akan sejarah yang berulang “dalam bentuk” lain, menginggapi kalangan masyarakat Indonesia. Sejarah tetaplah sejarah, kalaupun ada “pembelokan” atasnya suatu saat akan terkuak. Tragedi ’65 telah menjadi sejarah Indonesia. Kalau dipikir-pikir, tanpa tragedi itu mungkin bangsa Indonesia tidak akan seperti saat ini, entah saat ini itu suatu keadaan yang baik atau bobrok? Setidaknya itu yang dapat aku maknai sebagai salah satu korban langsung. Tanpa tragedi ’65 mungkin sejarah keluargaku tidak akan terjadi dan aku tidak dapat menulis cerita tak beraturan ini.

Senin, 30 Maret 2009

Earth, Oracle and Facebook Fever

Long time ago, people were difficult to know the information in the other region. Beside that, they’re not easy to move from one place to other place, for the reason that the distance, transportation and communication tools were not properly yet. It means, world as a super big ball and people only live also know on the tiny area. They can’t move from one place to other place easily, in addition they can’t long distance communication as well.


But, Jayabaya, has a prediction called “Jangka Jayabaya”. Some of them said that Bumi saya suwe saya mungkret” or in other word “the earth will shrink”. What does it mean? Or globe will get smaller? Our earth will reduce the size? Some people probably have presumed “yes, our earth will reduce”. What’s the fact? The number of population in our earth like the explosion of bomb, then the density of population becomes high. Next, probably our earth can’t be occupied by human being. Our globe will be seen smaller.


Kenichi Ohmae revealed about global village. In regard with “the earth will shrink”, how can create a global village? One of the important keys in the term of village is good communication, easy to communicate with other and easy to meet with other as well. Impossible, it can not be implemented in our earth. Perhaps, people thought it in the past, really impossible.


But, that presume has broken, while it need long processes. Radio created by Marconi, telephone created by Alexander Graham Bell, until the massive growth of computer technologies and internet connection in our world, the global village has taken off. People can communicate with other people in different countries using internet. They are also able to see the live events in other country, like sport events, news and other information, very fast and actual.


Beside that, people also can make a friendship with other people. There are some of famous social relationship network, such as Friendster, Facebook, etc. Many people join on there. But now, Facebook is very popular in the world. Isn’t it? They can meet others in Facebook, they can meet friends, new friends, native or foreigner people too.


Sometimes, they can meet or can be met by their friends in Facebook. Like myself, last week I added Sue Geldard Zrinski Eishauer. She said in my wall “Nice to make contact with you also. I was trying to figure out if I knew you but I don't think so. We are probably related in the Lord though”. Then, I said to her, “Hahaha, I think so that because of God we can meet. Facebook and Internet make everyone in the world can meet :-)”. She agreed with me about that.


Then, there are available some facilities or application which can express the user mood, hobbies and share some ideas/invitation etc. Every day, many people sign up and sign in on Facebook. Like a disease, Facebook fever has infectious people in around the world.


In other side, any people rejected to sign up or join in Facebook. Like Agung from Denpasar, he said that if join in Facebook or other social friendship network, many people very easy to find and meet him. Other people said that, it can consume lot money for internet bill.


Join or not join with Facebook or others, welcome to global village. Our earth will shrink because of the growth of information system and technologies.

Jumat, 27 Maret 2009

Reflection on Nyepi’s Observance: Bali Takes a Day Off

Bali, the Island of Gods, have a lot of special point of interest. Beautiful scenery, gorgeous beach also the Bali’s traditional customs drive people from domestic also foreign come to Bali. They want to see the piece of heaven as well. Bali Hinduism, as a majority religion in this island, approximately 90 percent of total population, influence on all aspect in the Bali’s society. They have various Hinduism ceremonies and holiday to commemorate particular occasion, like full moon, Galungan, Kuningan, Nyepi, Saraswati, PagerWesi and other rituals in Hinduism.

In March 2009, Bali celebrates 3 (three) important days for Bali Hinduism. There are Galungan, Nyepi dan Kuningan. In the same time, begin in the third week of March, that’s the campaign period for political parties, as a par of general election schedule. This is the special case for Bali. If in other regional, the campaign period was started in 16th of March, for Bali was begun on 20th March, after the Galungan celebration on 18th of March. Galungan means when the dharma is winning, against with adharma. Galungan occurs every 210 days and lasts for 10 days. Kuningan is the last day of the holiday. During Galungan day, gods visit the Earth and leave on Kuningan.

One week after Galungan, the other special day for Bali is Nyepi. Nyepi is the first calendar of Saka New Year. “Nyepi” in terminology, is adopted from “Sepi”, based on the Indonesian Dictionary, it means sunyi; lengang (read: quiet; lonely; silent). Then, what does it mean? Nyepi is time for quiet, time for silent; and then popular with the day of silent. In the Hinduism, they should do ritual which they called with “Catur Berata”; Amati Geni (No fire/light); Amati Karya (No working); Amati Lelunganan (No traveling); Amati Lelanguan (Fasting). That’s the principle in Hinduism. In spite of Nyepi is primarily a Hindu holiday, non-Hindu residents of Bali should observe the day of silence also.

As a consequently of Catur Berata, it should be observed by Bali’s society in particularly.
All activities will be stopped in 26th of March 2009 as Nyepi holiday to commemorate the Catur Berata and meditation. That’s very special day, because Bali will be taking day off, no surfing, no dugem, no party, no swimming, no light, no working, no traveling and no other activities like that.

One day before Nyepi holiday, Bali Hinduism do a unique ritual. This is the popular ritual on this island. It called “ogoh-ogoh statues”. It builds for Pangrupukan eve which takes place on the Nyepi Day. Ogoh-ogoh statues normally have form of mythological beings, mostly demons or monsters, but now ogoh-ogoh statues have various forms, like celebrities, boxer or other popular people. The main purpose of the making of Ogoh-ogoh is the purification of the natural environment of any spiritual pollutants emitted from the activities of living beings (especially humans).

Ogoh-ogoh statue is made by the people of banjar (read: village) around Bali. In Pangrupukan eve, usually they lift up the ogoh-ogoh statue, and then go around banjar. Like a parade, children sing various songs as well. Finally ogoh-ogoh is burnt to ashes in a cemetery as a symbol of self-purification, before enter the New Year.

This year, ogoh-ogoh parade got a ban from the local government. It is related on the political parties’ campaign period in the same time. Local government worries that it can make the local security become unstable because of two big activities in Bali; ogoh-ogoh festival and political parties campaign; will invite lot of people. In the Pangrupukan eve next year, ogoh-ogoh parade will be coming back again.

That is the regulation from Bali’s local government. But, ogoh-ogoh statue still can be found in there. Wednesday, 25th March 2009, on 08.40, Bali’s Local Time, the traffic jam was held in the Jalan Raya Kuta, Bali. People who passed in Jalan Raya Kuta were surprised. They can see some young man make an ogoh-ogoh, and put it in the road. In the afternoon, ogoh-ogoh statues also can be seen in the several streets in Denpasar, like Teuku Umar and Diponegoro Highway. The ogoh-ogoh parade also can be seen in some banjar in Denpasar as well.


The Value of Nyepi
Catur Berata in Nyepi Day has many values for our life. All activities should be stopped. One day without working, light, electricity also. As a tourism destination, Bali is very busy every day. Bali never sleeps, twenty four hour Bali hectic always. Numerous vehicles like motor cycle, bus, and car as well make the road in Bali crowded. Surely, they need fuel every day. Then, all activities can’t be rid of with electricity, included in Bali. People use electricity for the lamp, television, computer, refrigerator etc. The electricity needs the fuel too.

A lot of advantage can be reached from Nyepi Day.It is time for meditation, contemplation and reflection, what happen in the last year, and what should we do in the next year. Stop the daily activities, can save energy particularly in fuel, electricity also. Perusahaan Listrik Negara (State Electricity Firm) said that if in Nyepi Day, it can save energy approximately 3 billion (assumed US$ 1 equal Rp 12.000, 00), equivalent US$ 250.000. This is very fantastic. The spirit of Nyepi should be spread to the other region, because of the global crisis, particularly in energy crisis. Definitely, Nyepi in addition saving on the fuel, because all vehicles/ land, water, air transportation as well, should be stopped.

In line with that spirit, the famous program from WWF called Earth Hour. On 28th March 2009, this program will invite all people to join for switch off the electricity, precisely on 08.30 pm until 09.30 pm local time. This is a fantastic program also and should be campaigned to other people, in the target for save the energy.

Last but not least, the spirit of Catur Berata and Nyepi bring many benefit for our life; reflection, contemplation, saving the energy as well. It possibly will bring our life better.

Senin, 16 Maret 2009

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Penyakit Menular Seks

Bali, pulau dengan sejuta pesona, hingga banyak orang dari dalam maupun luar negeri ”tergoda” menikmati daya tariknya. Industri pariwisata berkembang, yang diikuti oleh usaha-usaha pengikut dan pendukungnya. Berbagai fasilitas dibangun dan dikembangkan untuk menyambut tamu-tamu wisatawan yang datang. Berbagai bidang pekerjaan pun tersedia di Pulau Dewata tersebut.


Meski demikian, kondisi tersebut pun membawa ”dampak buruk” bagi Bali. Industri prostitusi pun juga berkembang pesat di sana. Tentu, hal ini akan menjadi jalur yang akan menjadi media penularan dan penyebaran penyakit menular seks. Perilaku berganti-ganti pasangan disebut-sebut sebagai salah satu faktor penyebab penularan penyakit menular seks, selain ada faktor-faktor lain.


Penyakit menular seks atau dalam bahasa medis disebut sebagai STD (Sexually Transmitted Diseases) menjadi topik panas yang dibahas di masyarakat, terkhusus di Bali. Untuk di Bali, penularan penyakit menular seks menurut dr. Elly sangatlah cepat. Kasus-kasus yang terjadi selama ini penyakit tersebut ditularkan serta disebarkan melalui dunia prostitusi yang semakin luas, perilaku seks yang tidak aman dan sering berganti-ganti pasangan, arus keluar masuk penduduk yang tinggi dari dalam dan luar negeri dan praktik injeksi serta sterilisasi alat kedokteran yang belum memenuhi syarat seperti penggunaan jarum suntik bagi pecandu narkoba.


Masyarakat belum banyak yang paham tentang penyakit menular seks (PMS) ini, demikian dikatakan oleh dr. Elly menurut pengalamannya selama ini. Ia menyebutkan penyebab PMS yakni bakteri, virus, jamur, protozoa maupun ekstoparasit. Bakteri dapat menyebabkan penyakit kencing nanah dan sipilis (atau dikenal dengan raja singa). Virus menyebabkan penyakit HIV/AIDS, herpes genitalis, kutil kelamin dan hepititis B. Jamur dan protozoa mengakibatkan keputihan, ekstoparasit mengakibatkan gatal-gatal pada alat kelamin. Lebih lanjut, PMS yang disebabkan bakteri dan jamur dapat disembuhkan dengan antibiotik asal diketahui dan diobati sedini mungkin, sedangkan PMS karena virus sangat sulit diobati bahkan tidak dapat disembuhkan seperti HIV/AIDS.


Pengetahuan masyarakat yang masih minim akan apa itu PMS, bahaya yang ditimbulkan dan bagaimana memutus mata rantainya, disebut dr. Elly sebagai penyebab kasus ini akan tetap langgeng dan terus meluas, terutama yang ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak aman dan sering berganti-ganti pasangan. Oleh sebab itulah, dr. Elly menaruhkan perhatian khusus pada kampanye, sosialisasi dan edukasi ke masyarakat mengenai PMS melalui Elly Medical Service-nya ataupun ikut dalam program-program sejenis bersama-sama dengan rekan-rekan sejawatnya.


Dari pengalaman dr. Elly dalam pencegahan kasus PMS di Bali, perhatiannya saat ini dicurahkan pada pendekatan pada elemen masyarakat yang melakukan seks aktif dan berperilaku ganti-ganti pasangan, para Pekerja Seks Komersil misalnya, dikarenakan mata rantai penyebaran PMS sangat berpotensi melalui mereka. Tidak hanya mengedukasi dan memberikan pemahaman mengenai PMS, dr. Elly juga melakukan kerjasama dengan beberapa pihak untuk melakukan kampanye penggunaan dan pembagian kondom bagi mereka. Program tersebut telah dijalankan pada tempat-tempat yang berisiko terjadinya transaksi seks seperti lokalisasi, warung remang-remang dan tempat-tempat lain yang diduga rentan.


Menurut pengakuan dari beberapa pasiennya, pengetahuan akan penyakit menular seksual masih minim, juga dalam hal penggunaan kondom sebagai upaya pencegahan. Oleh sebab itulah, perlu lebih digalakkan lagi kampanye dan edukasi ke masyarakat. Dalam edukasi tersebut, disarankan bagi para pekerja seks komersil untuk selalu teratur memeriksakan diri dan menganjurkan penggunaan kondom untuk mencegah penularan penyakit.



Keprihatinan Pada Generasi Muda

Memutus mata rantai penyakit menular seksual tidak bisa dipisahkan dari generasi muda. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang demikan pesat ditunjang oleh rasa ingin tahu yang menggebu-gebu menjadikan kalangan generasi muda sebagai kelompok yang rentan terhadap penyebaran penyakit menular seks. Karena dorongan kedua hal tersebut, dapat menyebabkan terjadinya perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan, termasuk dalam seks bebas dan berganti-ganti pasangan.


Selain itu, generasi muda juga rawan dalam hal penggunaan narkoba. Dalam kaitannya dengan penyakit menular seks, pengguna narkoba dengan jarum suntik terutama, sangatlah mudah sebagai media penularan PMS. Hal tersebut dikarenakan biasanya pecandu narkoba menggunakan jarum suntik secara bergantian, padahal jarum suntik yang telah dipakai tersebut tidak aman dan tidak steril.


Arus migrasi baik wisatawan maupun tenaga kerja ke Bali, telah memengaruhi gaya hidup anak muda Bali. Sempat beberapa kali melihat 2 murid Sekolah Menengah Pertama berciuman bibir di pinggir jalan. Bahkan, dr. Elly pernah melihat adegan yang lebih panas dilakukan anak remaja di kolam renang. Sudah sejauh itu. Kalau di tempat umum mereka telah berbuat yang demikan,bukankah sangat mungkin mereka akan melakukan hal yang lebih? Beberapa waktu yang lalu pun, Bali digemparkan oleh video mesum yang dilakukan oleh anak muda yang juga marak di beberapa daerah di Indonesia.


Itu yang teridentifikasi, belum kasus-kasus yang belum terungkap, laksana gunung es. Untuk itulah dr. Elly terus berjuang untuk memberikan edukasi kepada generasi muda khususnya melalui gagasan pengenalan kurikulum reproduksi manusia, seksologi dan kontrasepsi di kalangan generasi muda. Meskipun masih sebatas gagasan, namun sejumlah kegiatan pengedukasian ke generasi muda pun telah dilakukan. Diharapkan, setelah memperoleh informasi seputaran reproduksi, seksologi dan kontrasepsi, kaum muda dapat berhati-hati dalam menjaga diri dan berperilaku sehat.


Proses Panjang

Menilik pada kegiatan-kegiatan edukasi yang dilakukan selama ini, dr. Elly mengakui bahwa butuh proses yang panjang dan dukungan dari segenap elemen pemerintah dan masyarakat. Para pekerja seks komersial, meskipun masih sangat kecil jumlahnya, yang dulu malu, takut untuk memeriksakan diri secara rutin dan tidak menggunakan kondom, telah mulai mengerti akan bahaya penyakit menular seks. Dikatakan dr. Elly, bahwa setelah diberi informasi mengenai hal tersebut, beberapa pekerja seks komersil menghubungi dr. Elly untuk sekedar berdiskusi, konsultasi ataupun memeriksakan diri.


Memutus mata rantai penularan penyakit menular seks itu perlu komitmen bersama. Komitmen untuk setia kepada pasangannya masing-masing, tidak berganti-ganti pasangan, menjauhi narkoba terutama narkoba suntik dan penting untuk selalu berhati-hati dalam pergaulan dan tindakan. Pernah ada satu kasus, secara tidak sengaja rekan sejawat dr. Elly terinfeksi virus HIV/AIDS. Jarum suntik yang digunakan untuk menyuntik pasiennya, secara tidak sengaja tertusuk. Ternyata, pasien tersebut mengidap HIV/AIDS. Akhirnya, teman dr. Elly ini pun tertular virus yang mematikan dan menjadi momok itu.


Janganlah ragu untuk memeriksakan diri, kalau memang telah terkena penyakit menular seks dapat segera dilakukan tindakan pengobatan. Kalau pun terpaksa harus melakukan aktivitas seks aktif dan berganti-ganti pasangan, lakukan secara aman dengan menggunakan kondom sebagai tindakan pencegah. Demikian, pesan yang disampaikan oleh dr. Elly.


Artikel ini juga dipublikasikan oleh Jangkang Research Institute. Klik disini

Jumat, 06 Maret 2009

Bercermin Pada Kehidupan

Orang bijak berkata bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun, berpijak dari pernyataan tersebut masih banyak yang tidak bisa memahami arti penting pengalaman, baik pengalaman dari diri sendiri maupun pengalaman dari pihak lain. Setiap kejadian, peristiwa tentu ada makna dibaliknya sebagai salah satu pelajaran yang berharga.

Adalah sebuah cermin. Ketika wajah seseorang di depannya, maka akan terpampanglah roman mukanya. Apabila sedang berias, diberikanlah kepadanya sebuah cermin. Bahkan seseorang pun bisa mengambil rambut ubannya dengan menggunakan cermin. Bawalah filosofi cermin untuk untuk berkaca tentang kehidupan.

Menyimak pemberitaan hangat di media massa saat ini, hampir tidak pernah putus pemberitaan mengenai bencana alam, kejahatan, masalah-masalah sosial hingga ontran-ontran di panggung politik. Peristiwa-peristiwa bila ditelisik akan menjadi cermin yang akan memaparkan potret kehidupan. Namun, ketika memandang potret itu, masing-masing memiliki argumennya masing-masing.

Catatan singkat mengenai dukun cilik, Ponari, dari Jombang. Bagaimana ribuan orang berduyun-duyun memadati rumah anak yang diakui memiliki “watu gledhek” yang sakti. Ada yang menyoroti karena berhubungan dengan biaya kesehatan yang yang tidak dijangkau masyarakat, ada yang mengatakan pengobatan Ponari itu sudah biasa dilakukan, dan berbagai pendapat lainnya. Bagi pemerintah, sepatutnya hal tersebut menjadi cermin, apakah memang biaya kesehatan itu ada masyarakat yang tidak bisa menjangkau.

Banyak pro dan kontra mengenai fenomena itu. Ketika ilmu dan praktek kedokteran telah dikenal oleh masyarakat, namun ternyata masih banyak orang yang secara tidak masuk akal meminum air mineral yang dicelup batu gledhek ataupun sumur di rumah Ponari. Adalah sebuah tantangan besar untuk mengedukasi masyarakat, siapa tahu malah air sumur itu penuh dengan bakteri yang mendatangkan penyakit. Tetapi, ada sebagian memang orang yang sakit menjadi sembuh karena tersugesti dengan meminum air rendaman itu. Namun yang pasti, fenomena itu menjadi sebuah cermin yang berharga.

Dalam ranah pendidikan, saat ini begitu deras di pemberitaan mengenai kasus kekerasaan yang dilakukan oleh siswa-siswa pada beberapa daerah. Kasus kekerasan yang direkam dalam melalui ponsel itu menampar sejumlah pihak. Satu kejadian di suatu daerah diikuti oleh siswa di daerah lainnya. Mungkinkah ini sebuah fenomena gunung es? Kejadian yang terlihat hanya sedikit yang terungkap namun masih menggunung kejadian lainnya yang belum kelihatan. Adakah yang salah dengan pendidikan di Indonesia sehingga siswa didiknya bertingkah layaknya preman jalanan? Bagaimana peran orang tua? Apa yang harus dilakukan untuk mencegah kejadian yang sama timbul kembali?

Tidak kalah pula fakta mengenai kasus aborsi yang terus terkuak, di Bali, di Jakarta ataupun di kota-kota lain di Indonesia, yang masih belum dikuak. Sangat mengerikan.

Kejadian-kejadian yang telah berlaku itu bisa digunakan sebagai cermin diri, apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki di kemudian hari. Apakah ini yang diramalkan oleh Jayabaya dalam “Ramalan Jayabaya”? Beberapa diantarantya menyataka: Lali kamanungsan---Lupa jati kemanusiaan; Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan; Kanca dadi mungsuh ---Kawan menjadi lawan; Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu; Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna; Akeh anak haram---Banyak anak haram.

Ataukan menurut memang "jamane jaman edan. sing ora melu edan ora keduman”. Meskipun demikian, “sak beja-bejane wong kang lali isih luwih beja wong kang eling lan waspodo". Kira-kira seperti itulah yang dikatakan oleh Ronggowarsito.

Kiranya kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini bisa menjadi cermin diri untuk kita semua.

Kamis, 12 Februari 2009

Andai di Dunia Kartun

Berita-berita di media massa baik cetak dan elektronik beberapa hari ini menampilkan sesuatu hal yang membuat hati miris. Serangan Israel di Jalur Gaza, bencana banjir di beberapa wilayah di Indonesia termasuk Semarang dan Jakarta, kebakaran semak dan hutan di Australia, demo yang berujung maut di Sumatera Utara hingga seabreg peristiwa lain baik bencana alam, kriminalitas maupun kecelakaan. Makin ngeri....

Fenomena dukun cilik, Ponari, di Jombang pun menyita perhatian publik tanah air. Ribuan orang berduyun-duyun datang meminta kesembuhan dari batu ajaib yang dimiliki Ponari dengan meminum air mineral setelah batu itu dicelupkan ke dalamnya. Namun sayang, praktek tersebut ditutup karena sang dukun kelelahan dan sakit. Kalau sang dukun cilik sakit, mengapa tidak mencelupkan batu miliknya itu ke air mineral dan kemudian meminumnya ya?

Jika ditanya, siapa yang mau mendapat sakit, kecelakaan, musibah ataupun bencana selama masih ada di dunia fana ini? Ah tidak usah terlalu memikirkan hal-hal seperti itu, kapan menimpa, kalau terjadi bagaimana dan perasaan ketakutan yang berlebihan lainnya. Orang Jawa bilang eling lan waspodo atau ada juga nasehat untuk selalu berjaga dan berdoa.

Masih ingat dengan film Space Jam? Ya, ketika kemampuan beberapa jagoan Basket NBA dicuri dan digunakan untuk bertanding melawan Looney Tunes, Bugs Bunny dan kawan-kawan? Michael Jordan pun diculik oleh Tunes dan kawan-kawan untuk membantu melawan. Sesuatu yang menarik adalah bagaimana jika manusia bisa seperti kartun-kartun itu? Diinjak sampai gepeng pun akhirnya bisa pulih dalam sepersekian detik, memegang bom atau granat yang hampir meledak dan akhirnya meledak pun bisa cepat kembali ke bentuk semula.

Masuk ke dunia khayal. Andai saja di dunia kartun, mungkin penduduk di Palestina tidak perlu banyak yang terbunuh atau kehilangan sanak saudara dan harta benda. Banjir di Semarang sana tidak perlu menghentikan roda perekonomian dan aktivitas lain ketika orang mampu menyedot bahkan meminumnya,hahahaha.

Mudah sekali berbicara layaknya seorang sutradara. Tapi itulah dunia kartun, dunia khayal. Dalam kisah perseteruan abadi Tom and Jerry, betapa seru dan menggemaskan pertempuran mereka berdua, bahkan kadang menggunakan granat, meriam, bom dan senjata-senjata lainnya. Toh ketika kena, eh bisa recovery secepat kilat dan semudah membalik telapak tangan. Hahahaha

Ingat juga dengan cerita Doraemon, yang mempunyai kantong ajaib, yang punya alat-alat “canggih” dari abad 22. Ada mesin waktu, pintu kemana saja, baling-baling bambu dan mungkin ratusan alat-alat canggih lain. Dunia kartun oh dunia kartun.

Tapi ingat, bahwa ini masih di dunia. Lahir, tumbuh dan berkembang, sakit, bencana, kecelakaan, bahagia hingga peperangan bisa mengancam umat manusia. Bukan di dunia kartun, dengan tangan bisa menahan granat, kalau pun meledak tidak akan mati. Atau bila terjadi tabrakan kereta versus kereta, tidak akan menelan korban jiwa. Belum ada mesin waktu maupun pintu kemana saja seperti punya Doraemon. Namun, kalau suatu saat nanti tercipta, apa yang akan terjadi ya?

Jumat, 12 Desember 2008

Dibalik Berita Pengumuman Orang (ter)Kaya di Indonesia

Denpasar, 12 Desember 2008


Media Indonesia Kamis, 11 Desember 2008 21:10 WIB, melansir berita mengenai 10 besar orang-orang terkaya di Indonesia, menurut majalah Forbes Asia. Menurut Media Indonesia, daftar orang terkaya di Indonesia berubah seiring dengan krisis perekonomian global dan Majalah Forbes Asia kini menempatkan Sukanto Tanoto sebagai orang terkaya di Indonesia, sedangkan Aburizal Bakrie yang tahun lalu di peringkat pertama menjadi ke sembilan.
Daftar orang kaya seluruhnya 40 orang akan dilaporkan Majalah Forbes Asia edisi 22 Desember. Berikut 10 besar orang terkaya di Indonesia menurut Majalah Forbes Asia:

  1. Sukanto Tanoto, 2 miliar dolar AS
  2. R. Budi Hartono, 1,72 miliar dolar AS
  3. Michael Hartono, 1,68 miliar dolar AS
  4. Putera Sampoerna, 1,5 miliar dolar AS
  5. Martua Sitorus, 1,3 miliar dolar AS
  6. Peter Sondakh, 1,05 miliar dolar AS
  7. Eddy William Katuari, 1,04 miliar dolar AS
  8. Eka Tjipta Widjaja, 950 juta dolar AS
  9. Aburizal Bakrie, 850 juta dolar AS
  10. Murdaya Poo, 825 juta dolar AS

Ketika berita dari Media Indonesia tersebut saya upload ke beberapa milis, ada beberapa komentar yang menarik. Wartawan Media Indonesia menulis dalam salah kalimatnya menyebutkan “Tahun sebelumnya Bakrie sebagai orang asli Indonesia pertama terkaya di negeri ini”. Kalimat tersebut bisa dimaknai bahwa hanya Bakrie sebagai orang pribumi asli dideretan nama-nama tersebut, sedangkan sisanya adalah warga negara keturunan.


Theo Litaay dalam komentarnya di milis mengatakan “Itu beritanya diskriminatif terhadap ras. Nggak benar itu wartawannya. Koq soal ras dijadikan dasar penulisan, yang penting kan mereka warga negara Indonesia. Kapan kita bisa maju kalau gini terus”.


Terkait dengan berita tersebut, seorang anggota Milis SMAGA-Surakarta membuat satu refleksi dari pengalamannya di SMU N 3 Surakarta yang notabene banyak murid dari etnis Tionghoa. Saya juga mengetahuinya dengan jelas karena alumni dari salah satu sekolah favorit di Kota Solo itu.


Berikut refleksi lengkapnya:


Ngono yo ngono, ning ojo ngono
Jumat, 12 Desember 2008


Di Solo, smaga merupakan satu-satunya (mungkin) smu negeri, yang paling banyak memiliki siswa yang berasal dari keturunan Tiong Hoa, diantara smu negeri yang lain. Kota Solo sendiri, oleh sebagian pengamat social, dijuluki sebagai kota yang bersumbu pendek, gampang meledak. Julukan ini, dilatarbelakangi oleh serangkaian kerusuhan rasial, yang pernah melanda kota tersebut. Sebagai sebuah kota yang dianggap sebagai pusat kebudayaan jawa, julukan sumbu pendek ini sangat bertolak belakang dengan kelemahlembutan masyarakatnya, maupun kehalusan tutur kata mereka. Penyebab kerusuhan social tersebut, sangat komplek. Salah satu biang keladinya adalah, berkembangnya pandangan negative di sebagian besar masyarakat jawa, atau yang dikenal sebagai sikap apriori, terhadap masyarakat keturunan Tionghoa.

Dahulu, saya juga pernah memiliki sikap apriori terhadap suku atau bangsa lain, utamanya, yang berasal dari keturunan Tiong Hoa. Saya memandang masyarakat keturunan Tionghoa, sebagai sebuah komunitas yang agresif dalam mencari rizqi, dengan, seringkali, mengabaikan etika bisnis, misalnya, saya menganggap bahwa, masyarakat tionghoalah yang menumbuhkan kultur suap menyuap di kalangan birokrasi. Kemudian, kesan eksklusif. Kesan ini menguat setelah saya menjalani pendidikan di smaga, dan melihat bahwa, sebagian besar teman-teman yang berasal dari keturunan tionghoa, memiliki kecenderungan untuk tidak berbaur ketika mereka bergaul. Kebetulan, teman-teman tionghoa ini, memiliki kemapanan ekonomi lebih dibanding teman-teman yang berasal dari suku yang lain. Ini semakin memperkuat kesan eksklusif tersebut. Saya juga meragukan kesetiaan masyarakat tionghoa terhadap Negara RI, karena melihat sebagian besar masyaratkatnya masih mempertahankan adat istiadat yang berasal dari negeri leluhurnya, Cina daratan. Juga, dalam sejarah pergerakan nasional, terutama pada fase perang kemerdekaan, hampir tidak ada tokoh yang berasal dari keturunan tionghoa. Lebih-lebih lagi, dengan peristiwa larinya pengusaha pengemplang BLBI ke Singapura, yang kebetulan keturunan tionghoa,

Pelan-pelan, seiring dengan berlalunya waktu, Alloh SWT mulai mendidik saya, meluruskan pandangan sempit saya, yang mungkin ada benarnya, tetapi juga sebagian besar, ternyata keliru. Belakangan, saya baru menyadari bahwa sikap saya, ternyata mengundang murka Alloh SWT, sebagai dzat yang menciptakan manusia, dengan berbagai suku bangsa, dengan maksud, untuk saling mengenal karakteristik masing-masing ciptaanNYA. Apriori terhadap ciptaanNYA, berarti juga apriori terhadap penciptanya. Saya sendiri, tidak bisa memilih, ketika Alloh SWT menakdirkan saya terlahir dari suku jawa. Semua suku bangsa, yang diciptakan Alloh SWT, memiliki karakteristik yang unik, plus maupun minus. Perilaku sebagian suku bangsa, tidak bisa digeneralisir sebagai perilaku suku bangsa tersebut seluruhnya, pars pra toto. Perilaku negative sebagian suku bangsa, dipengaruhi oleh banyak factor eksternal, dan bukan bawaan dari suku tersebut, kecuali, kita menuduh bahwa Alloh SWT jahat, menciptakan suku bangsa dengan kelemahan bawaan. Alangkah beraninya tuduhan tersebut. Ternyata, semua manusia berpotensi untuk menjadi chauvinis, narsis, tidak hanya masyarakat aria jerman, dengan nazinya, atau, yang sekarang sedang populer, kaum yahudi dengan gerakan zionismenya.

Yang paling penting di mata Alloh SWT adalah, jalan hidup yang dipilih oleh masing-masing manusia ciptaanNYA, yang terdiri dari berbagai suku bangsa, mulai dari yang bermata sipit sampai yang bermata melotot, mulai dari yang berkulit putih, sampai yang berkulit hitam. Seandainya manusia telah menjalani hidup di bawah langit sampai dengan usia 40 tahun, dan ternyata dia masih salah memilih jalan hidup, maka dia tidak boleh menyalahkan takdir. Empat puluh tahun di bawah langit adalah waktu yang cukup bagi manusia untuk mempelajari, menimbang, membandingkan, dan akhirnya, memilih jalan hidup terbaik guna menghabiskan sisa usia hidupnya.

Saatnya manusia meninggalkan sekat-sekat SARA. Ibarat Yamaha atau Honda, suku bangsa boleh berbeda, yang penting, ketika ditunggangi oleh valentine rossi (dulu), semua merk motor bisa menjadi juara. Tugas kita, mencari pembalap yang tepat, yang akan mengantar kita menjadi pemenang, di lintasan balap dunia yang hanya sebentar saja. Hidup yang singkat ini, ibarat kumpulan episode pagi dan sore hari, terlalu berharga bila hanya dihabiskan dalam sekat SARA..

Menarik mencermati kalimat terakhir. Senada dengan yang ditulis di atas, Tommy Bernadus dalam milis IKASATYA mengatakan “Memang di negara kita masih terjadi diskriminasi. Seorang Susi Susanti menangis ketika mendapat medali emas di olimpiade barcelona 1992. Dia tak sanggup menahan rasa haru ketika bendera merah putih dikibarkan.... Tapi rupanya dia masih WNA. Sekarang susi susanti dan elizabeth swan membuka namanya fontana, sport massage gitu. Susi susanti juga punya produk olaah raga terutama raket dan sepatu. Brandnya ASTech alias alan susi technology. Berapa pekerja yang mereka serap? Tapi kok masih diskriminatif.
Kasus wartawan Media Indo yang menulis Aburizal Bakrie pengusaha asli indonesia sebenarnya menunjukan bahwa masih ada diskriminasi”.

Sudah saatnya kotak-kotak itu ditinggalkan. Dewa 19 pun setuju akan hal itu, tercermin dari syair lagu “Indonesia Saja” dari album Laskar Cinta. Lirik tersebut menuliskan
Aku hanya merasa
Aku orang indonesia saja
Aku hanya merasa
Aku orang indonesia saja

Hananto anggota Milis SMAGA Surakarta mengutip pidato kemenangan Obama

"It's the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled - Americans who sent a message to the world that we have never been a collection of Red States and Blue States: we are, and always will be, the United States of America"


Jangan kalah dengan Ameika. Kita semua Indonesia yang Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia, Berbangsa Satu Bangsa Indonesia dan Berbahasa Satu Bahasa Indonesia.