Jumat, 12 Desember 2008

Dibalik Berita Pengumuman Orang (ter)Kaya di Indonesia

Denpasar, 12 Desember 2008


Media Indonesia Kamis, 11 Desember 2008 21:10 WIB, melansir berita mengenai 10 besar orang-orang terkaya di Indonesia, menurut majalah Forbes Asia. Menurut Media Indonesia, daftar orang terkaya di Indonesia berubah seiring dengan krisis perekonomian global dan Majalah Forbes Asia kini menempatkan Sukanto Tanoto sebagai orang terkaya di Indonesia, sedangkan Aburizal Bakrie yang tahun lalu di peringkat pertama menjadi ke sembilan.
Daftar orang kaya seluruhnya 40 orang akan dilaporkan Majalah Forbes Asia edisi 22 Desember. Berikut 10 besar orang terkaya di Indonesia menurut Majalah Forbes Asia:

  1. Sukanto Tanoto, 2 miliar dolar AS
  2. R. Budi Hartono, 1,72 miliar dolar AS
  3. Michael Hartono, 1,68 miliar dolar AS
  4. Putera Sampoerna, 1,5 miliar dolar AS
  5. Martua Sitorus, 1,3 miliar dolar AS
  6. Peter Sondakh, 1,05 miliar dolar AS
  7. Eddy William Katuari, 1,04 miliar dolar AS
  8. Eka Tjipta Widjaja, 950 juta dolar AS
  9. Aburizal Bakrie, 850 juta dolar AS
  10. Murdaya Poo, 825 juta dolar AS

Ketika berita dari Media Indonesia tersebut saya upload ke beberapa milis, ada beberapa komentar yang menarik. Wartawan Media Indonesia menulis dalam salah kalimatnya menyebutkan “Tahun sebelumnya Bakrie sebagai orang asli Indonesia pertama terkaya di negeri ini”. Kalimat tersebut bisa dimaknai bahwa hanya Bakrie sebagai orang pribumi asli dideretan nama-nama tersebut, sedangkan sisanya adalah warga negara keturunan.


Theo Litaay dalam komentarnya di milis mengatakan “Itu beritanya diskriminatif terhadap ras. Nggak benar itu wartawannya. Koq soal ras dijadikan dasar penulisan, yang penting kan mereka warga negara Indonesia. Kapan kita bisa maju kalau gini terus”.


Terkait dengan berita tersebut, seorang anggota Milis SMAGA-Surakarta membuat satu refleksi dari pengalamannya di SMU N 3 Surakarta yang notabene banyak murid dari etnis Tionghoa. Saya juga mengetahuinya dengan jelas karena alumni dari salah satu sekolah favorit di Kota Solo itu.


Berikut refleksi lengkapnya:


Ngono yo ngono, ning ojo ngono
Jumat, 12 Desember 2008


Di Solo, smaga merupakan satu-satunya (mungkin) smu negeri, yang paling banyak memiliki siswa yang berasal dari keturunan Tiong Hoa, diantara smu negeri yang lain. Kota Solo sendiri, oleh sebagian pengamat social, dijuluki sebagai kota yang bersumbu pendek, gampang meledak. Julukan ini, dilatarbelakangi oleh serangkaian kerusuhan rasial, yang pernah melanda kota tersebut. Sebagai sebuah kota yang dianggap sebagai pusat kebudayaan jawa, julukan sumbu pendek ini sangat bertolak belakang dengan kelemahlembutan masyarakatnya, maupun kehalusan tutur kata mereka. Penyebab kerusuhan social tersebut, sangat komplek. Salah satu biang keladinya adalah, berkembangnya pandangan negative di sebagian besar masyarakat jawa, atau yang dikenal sebagai sikap apriori, terhadap masyarakat keturunan Tionghoa.

Dahulu, saya juga pernah memiliki sikap apriori terhadap suku atau bangsa lain, utamanya, yang berasal dari keturunan Tiong Hoa. Saya memandang masyarakat keturunan Tionghoa, sebagai sebuah komunitas yang agresif dalam mencari rizqi, dengan, seringkali, mengabaikan etika bisnis, misalnya, saya menganggap bahwa, masyarakat tionghoalah yang menumbuhkan kultur suap menyuap di kalangan birokrasi. Kemudian, kesan eksklusif. Kesan ini menguat setelah saya menjalani pendidikan di smaga, dan melihat bahwa, sebagian besar teman-teman yang berasal dari keturunan tionghoa, memiliki kecenderungan untuk tidak berbaur ketika mereka bergaul. Kebetulan, teman-teman tionghoa ini, memiliki kemapanan ekonomi lebih dibanding teman-teman yang berasal dari suku yang lain. Ini semakin memperkuat kesan eksklusif tersebut. Saya juga meragukan kesetiaan masyarakat tionghoa terhadap Negara RI, karena melihat sebagian besar masyaratkatnya masih mempertahankan adat istiadat yang berasal dari negeri leluhurnya, Cina daratan. Juga, dalam sejarah pergerakan nasional, terutama pada fase perang kemerdekaan, hampir tidak ada tokoh yang berasal dari keturunan tionghoa. Lebih-lebih lagi, dengan peristiwa larinya pengusaha pengemplang BLBI ke Singapura, yang kebetulan keturunan tionghoa,

Pelan-pelan, seiring dengan berlalunya waktu, Alloh SWT mulai mendidik saya, meluruskan pandangan sempit saya, yang mungkin ada benarnya, tetapi juga sebagian besar, ternyata keliru. Belakangan, saya baru menyadari bahwa sikap saya, ternyata mengundang murka Alloh SWT, sebagai dzat yang menciptakan manusia, dengan berbagai suku bangsa, dengan maksud, untuk saling mengenal karakteristik masing-masing ciptaanNYA. Apriori terhadap ciptaanNYA, berarti juga apriori terhadap penciptanya. Saya sendiri, tidak bisa memilih, ketika Alloh SWT menakdirkan saya terlahir dari suku jawa. Semua suku bangsa, yang diciptakan Alloh SWT, memiliki karakteristik yang unik, plus maupun minus. Perilaku sebagian suku bangsa, tidak bisa digeneralisir sebagai perilaku suku bangsa tersebut seluruhnya, pars pra toto. Perilaku negative sebagian suku bangsa, dipengaruhi oleh banyak factor eksternal, dan bukan bawaan dari suku tersebut, kecuali, kita menuduh bahwa Alloh SWT jahat, menciptakan suku bangsa dengan kelemahan bawaan. Alangkah beraninya tuduhan tersebut. Ternyata, semua manusia berpotensi untuk menjadi chauvinis, narsis, tidak hanya masyarakat aria jerman, dengan nazinya, atau, yang sekarang sedang populer, kaum yahudi dengan gerakan zionismenya.

Yang paling penting di mata Alloh SWT adalah, jalan hidup yang dipilih oleh masing-masing manusia ciptaanNYA, yang terdiri dari berbagai suku bangsa, mulai dari yang bermata sipit sampai yang bermata melotot, mulai dari yang berkulit putih, sampai yang berkulit hitam. Seandainya manusia telah menjalani hidup di bawah langit sampai dengan usia 40 tahun, dan ternyata dia masih salah memilih jalan hidup, maka dia tidak boleh menyalahkan takdir. Empat puluh tahun di bawah langit adalah waktu yang cukup bagi manusia untuk mempelajari, menimbang, membandingkan, dan akhirnya, memilih jalan hidup terbaik guna menghabiskan sisa usia hidupnya.

Saatnya manusia meninggalkan sekat-sekat SARA. Ibarat Yamaha atau Honda, suku bangsa boleh berbeda, yang penting, ketika ditunggangi oleh valentine rossi (dulu), semua merk motor bisa menjadi juara. Tugas kita, mencari pembalap yang tepat, yang akan mengantar kita menjadi pemenang, di lintasan balap dunia yang hanya sebentar saja. Hidup yang singkat ini, ibarat kumpulan episode pagi dan sore hari, terlalu berharga bila hanya dihabiskan dalam sekat SARA..

Menarik mencermati kalimat terakhir. Senada dengan yang ditulis di atas, Tommy Bernadus dalam milis IKASATYA mengatakan “Memang di negara kita masih terjadi diskriminasi. Seorang Susi Susanti menangis ketika mendapat medali emas di olimpiade barcelona 1992. Dia tak sanggup menahan rasa haru ketika bendera merah putih dikibarkan.... Tapi rupanya dia masih WNA. Sekarang susi susanti dan elizabeth swan membuka namanya fontana, sport massage gitu. Susi susanti juga punya produk olaah raga terutama raket dan sepatu. Brandnya ASTech alias alan susi technology. Berapa pekerja yang mereka serap? Tapi kok masih diskriminatif.
Kasus wartawan Media Indo yang menulis Aburizal Bakrie pengusaha asli indonesia sebenarnya menunjukan bahwa masih ada diskriminasi”.

Sudah saatnya kotak-kotak itu ditinggalkan. Dewa 19 pun setuju akan hal itu, tercermin dari syair lagu “Indonesia Saja” dari album Laskar Cinta. Lirik tersebut menuliskan
Aku hanya merasa
Aku orang indonesia saja
Aku hanya merasa
Aku orang indonesia saja

Hananto anggota Milis SMAGA Surakarta mengutip pidato kemenangan Obama

"It's the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled - Americans who sent a message to the world that we have never been a collection of Red States and Blue States: we are, and always will be, the United States of America"


Jangan kalah dengan Ameika. Kita semua Indonesia yang Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia, Berbangsa Satu Bangsa Indonesia dan Berbahasa Satu Bahasa Indonesia.