Jumat, 17 April 2009
Sosok Dahsyat Tung Desem Waringin
Rekans alumni SMA 3, tahukah teman-teman bahwa Tung Desem Waringin (TDW) merupakan alumni sekolah dengan motto ”Widya Karma Jaya” itu? Ya, kalaupun belum banyak yang tahu, informasi ini tentu akan sedikit membuka wacana teman-teman mengenai Tung Desem Waringin. Pria kelahiran Solo, 22 Desember 1967 ini pernah menempuh pendidikan di SMP Bintang Laut Solo. Setelah lulus SMP, TDW melanjutkan pendidikan ke SMA NEGERI 3 Solo. Melanjutkan kuliah S1 di Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret Solo, TDW merupakan mahasiswa teladan yang berhasil menjadi juara lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional, juara cepat tepat P4 tingkat Propinsi Jawa Tengah serta prestasi-prestasi lainnya).
Prestasi tersebut tidak terhenti begitu saja. Tung Desem Waringin adalah Pelatih Sukses No. 1 di Indonesia (Majalah Marketing) dan masuk dalam salah satu tokoh The Most Powerful People & Ideas in Business 2005 (Majalah SWA). Sebagai pembicara, Tung Desem Waringin telah berbicara lebih dari 100,000 orang di Dunia.
TDW pernah berkarir di BCA pada Agustus 1992- Mei 2000, dari Lulusan Terbaik Management Development Program BCA sampai menjadi Pemimpin Cabang Utama BCA Borobudur Malang dengan catatan prestasi sebagai berikut:
1. Mengubah hasil audit dari terjelek seluruh Indonesia menjadi terbaik seluruh Indonesia di BCA Surabaya 1994, BCA Semarang 1995, BCA Malang 1997.
2. Meningkatkan pertumbuhan pemegang kartu ATM BCA di BCA Malang, dari no 7 se-Indonesia menjadi nomer 1 Se-Indonesia.
3. Menang Kliring dan Pulih pertama sejak di BCA di rush di bulan Mei 1998.
4. Tingkat mati mesin ATM terendah seluruh Indonesia selama 5 bulan berturut Januari-Mei 2000.
5. Pertumbuhan Kartu Kredit terbesar seluruh Indonesia April- Mei 2000.
Pada Juni 2000- Februari 2001, TDW bekerja sebagai Senior Vice President Marketing & Customer Care di LippoShop dengan catatan prestasi yang cukup gemilang pula, yaitu satu hari marketing, memenuhi order sebulan dan sejak menangani Customer Care Desember 2000-Januari 2001 semua komplain tertangani dengan baik. LippoShop tidak pernah di komplain masuk koran lagi.
TDW kemudian terkenal sebagai seorang konsultan/trainer terkemuka. Sebagai konsultan perusahaan, TDW berhasil meningkatkan pendapatan dari sebuah Media Iklan Gratis di Jakarta sebesar 16 kali lipat dalam waktu 1 bulan. Meningkatkan 100% penjualan di "MANET" Toko Busana Muslim di Tanah Abang. Meningkatkan 100% Aset Bank Lestari di Jl. Teuku Umar 121 Denpasar Bali & 2000% kredit sepeda motornya di Bali. Lebih lanjut, berhasil meningkatkan penjualan rata-rata sebesar 40% dari total 9.800 Sales dari Columbia Elektronik dan Furnitur, hanya dalam sebulan setelah training dilakukan. Sales shampoo Selsun naik 200%. Membuat Perusahaan Properti Coldwell Banker Sigit Tangerang Menjadi Top Office selama 3 Bulan berturut - turut, penjualan di Millenium Handphone & Accessories naik 500%. Meningkatkan penjualan Gapura Prima Group (The Bellezza, Bellagio) 400% hanya dalam waktu 1 bulan setelah training dilakukan.
Sebagai Konsultan pribadi, TDW membantu merubah orang menjadi percaya diri, menyembuhkan orang trauma, phobia, bulimia, menghentikan kebiasaan merokok, membantu orang gemuk menjadi langsing, membuat breakthrough sukses mulai dari anak petani sampai anak mantan Presiden Indonesia, dari lulusan SD sampai lulusan Doktor, juga Top Eksekutif dan Selebritis. Untuk hal ini TDW ditempatkan di peringkat tertinggi di Majalah Pilar Bisnis edisi November 2002 sebagai ”Pelatih yang mampu merubah CEO atau Top Eksekutif menjadi Lebih Hebat lagi”.
Penghargaan lain diperoleh TDW dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada Oktober 2005. TDW mampu memecahkan rekor MURI untuk Penjualan buku “Financial Revolution” Yang mencapai 10.511 eksemplar di hari pertama secara retail. Tidak berhenti disana, pada Juli 2008, TDW tercatat di MURI untuk ”Buku Terlaris di Indonesia yang Laku 38.878 Buku di Hari Pertama Peredarannya”; ”Buku Marketing Pertama di Dunia yang Waktu Launching Diliput Lebih dari 125 Mass Media dari Lima Benua secara gratis”; ”Buku yang di Launching dengan Cara Terunik di Dunia melalui Hujan Uang”; serta ”Buku Pertama di Dunia yang Punya Nilai Tambah 5 CD Audio + 2 Tiket Seminar 3 Hari”.
(Dikumpulkan dari berbagai macam sumber)
Dipublikasikan di www.wikarya.org, situs alumni SMA 3 Surakarta
Senin, 16 Maret 2009
Kunci Utama Memutus Mata Rantai Penyakit Menular Seks
Bali, pulau dengan sejuta pesona, hingga banyak orang dari dalam maupun luar negeri ”tergoda” menikmati daya tariknya. Industri pariwisata berkembang, yang diikuti oleh usaha-usaha pengikut dan pendukungnya. Berbagai fasilitas dibangun dan dikembangkan untuk menyambut tamu-tamu wisatawan yang datang. Berbagai bidang pekerjaan pun tersedia di Pulau Dewata tersebut.
Penyakit menular seks atau dalam bahasa medis disebut sebagai STD (Sexually Transmitted Diseases) menjadi topik panas yang dibahas di masyarakat, terkhusus di Bali. Untuk di Bali, penularan penyakit menular seks menurut dr. Elly sangatlah cepat. Kasus-kasus yang terjadi selama ini penyakit tersebut ditularkan serta disebarkan melalui dunia prostitusi yang semakin luas, perilaku seks yang tidak aman dan sering berganti-ganti pasangan, arus keluar masuk penduduk yang tinggi dari dalam dan luar negeri dan praktik injeksi serta sterilisasi alat kedokteran yang belum memenuhi syarat seperti penggunaan jarum suntik bagi pecandu narkoba.
Masyarakat belum banyak yang paham tentang penyakit menular seks (PMS) ini, demikian dikatakan oleh dr. Elly menurut pengalamannya selama ini. Ia menyebutkan penyebab PMS yakni bakteri, virus, jamur, protozoa maupun ekstoparasit. Bakteri dapat menyebabkan penyakit kencing nanah dan sipilis (atau dikenal dengan raja singa). Virus menyebabkan penyakit HIV/AIDS, herpes genitalis, kutil kelamin dan hepititis B. Jamur dan protozoa mengakibatkan keputihan, ekstoparasit mengakibatkan gatal-gatal pada alat kelamin. Lebih lanjut, PMS yang disebabkan bakteri dan jamur dapat disembuhkan dengan antibiotik asal diketahui dan diobati sedini mungkin, sedangkan PMS karena virus sangat sulit diobati bahkan tidak dapat disembuhkan seperti HIV/AIDS.
Pengetahuan masyarakat yang masih minim akan apa itu PMS, bahaya yang ditimbulkan dan bagaimana memutus mata rantainya, disebut dr. Elly sebagai penyebab kasus ini akan tetap langgeng dan terus meluas, terutama yang ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak aman dan sering berganti-ganti pasangan. Oleh sebab itulah, dr. Elly menaruhkan perhatian khusus pada kampanye, sosialisasi dan edukasi ke masyarakat mengenai PMS melalui Elly Medical Service-nya ataupun ikut dalam program-program sejenis bersama-sama dengan rekan-rekan sejawatnya.
Dari pengalaman dr. Elly dalam pencegahan kasus PMS di Bali, perhatiannya saat ini dicurahkan pada pendekatan pada elemen masyarakat yang melakukan seks aktif dan berperilaku ganti-ganti pasangan, para Pekerja Seks Komersil misalnya, dikarenakan mata rantai penyebaran PMS sangat berpotensi melalui mereka. Tidak hanya mengedukasi dan memberikan pemahaman mengenai PMS, dr. Elly juga melakukan kerjasama dengan beberapa pihak untuk melakukan kampanye penggunaan dan pembagian kondom bagi mereka. Program tersebut telah dijalankan pada tempat-tempat yang berisiko terjadinya transaksi seks seperti lokalisasi, warung remang-remang dan tempat-tempat lain yang diduga rentan.
Menurut pengakuan dari beberapa pasiennya, pengetahuan akan penyakit menular seksual masih minim, juga dalam hal penggunaan kondom sebagai upaya pencegahan. Oleh sebab itulah, perlu lebih digalakkan lagi kampanye dan edukasi ke masyarakat. Dalam edukasi tersebut, disarankan bagi para pekerja seks komersil untuk selalu teratur memeriksakan diri dan menganjurkan penggunaan kondom untuk mencegah penularan penyakit.
Memutus mata rantai penyakit menular seksual tidak bisa dipisahkan dari generasi muda. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang demikan pesat ditunjang oleh rasa ingin tahu yang menggebu-gebu menjadikan kalangan generasi muda sebagai kelompok yang rentan terhadap penyebaran penyakit menular seks. Karena dorongan kedua hal tersebut, dapat menyebabkan terjadinya perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan, termasuk dalam seks bebas dan berganti-ganti pasangan.
Selain itu, generasi muda juga rawan dalam hal penggunaan narkoba. Dalam kaitannya dengan penyakit menular seks, pengguna narkoba dengan jarum suntik terutama, sangatlah mudah sebagai media penularan PMS. Hal tersebut dikarenakan biasanya pecandu narkoba menggunakan jarum suntik secara bergantian, padahal jarum suntik yang telah dipakai tersebut tidak aman dan tidak steril.
Arus migrasi baik wisatawan maupun tenaga kerja ke Bali, telah memengaruhi gaya hidup anak muda Bali. Sempat beberapa kali melihat 2 murid Sekolah Menengah Pertama berciuman bibir di pinggir jalan. Bahkan, dr. Elly pernah melihat adegan yang lebih panas dilakukan anak remaja di kolam renang. Sudah sejauh itu. Kalau di tempat umum mereka telah berbuat yang demikan,bukankah sangat mungkin mereka akan melakukan hal yang lebih? Beberapa waktu yang lalu pun, Bali digemparkan oleh video mesum yang dilakukan oleh anak muda yang juga marak di beberapa daerah di Indonesia.
Itu yang teridentifikasi, belum kasus-kasus yang belum terungkap, laksana gunung es. Untuk itulah dr. Elly terus berjuang untuk memberikan edukasi kepada generasi muda khususnya melalui gagasan pengenalan kurikulum reproduksi manusia, seksologi dan kontrasepsi di kalangan generasi muda. Meskipun masih sebatas gagasan, namun sejumlah kegiatan pengedukasian ke generasi muda pun telah dilakukan. Diharapkan, setelah memperoleh informasi seputaran reproduksi, seksologi dan kontrasepsi, kaum muda dapat berhati-hati dalam menjaga diri dan berperilaku sehat.
Proses Panjang
Menilik pada kegiatan-kegiatan edukasi yang dilakukan selama ini, dr. Elly mengakui bahwa butuh proses yang panjang dan dukungan dari segenap elemen pemerintah dan masyarakat. Para pekerja seks komersial, meskipun masih sangat kecil jumlahnya, yang dulu malu, takut untuk memeriksakan diri secara rutin dan tidak menggunakan kondom, telah mulai mengerti akan bahaya penyakit menular seks. Dikatakan dr. Elly, bahwa setelah diberi informasi mengenai hal tersebut, beberapa pekerja seks komersil menghubungi dr. Elly untuk sekedar berdiskusi, konsultasi ataupun memeriksakan diri.
Memutus mata rantai penularan penyakit menular seks itu perlu komitmen bersama. Komitmen untuk setia kepada pasangannya masing-masing, tidak berganti-ganti pasangan, menjauhi narkoba terutama narkoba suntik dan penting untuk selalu berhati-hati dalam pergaulan dan tindakan. Pernah ada satu kasus, secara tidak sengaja rekan sejawat dr. Elly terinfeksi virus HIV/AIDS. Jarum suntik yang digunakan untuk menyuntik pasiennya, secara tidak sengaja tertusuk. Ternyata, pasien tersebut mengidap HIV/AIDS. Akhirnya, teman dr. Elly ini pun tertular virus yang mematikan dan menjadi momok itu.
Janganlah ragu untuk memeriksakan diri, kalau memang telah terkena penyakit menular seks dapat segera dilakukan tindakan pengobatan. Kalau pun terpaksa harus melakukan aktivitas seks aktif dan berganti-ganti pasangan, lakukan secara aman dengan menggunakan kondom sebagai tindakan pencegah. Demikian, pesan yang disampaikan oleh dr. Elly.
Artikel ini juga dipublikasikan oleh Jangkang Research Institute. Klik disini
Jumat, 06 Maret 2009
Bercermin Pada Kehidupan
Orang bijak berkata bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun, berpijak dari pernyataan tersebut masih banyak yang tidak bisa memahami arti penting pengalaman, baik pengalaman dari diri sendiri maupun pengalaman dari pihak lain. Setiap kejadian, peristiwa tentu ada makna dibaliknya sebagai salah satu pelajaran yang berharga.
Adalah sebuah cermin. Ketika wajah seseorang di depannya, maka akan terpampanglah roman mukanya. Apabila sedang berias, diberikanlah kepadanya sebuah cermin. Bahkan seseorang pun bisa mengambil rambut ubannya dengan menggunakan cermin. Bawalah filosofi cermin untuk untuk berkaca tentang kehidupan.
Menyimak pemberitaan hangat di media massa saat ini, hampir tidak pernah putus pemberitaan mengenai bencana alam, kejahatan, masalah-masalah sosial hingga ontran-ontran di panggung politik. Peristiwa-peristiwa bila ditelisik akan menjadi cermin yang akan memaparkan potret kehidupan. Namun, ketika memandang potret itu, masing-masing memiliki argumennya masing-masing.
Catatan singkat mengenai dukun cilik, Ponari, dari Jombang. Bagaimana ribuan orang berduyun-duyun memadati rumah anak yang diakui memiliki “watu gledhek” yang sakti. Ada yang menyoroti karena berhubungan dengan biaya kesehatan yang yang tidak dijangkau masyarakat, ada yang mengatakan pengobatan Ponari itu sudah biasa dilakukan, dan berbagai pendapat lainnya. Bagi pemerintah, sepatutnya hal tersebut menjadi cermin, apakah memang biaya kesehatan itu ada masyarakat yang tidak bisa menjangkau.
Banyak pro dan kontra mengenai fenomena itu. Ketika ilmu dan praktek kedokteran telah dikenal oleh masyarakat, namun ternyata masih banyak orang yang secara tidak masuk akal meminum air mineral yang dicelup batu gledhek ataupun sumur di rumah Ponari. Adalah sebuah tantangan besar untuk mengedukasi masyarakat, siapa tahu malah air sumur itu penuh dengan bakteri yang mendatangkan penyakit. Tetapi, ada sebagian memang orang yang sakit menjadi sembuh karena tersugesti dengan meminum air rendaman itu. Namun yang pasti, fenomena itu menjadi sebuah cermin yang berharga.
Dalam ranah pendidikan, saat ini begitu deras di pemberitaan mengenai kasus kekerasaan yang dilakukan oleh siswa-siswa pada beberapa daerah. Kasus kekerasan yang direkam dalam melalui ponsel itu menampar sejumlah pihak. Satu kejadian di suatu daerah diikuti oleh siswa di daerah lainnya. Mungkinkah ini sebuah fenomena gunung es? Kejadian yang terlihat hanya sedikit yang terungkap namun masih menggunung kejadian lainnya yang belum kelihatan. Adakah yang salah dengan pendidikan di Indonesia sehingga siswa didiknya bertingkah layaknya preman jalanan? Bagaimana peran orang tua? Apa yang harus dilakukan untuk mencegah kejadian yang sama timbul kembali?
Tidak kalah pula fakta mengenai kasus aborsi yang terus terkuak, di Bali, di Jakarta ataupun di kota-kota lain di Indonesia, yang masih belum dikuak. Sangat mengerikan.
Kejadian-kejadian yang telah berlaku itu bisa digunakan sebagai cermin diri, apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki di kemudian hari. Apakah ini yang diramalkan oleh Jayabaya dalam “Ramalan Jayabaya”? Beberapa diantarantya menyataka: Lali kamanungsan---Lupa jati kemanusiaan; Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan; Kanca dadi mungsuh ---Kawan menjadi lawan; Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu; Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna; Akeh anak haram---Banyak anak haram.
Ataukan menurut memang "jamane jaman edan. sing ora melu edan ora keduman”. Meskipun demikian, “sak beja-bejane wong kang lali isih luwih beja wong kang eling lan waspodo". Kira-kira seperti itulah yang dikatakan oleh Ronggowarsito.
Kiranya kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini bisa menjadi cermin diri untuk kita semua.
Selasa, 03 Maret 2009
Jalan Terjal Menuju Ikatan Alumni Yang Kuat
Winarto 3 IPS 2 2000-2003
Setidaknya ada 2 pihak yang bertanggungjawab terhadap eksistensi ikatan alumni ini, yaitu alumni itu sendiri dan pihak sekolah. Mengapa? Sebab ada hubungan mutualisme yang akan terjalin di antara kedua pihak tersebut apabila ikatan alumninya eksis. Ikatan batin alumni dengan almamaternya pastilah ada, dan inilah yang menciptakan rasa tetap memilikinya.
Untuk itulah, ide untuk menciptakan ikatan alumni yang eksis harus diwujudnyatakan.
Kegagalan-kegagalan masa lalu perlu dimaknai sebagai sebuah pembelajaran. Tidak ada yang tidak bisa dan tidak ada yang tidak mungkin. Maka itu komitmen yang kuat perlu dimiliki oleh alumni SMA 3 untuk dapat membentuk ikatan alumni yang kuat.
Bagaimana untuk memulainya? Dalam salah satu conference di Yahoo Messenger, saya mengungkapkan setidaknya dalam jangka pendek ini Ikatan Alumni SMA 3 perlu memiliki program-program yang harus dijalankan yaitu maintenance website and milis alumni sebagai media resmi alumni, program beasiswa dan menjalin komunikasi dengan SMA 3 untuk saling bertukar informasi aktual.
Dipublikasikan di www.wikarya.org, situs alumni SMA 3 Surakarta