Jumat, 19 Desember 2008

Tertawa, Acara TV dan Budi Anduk

Tertawa. Sangat dekat dengan kehidupan manusia. Manakala melihat, mendengar, merasakan stimulus penyebab tertawa, tertawalah. Bahkan film Warkop DKI dalam “pesan “ di bagian akhir beberapa filmnya terpampang “Tertawalah Sebelum Tertawa itu dilarang”. Berabe kalau tertawa pun dilarang.

Humoris. Bagi beberapa orang menjadi sifat. Selain menyenangkan diri sendiri, juga menyenangkan orang lain. Dia akan menjadi “happy makers” untuk orang-orang sekitarnya. Seorang yang humoris selalu dikangeni. Bila tidak ada, dia dicari.

Tertawa. Di tengah beban berat pekerjaan, enak rasanya bisa melepas kepenatan. Setelah seharian bekerja, tertawa enak kali ya? Tidak ada teman yang humoris? Gampang, lihat TV, baca buku lucu. Kalau sampai tertawa dilarang? Atau perlu mengeluarkan uang untuk tertawa? Apa jadinya?

Sulit tertawa. Banyak orang mengalaminya. Stress, depresi. Mungkin itu yang menjadi ide awal Kelik Pelipur Lara cs mendirikan LBH alias Lembaga Bantuan Humor). Namanya lembaga bantuan, tugasnya membantu tertawa orang-orang dengan banyolan-banyolan segar.

Namun ada juga yang tertawa sampai kebablasan. Gila, sakit jiwa. Hingga ada tempat khusus, rumah sakit jiwa. Terus bertambah kalau masa-masa krisis seperti ini. Kalau tidak sakit jiwa, bunuh diri. Capek deh

Mending tertawa. Pulang kerja sore, ada acara “Suami-Suami Takut Istri”. Acara itu selesai, ada acara “Temon dan Abdel”. Acara itu selesai ada guyonan “ Cagur Naik Bajaj”. Selesai acara itu ada di Budi Anduk dkk di “Tawa Sutra XL”. Atau ada pula acara “Bukan Empat Mata” yang Empat Mata banget karena “sempat dicekal KPI. Tertawalah.

Tokoh humoris. Tentu tidak lepas dari acara humor di televisi-televisi itu. Sosok humoris. Tidak hanya dari ucapan-ucapan, namun dari wajah, mimik muka maupun dari penampilan, sosok tokoh humoris bisa membuat tertawa.

Adalah Budi Anduk. Salah satu pemeran di Tawa Sutra XL (Tidak tahu juga, mengapa nama acara itu Tawa Sutra). Sosoknya selalu ditunggu bila menyaksikan salah satu acara komedi situasi itu. Ungkapan “Oke coyyy” atau mimik mukanya ketika bermain. Sangat lucu dan ditunggu.

Wi Agus, selalu menjadi penonton setia Budi Anduk. Dia bisa tertawa terbahak-bahak. Dan dia selalu menunggu-nunggu sosok Budi Anduk. Salah satu perannya “Si Buta dari Gua Batu”, ada keunikan tersendiri dan lucu.

Atau salah satu sketsa yang dimainkan Rabu malam, di suatu “sekolah” dengan Arie, Aldi, Budi dan Ade sebagai murid dan diasuh oleh seorang guru yang cantik.

Si Guru bertanya, “ Ada yang bisa melukis Ibu?”

Si Budi menjawab, “Saya Bu!”

Tiba-tiba dia maju dan meluk Ibu Guru. Kaget Ibu Guru. Disuruh melukis kok malah meluk.

“Lha itu kan meluk, lha ini kiss-nya”, jawab si Budi sambil hendak mencium Ibu Guru.

Itulah “melukis” versi Budi Anduk. Itulah Budi Anduk, salah satu komedian yang bisa mengocok perut pemirsa. Dan Itulah komedi. Membuat tertawa melalui lelucon, banyolan dan plesetan-plesetan. Muka yang dinilai “pas-pasan”, dijadikan bahan lawak, membuat orang senang. Meski dia harus “tersia-sia”, namun itulah kesengsaraan yang mendatangkan kenikmatan dan penghasilan. Hahahahaha

Selamat tertawa.