Tampilkan postingan dengan label Refleksi Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2009

Dari Diskusi Santai di Taman 65

Kamis, 7 Mei 2009 pukul 13.14 WITA, sebuah email dikirim oleh Anton Muhajir ke milis Baliblogger. Ada undangan diskusi santai bareng Ariel Heryanto dan Gusti Agung Putri Astrid Kartika, Direktur non aktif Elsam Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat. Ariel dikenal sebagai salah satu akademisi yang memiliki banyak penelitian khususnya mengenai sejarah Indonesia. Sejak 2009 Ariel menjadi Head of the Southeast Asia Centre di Australian National University, setelah sebelumnya mengajar di Melbourne University.

Diskusi dilaksanakan di Taman 65, yang berlokasi di Jalan WR. Supratman 193 Kesiman Denpasar Timur. Diskusi santai, memang demikianlah yang diterjadi. Kalau di Solo, ingat dengan diskusi di angkringan yang di tayangankan oleh TA TV Solo. Relax. Hampir mirip-mirip suasananya. Meskipun demikian, topik yang diangkat dan alur pembicaraan menarik untuk diikuti.

Ternyata, diskusi santai ini adalah agenda rutin di Taman 65. Ketika membaca email yang masuk ke milis Baliblogger mengenai undangan diskusi itu, ada dua hal yang saling terkait yaitu tempat pelaksanaan dan topik yang diangkat. Tempat diskusi di Taman 65 dan topik diskusi mengenai Tragedi ’65. Wuidih, setelah 8 bulan di Denpasar, ternyata ada komunitas yang sering berkumpul di Taman 65, yang notabene adalah kumpulan “korban” tragedi tahun 65. Namun demikian, meskipun bernama Taman 65, tidak melulu membicarakan ’65. Itu diungkapkan oleh Agung Alit, salah satu convenor Taman 65. Pernyataan itu mematahkan perkiraanku bahwa Taman ’65 hanya melulu berbicara tragedi kelam bangsa Indonesia ini, kalau dilihat dari namanya. Di sana juga akan mudah ditemui lukisan-lukisan karya teman-teman di sana sebagai ungkapan hati atas kekejaman tragedi '65.

Lokasinya pun tidak jauh dari rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal ku, di tempat Agung. Kalau menggunakan istilah yang sering digunakan Agung, “cuma setimpukan batu”. Saat menerima email itu, aku langsung SMS Agung memberitahukan email itu, yang kebetulan beberapa waktu yang lalu, aku mengirim email ke Ariel mengenai buku yang ditulis Agung berjudul “Imu Ekonomi dan Kebebasan”. Sekalian reuni, maklum ketika berkuliah di Satya Wacana, nama Ariel Heryanto begitu popular, namun belum pernah bertemu. Saat yang tepat untuk bertemu Ariel yang lulus Sarjana Pendidikan tahun 1980 dari Satya Wacana itu.

Malam itu, dengan naik mobil Taft menuju Taman 65 Kesiman. Sudah ramai dengan peserta, tidak hanya dari orang Indonesia, namun terlihat beberapa orang asing hadir di Taman 65. Dijadwalkan diskusi mulai jam 19.30 WITA, namun akhirnya dimulai sekitar pukul 20.00 WITA.
Di luar dugaan, ternyata diskusi memang betul-betul santai. Boleh dikatakan hanyalah curhat atau sharing. Gung Tri (panggilan Gusti Agung Putri Astrid Kartika) memulai dengan sering pengalaman sekitar 10 menit. Bahkan setelah giliran Ariel berbicara, dia katakan bahwa sama sekali tidak mempersiapkan apa yang akan dibicarakan, tahunya hanya topik tentang tragedy ’65. Ketika Gung Tri berbicara, Ariel baru berpikir, apa yang harus dia bicarakan.

Point penting yang menarik dari diskusi tersebut adalah mengenai apakah peristiwa kelam itu harus dilupakan atau diingat, kalau dilupakan pada bagian apa dan apabila harus diingat, apa yang perlu diingat. Yah, tragedi yang masih menjadi misteri. Penuh dengan pembelokan alur cerita. Banyak “korban” dengan intensitas yang berbeda dari tragedy tersebut, baik korban meninggal, disiksa, penjara, korban dari pembelokan sejarah/berita dan korban-korban lainnya.

Pada bagian lain, meskipun terjadi pembelokan alur cerita, sejarah itu pasti akan terkuak meski memakan waktu yang tidak tahu kapan akan terjadi. Ada saja rintangan untuk mencapai ke tujuan tersebut hingga masih terbentur sana, terbentur sini. Sulit, namun tidak ada yang tidak mungkin. Syuting film “Lastri” yang beberapa waktu lalu akan dilaksanakan di Kota Solo, dihentikan setelah terjadi pro kontra terhadapnya. Meskipun hanya mengambil tema percintaan di masa tahun ’65, film tersebut dianggap tidak layak karena dianggap akan menyebarkan ajaran komunisme dan marxisme. Akan tetapi masih ada jalan mengungkap peristiwa itu, melalui bahasa tutur, tulisan-tulisan, penelitian hingga diskusi kecil seperti di Taman 65.

Memang pahit dan menggoreskan luka, manakala mengingat tragedi berdarah itu. Ketakutan, trauma akan sejarah yang berulang “dalam bentuk” lain, menginggapi kalangan masyarakat Indonesia. Sejarah tetaplah sejarah, kalaupun ada “pembelokan” atasnya suatu saat akan terkuak. Tragedi ’65 telah menjadi sejarah Indonesia. Kalau dipikir-pikir, tanpa tragedi itu mungkin bangsa Indonesia tidak akan seperti saat ini, entah saat ini itu suatu keadaan yang baik atau bobrok? Setidaknya itu yang dapat aku maknai sebagai salah satu korban langsung. Tanpa tragedi ’65 mungkin sejarah keluargaku tidak akan terjadi dan aku tidak dapat menulis cerita tak beraturan ini.

Senin, 04 Mei 2009

Ketika Cinta Itu Menjadi Nyata

Lagu “Berita Kepada Kawan” Ebiet G Ade melantun sempurna, di tengah malam dengan ditemani bulan sabit di atas langit. Sayup-sayup ibarat syair kehidupan membisik di antar sela-sela telinga. Ada sejumlah bayangan yang hilir mudik menghantui alam pikiran ini.

Sesosok tubuh laki-laki tua menarik sebuah gerobag berwarna hijau. Berkeliling dari rumah ke rumah. Diambil sekeranjang sampah dari satu rumah, ditumpahkan ke atas gerobagnya. Bergerak ke rumah yang lain. Demikian itu terus dilakukan, tiap langkah demi langkah, mulai pagi hingga menjelang sore. Tiada terasa , hari demi harus terus dilalui dan pekerjaan nan berat itu telah dilalui lebih dari 20 tahunan.

Perjalanan yang dilalui memanglah menyedihkan, namun cinta telah mengobarkan semangat bapak itu untuk memberikan kehidupan untuk anak dan istrinya. Siapa yang tidak akan bangga melihat perjuangan yang sedemikian hebat?

Setiap peluh yang mengalir, adalah wujud cinta yang diberikan. Kini, usia telah membuat kulit yang hitam legam menjadi keriput, pandangan kabur. Keinginan untuk memberikan cinta itu belumlah padam.

Itulah sepenggal cerita orang tuaku, yang terus bekerja keras untuk keluarganya. Ingin membantu meringankan beban itu, namun apa daya, belum mampu, setidaknya sampai beberapa waktu yang lalu. Bayangan yang terus menghantui itu, kini sedikit demi sedikit akan menjadi pudar. Aku menyuruh Bapak untuk mengurangi aktivitas sebagai penarik gerobag sampah. Aku ingin Bapak lebih banyak istirahat, meskipun tetap beraktivitas menarik gerobag sampah tapi tidak terlalu banyak.

Aku bisa merasakan bagaimana beratnya menarik gerobag itu. Ya, beberapa waktu yang lalu, saat Bapak sakit, aku dan kakakku menggantikan Bapak untuk menarik gerobag hijaunya. Betapa sangatlah berat, terik panas matahari menyengat dan siapapun yang ditanya apakah mau melakukan pekerjaan itu, bisa ditebak pasti tidak akan mau. Akan tetapi, oleh Bapak yang telah berumur 68 tahun, pekerjaan itu dilakukan dengan penuh sukacita.

Aku tahan-tahan melihat Bapak yang tiap hari bersusah payah bekerja. Bapak hanya berpesan untuk menjadi pandai dan tidak seperti orang tuanya. Tidak tahan setiap kali melihat Bapak bekerja dibawah terik mentari bahkan ketika hujan deras turun. Di kala badan tidak enak pun, Bapak memaksakan diri untuk menarik gerobagnya.
Sudah cukup rekoso Bapak. Setelah 14 tahun di pembuangan dan lebih dari 20 tahun di jalanan berkeliling, sudah saatnya Bapak untuk mengurangi aktivitas berat itu.

Semalam aku menelpon Bapak dan mengutarakan maksudku. Semula memang timbul penolakan,khawatir mengenai kebutuhan rumah tangga yang harus terpenuhi. Aku coba yakinkan bahwa kalau sebagai anak yang sudah bekerja, aku yang akan bertanggung jawab untuk kebutuhan rumah. Wajar penolakan itu karena tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Sudah saatnya yang muda yang bekerja, itu yang aku katakan ke Bapak. Aku seneng ketika Bapak mau untuk mengurangi aktivitas. Kini giliranku untuk membahagiakan orang-orang yang aku cinta. Ketika cinta Bapak nyata dalam hidupku, aku ingin membalasnya dengan memberikan cinta yang nyata pula kepadanya. Ada seorang teman yang bertanya, “Bagaimana dengan ibumu, kok kalau menulis hanya mengutarakan cerita tentang Bapakmu saja? Jawabannya sederhana, terlalu sulit untuk diungkapkan, ketika harus mengurai kata demi kata untuk menggambarkan betapa besar kasih sayang seorang ibu. Sulit diterjemahkan dalam bahasa tulisan.

Rabu, 11 Maret 2009

Menggugah Kembali Semangat

Akhir-akhir ini, beban pekerjaan seperti menghimpit sesak. Aktivitas keseharian menjadi rutinitas yang kadang membuat jemu. Hingga membuat tersadar bahwa harus ada variasi tugas dan pekerjaan ataupun hingga berhenti sejenak mengistirahatkan diri. Perilaku seperti itulah yang akan membuat semangat ini menjadi membara lagi, setidaknya dalam beberapa waktu ke depan.

Komitmen tetap komitmen. Itu yang terus terdengung manakala melihat dua buah website www.wikarya.org dan www.jangkang.org. Website yang pertama adalah website untuk para alumni SMA 3 Surakarta, sedangkan website yang kedua adalah website untuk Jangkang Research Institute. Kedua website itu telah online dan tinggal mengisi dengan berita-berita serta informasi yang baru.

Sempat beberapa waktu terbengkelai, tidak terupdate. Selain waktu beban kerja yang berlebihan tadi, berakibat pada waktu untuk membuat dan mencari informasi/berita yang sesuai dengan website tersebut. Untuk website alumni SMA 3, telah diutarakan ke teman-teman untuk membantu mengisi, mengingat website bersama. Entah mengisi artikel, opini, lowongan kerja atau pun informasi yang lain. Namun hingga sekarang masih nihil. Maklum, belum diluncurkan secara resmi baik melalui milis-milis, informasi berantai hingga Facebook.

Untuk website Jangkang, memang website ini masih “under maintenance” namun mendekati selesai. Telah ada konsep di otak ini untuk mengisinya, namun keterbatasan waktulah yang menjadi kendalanya. Perjalanan berangkat, kerja dan perjalanan pulang Kuta-Denpasar telah menguras banyak tenaga, sehingga maksud hati ke warung internet kandas oleh kelelahan yang menghinggapi tubuh ini.

Mungkin juga kelelahan itu yang membuat semangat ini sedikit meredup. Harus dipacu dan dipompa kembali. Lihatlah, besok kedua website itu pasti terupdate.

Jumat, 06 Maret 2009

Bercermin Pada Kehidupan

Orang bijak berkata bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun, berpijak dari pernyataan tersebut masih banyak yang tidak bisa memahami arti penting pengalaman, baik pengalaman dari diri sendiri maupun pengalaman dari pihak lain. Setiap kejadian, peristiwa tentu ada makna dibaliknya sebagai salah satu pelajaran yang berharga.

Adalah sebuah cermin. Ketika wajah seseorang di depannya, maka akan terpampanglah roman mukanya. Apabila sedang berias, diberikanlah kepadanya sebuah cermin. Bahkan seseorang pun bisa mengambil rambut ubannya dengan menggunakan cermin. Bawalah filosofi cermin untuk untuk berkaca tentang kehidupan.

Menyimak pemberitaan hangat di media massa saat ini, hampir tidak pernah putus pemberitaan mengenai bencana alam, kejahatan, masalah-masalah sosial hingga ontran-ontran di panggung politik. Peristiwa-peristiwa bila ditelisik akan menjadi cermin yang akan memaparkan potret kehidupan. Namun, ketika memandang potret itu, masing-masing memiliki argumennya masing-masing.

Catatan singkat mengenai dukun cilik, Ponari, dari Jombang. Bagaimana ribuan orang berduyun-duyun memadati rumah anak yang diakui memiliki “watu gledhek” yang sakti. Ada yang menyoroti karena berhubungan dengan biaya kesehatan yang yang tidak dijangkau masyarakat, ada yang mengatakan pengobatan Ponari itu sudah biasa dilakukan, dan berbagai pendapat lainnya. Bagi pemerintah, sepatutnya hal tersebut menjadi cermin, apakah memang biaya kesehatan itu ada masyarakat yang tidak bisa menjangkau.

Banyak pro dan kontra mengenai fenomena itu. Ketika ilmu dan praktek kedokteran telah dikenal oleh masyarakat, namun ternyata masih banyak orang yang secara tidak masuk akal meminum air mineral yang dicelup batu gledhek ataupun sumur di rumah Ponari. Adalah sebuah tantangan besar untuk mengedukasi masyarakat, siapa tahu malah air sumur itu penuh dengan bakteri yang mendatangkan penyakit. Tetapi, ada sebagian memang orang yang sakit menjadi sembuh karena tersugesti dengan meminum air rendaman itu. Namun yang pasti, fenomena itu menjadi sebuah cermin yang berharga.

Dalam ranah pendidikan, saat ini begitu deras di pemberitaan mengenai kasus kekerasaan yang dilakukan oleh siswa-siswa pada beberapa daerah. Kasus kekerasan yang direkam dalam melalui ponsel itu menampar sejumlah pihak. Satu kejadian di suatu daerah diikuti oleh siswa di daerah lainnya. Mungkinkah ini sebuah fenomena gunung es? Kejadian yang terlihat hanya sedikit yang terungkap namun masih menggunung kejadian lainnya yang belum kelihatan. Adakah yang salah dengan pendidikan di Indonesia sehingga siswa didiknya bertingkah layaknya preman jalanan? Bagaimana peran orang tua? Apa yang harus dilakukan untuk mencegah kejadian yang sama timbul kembali?

Tidak kalah pula fakta mengenai kasus aborsi yang terus terkuak, di Bali, di Jakarta ataupun di kota-kota lain di Indonesia, yang masih belum dikuak. Sangat mengerikan.

Kejadian-kejadian yang telah berlaku itu bisa digunakan sebagai cermin diri, apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki di kemudian hari. Apakah ini yang diramalkan oleh Jayabaya dalam “Ramalan Jayabaya”? Beberapa diantarantya menyataka: Lali kamanungsan---Lupa jati kemanusiaan; Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan; Kanca dadi mungsuh ---Kawan menjadi lawan; Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu; Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna; Akeh anak haram---Banyak anak haram.

Ataukan menurut memang "jamane jaman edan. sing ora melu edan ora keduman”. Meskipun demikian, “sak beja-bejane wong kang lali isih luwih beja wong kang eling lan waspodo". Kira-kira seperti itulah yang dikatakan oleh Ronggowarsito.

Kiranya kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini bisa menjadi cermin diri untuk kita semua.

Rabu, 04 Maret 2009

Sejajar dengan Waktu

Siapa yang tidak akan kelabakan, manakala workload berlebihan, ketika deadline mengejar laksana pemburu mengejar mangsanya, saat-saat target-target harus dicapai. Waktu akan terus berlari dengan kecepatan super tinggi. Setiap detik terasa sangatlah berharga. Mampukah sejajar dengan kecepatan waktu itu?

Di saat yang sama, ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan, internet research hingga web design. Seminggu yang lalu, harus melakukan internet research pada dua newspaper dari Kanada, Calgary Herald dan Calgary Sun. Fokus utama pekerjaan di kantor. Setelah pulang harus beralih peran untuk meng-update web ikatan alumni SMA 3 Surakarta.
Beberapa waktu yang lalu, terjadi diskusi (baca: perdebatan) di antara alumni SMA 3 Surakarta di milis SMAGA-Surakarta@yahoo.com. Seperti yang telah tertulis pada 2 postingan sebelumnya, ternyata memang perlu penggerak untuk mewujudkan ikatan itu. Jadinya, harus ada yang memiliki komitmen yang kuat untuk mewujudkan ikatan alumni itu.

Banyak ide yang masuk, namun mana yang harus dilakukan? Goal yang dicapai tidaklah muluk-muluk, ikatan alumni itu eksis dan terus berkesinambungan. Salah satunya melalui website yang terus dikelola. Alasan sibuk, telah berkeluarga seakan seperti kambing hitam dalam “kegagalan” ikatan alumni. Bagiku itu bukan esensinya. Yang diperlukan adalah tanggung jawab pada komitmennya.

Dan untuk membuktikan itu, perlu memeras otak untuk mewujudkan ikatan alumni yang terus berkesinambungan. Jadilah website ikatan alumni itu dengan dibantu oleh seorang teman. Tinggal sekarang memeras otak untuk bagaimana memasarkan website itu dan mempertahankan keberadaannya. Tapi sangat asyik melakukannya.

Minggu ini pun di kantor memiliki pekerjaan yang tidak kalah asyik, yaitu melakukan internet research untuk mengumpulkan asosiasi-asosiasi berbasiskan association member dosen universitas di 3 Kota, Sarawak, Kuala Lumpur dan Washington DC. Yang pasti perlu ketelitian dan kesabaran dalam membaca setiap page dan profil ribuan lecturer di ketiga kota itu.

Waktu terus saja berjalan, pekerjaan-pekerjaan itu perlu untuk dituntaskan, baik tugas kantor dan ”tugas sampingan”” di ikatan alumni itu. Semuanya perlu dilakukan seiring seirama, tidak ada yang ketinggalan, dan tidak ada yang punah ditelan oleh waktu yang rodanya terus berputar.

Kamis, 12 Februari 2009

Andai di Dunia Kartun

Berita-berita di media massa baik cetak dan elektronik beberapa hari ini menampilkan sesuatu hal yang membuat hati miris. Serangan Israel di Jalur Gaza, bencana banjir di beberapa wilayah di Indonesia termasuk Semarang dan Jakarta, kebakaran semak dan hutan di Australia, demo yang berujung maut di Sumatera Utara hingga seabreg peristiwa lain baik bencana alam, kriminalitas maupun kecelakaan. Makin ngeri....

Fenomena dukun cilik, Ponari, di Jombang pun menyita perhatian publik tanah air. Ribuan orang berduyun-duyun datang meminta kesembuhan dari batu ajaib yang dimiliki Ponari dengan meminum air mineral setelah batu itu dicelupkan ke dalamnya. Namun sayang, praktek tersebut ditutup karena sang dukun kelelahan dan sakit. Kalau sang dukun cilik sakit, mengapa tidak mencelupkan batu miliknya itu ke air mineral dan kemudian meminumnya ya?

Jika ditanya, siapa yang mau mendapat sakit, kecelakaan, musibah ataupun bencana selama masih ada di dunia fana ini? Ah tidak usah terlalu memikirkan hal-hal seperti itu, kapan menimpa, kalau terjadi bagaimana dan perasaan ketakutan yang berlebihan lainnya. Orang Jawa bilang eling lan waspodo atau ada juga nasehat untuk selalu berjaga dan berdoa.

Masih ingat dengan film Space Jam? Ya, ketika kemampuan beberapa jagoan Basket NBA dicuri dan digunakan untuk bertanding melawan Looney Tunes, Bugs Bunny dan kawan-kawan? Michael Jordan pun diculik oleh Tunes dan kawan-kawan untuk membantu melawan. Sesuatu yang menarik adalah bagaimana jika manusia bisa seperti kartun-kartun itu? Diinjak sampai gepeng pun akhirnya bisa pulih dalam sepersekian detik, memegang bom atau granat yang hampir meledak dan akhirnya meledak pun bisa cepat kembali ke bentuk semula.

Masuk ke dunia khayal. Andai saja di dunia kartun, mungkin penduduk di Palestina tidak perlu banyak yang terbunuh atau kehilangan sanak saudara dan harta benda. Banjir di Semarang sana tidak perlu menghentikan roda perekonomian dan aktivitas lain ketika orang mampu menyedot bahkan meminumnya,hahahaha.

Mudah sekali berbicara layaknya seorang sutradara. Tapi itulah dunia kartun, dunia khayal. Dalam kisah perseteruan abadi Tom and Jerry, betapa seru dan menggemaskan pertempuran mereka berdua, bahkan kadang menggunakan granat, meriam, bom dan senjata-senjata lainnya. Toh ketika kena, eh bisa recovery secepat kilat dan semudah membalik telapak tangan. Hahahaha

Ingat juga dengan cerita Doraemon, yang mempunyai kantong ajaib, yang punya alat-alat “canggih” dari abad 22. Ada mesin waktu, pintu kemana saja, baling-baling bambu dan mungkin ratusan alat-alat canggih lain. Dunia kartun oh dunia kartun.

Tapi ingat, bahwa ini masih di dunia. Lahir, tumbuh dan berkembang, sakit, bencana, kecelakaan, bahagia hingga peperangan bisa mengancam umat manusia. Bukan di dunia kartun, dengan tangan bisa menahan granat, kalau pun meledak tidak akan mati. Atau bila terjadi tabrakan kereta versus kereta, tidak akan menelan korban jiwa. Belum ada mesin waktu maupun pintu kemana saja seperti punya Doraemon. Namun, kalau suatu saat nanti tercipta, apa yang akan terjadi ya?

Rabu, 10 Desember 2008

Sebuah Refleksi: Hari Anti Korupsi dan HAM

Denpasar, 10 Desember 2008
Dua hari berturut-turut yaitu tanggal 9 dan 10 Desember merupakan hari peringatan yang sangat sangat penting bagi umat manusia. Kemarin, tanggal 9 Desember ialah hari anti korupsi sedunia. Di Indonesia, banyak pihak memeringati hari tersebut dan menyatakan perang terhadap korupsi dan koruptor. Seperti yang diberitakan oleh detik.com, peringatan hari anti korupsi tahun ini dimeriahkan oleh grup band Gigi dan Slank. Grup Band Gigi menyanyikan 2 buah lagu, sedangkan Slank 4 lagu, mulai dari “Birokrasi Komplex”, “Para Koruptor” hingga “Generasi Biru” dinyanyikan Slank yang langsung disambut oleh pendukungnya, Slankers.

Berbicara mengenai korupsi, kata ini begitu familiar di telinga masyarakat Indonesia khususnya. Korupsi diidentikkan dengan penggelapan/pencurian uang negara oleh para pejabat-pejabat yang berwenang. Tercatat sudah banyak pejabat negara yang terbukti dan atau sedang dalam proses peradilan karena kasus korupsi. Nama-nama pejabat tersohor di negeri ini telah banyak yang menghuni bui.

Korupsi adalah tindakan pencurian, merugikan negara serta merugikan rakyat. Pejabat telah diberikan wewenang dan kepercayaan menyelewengkannya. Kemunculan KPK di negeri ini merupakan salah satu wujud perang terhadap bahaya korupsi yang dilakukan merugikan negara dan rakyat. Pencurian terhadap uang negera perlu ditindak tegas.

Pada sisi lain, korupsi tidak hanya dimonopoli dalam aspek kenegaraan, namun juga pasti aspek individual. Sudahkah kita benar-benar menghindarkan diri dari korupsi? Korupsi jam kerja, korupsi uang bensin, korupsi ide dan korupsi-korupsi yang lainnya. Seorang mahasiswa ketika kuliah datang terlambat, berarti dia telah korupsi waktu. Seorang dosen yang sering datang terlambat mengajar atau malah tidak mengajar telah korupsi waktu. Seseorang yang telah menyelewengkan wewenang yang telah diberikan adalah sebuah kasus korupsi. Sudahkan kita mencoba sepenuh hati menghindari perbuatan korupsi?

Hari ini pula 10 Desember 2008 diperingati hari Hak Asasi Manusia. Namun, masih banyak pelanggaran Hak Asasi Manusia disekeliling kita. Bagaimana korban lumpur Lapindo? Apa yang bisa kita perbuat? Adakah air mata ini menetes untuk mereka di tengah doa-doa kita atau adakah mereka ada di hati pejabat-pejabat negeri ini? Mereka berhak untuk memperoleh kehidupan yang layak. Apakah kita menangis mendengar jeritan mereka? Sedangkan menonton film Laskar Pelangi ataupun Ayat-Ayat Cinta hati kita tersentuh dan akhirnya air mata menetes?

Sudahkan orang-orang di sekeliling kita memperoleh hak mereka? Di antara gemerlap dan glamour Pantai Kuta, terlihat seorang nenek-nenek yang meminta-minta kepada turis lokal dan asing. Atau di jalanan terlihat anak-anak kecil yang meminta-minta padahal mereka seharusnya memperoleh pendidikan yang layak.
Apa yang sudah kita berikan untuk sekeliling kita?

Senin, 10 November 2008

(Bagian Empat: Habis) Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi: Jaga Dong Indonesia

Menarik mencermati himbauan yang diucapkan oleh Bang Napi pada salah satu tayangan kumpulan berita kriminal di televisi. “Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan....Waspadalah.....Waspdalah”. Tidak pelak lagi, bagian akhir ini ingin melihat peristiwa yang semakin lama bukannya semakin menurun tetapi malah terus mengalami peningkatan, dialah kriminalitas.

Himbauan Bang Napi di atas menjadi sebuah refleksi yang mengingatkan kita untuk selalu waspada...waspada dan waspada sebab “bahaya” dapat mengancam sewaktu-waktu. Lihatlah, betapa sangat menyedihkan dan mengerikan kasus-kasus kriminalitas yang terjadi akhir-akhir ini dengan segala macam motif dan metode untuk melakukannya.
Tengoklah kasus mutilasi yang banyak terjadi di Indonesia, yang paling heboh akhir-akhir ini adalah kasus mutilasi yang dilakukan oleh Ryan. Belum selesai kasus itu diselidiki, Kepolisian Republik Indonesia disibukkan lagi dengan mutilasi di bus Mayasari. Kasus mutilasi juga terjadi di Denpasar, Bali.

Tidak hanya mutilasi, kasus-kasus kriminalitas mencuat ke permukaan dan pemberitaan mulai dari pencurian, perampokan, pemerkosaan, penculikan, perjudian, penjambretan, aborsi, narkoba serta kasus-kasus kriminalitas yang mengerikan lainnya. Inikah yang dimaksudkan dengan bangsa yang berkeTuhanan Yang Maha Esa dan Berkemanusiaan yang adil dan beradab? Amatlah disayangkan jika di tengah bangsa yang berketuhanan dan berkemanusian, namun tingkat kriminalitas yang terjadi juga meningkat.

Telah banyak korban yang berjatuhan akibat semakin tinggi angka kriminalitas. Mencermati berbagai peristiwa-peristiwa kriminalitas yang terjadi, banyak pelajaran yang dapat dipetik. Indonesia sebagai negara hukum yang berKetuhanan dan berperikemanusiaan perlu mawas diri dan berkaca. Aparat kepolisian tiap-hari terus disibukkan untuk mengungkap kasus-kasus kriminal yang terus mengalami peningkatan. Inikah pertanda idealisme bangsa tidak lagi tertanam dan dilaksanakan oleh anak-anak bangsa?

Menekan angka kriminalitas memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Jangan sampai Indonesia menjadi tidak aman dikarenakan oleh ulah anak bangsa sendiri. Ketakutan, trauma adalah bagian yang tidak terpisahkan dari korban kriminalitas maupun warga lainnya. Maka dari itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan lingkungan.

Tidakkah akan menjadi lebih harmonis, ketika kehidupan dipenuhi dengan sikap saling toleransi dan menghormati. Tidak jarang, kasus kriminal terjadi hanya dikarenakan oleh masalah-masalah yang sepele. Meskipun demikian, kewaspadaan terhadap segala macam tindakan kriminal yang mengancam kehidupan tetap diperlukan. Jaga keamanan Indonesia sehingga masyarakat akan dapat tenang manakala bekerja, anak-anak dapat konsentrasi untuk sekolah dan kehidupan masyarakat akan berjalan secara harmonis.

Dari bagian satu sampai empat ini, adalah sebuah kewajiban setiap warga negara untuk menjaga negara di mana mereka berdiam. Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi hanyalah sedikit penggambaran terhadap fenomena dan fakta yang terjadi di masyarakat Indonesia. Sudah menjadi kewajiban bagi kita semua menjaga Indonesia. Kalau bukan kita yang menjaga Indonesia, siapa lagi.

Jumat, 07 November 2008

(Bagian 3) Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi: Jaga Dong Indonesia


Kata “pornografi”, istilah lama yang akhir-akhir ini menyeruak di telinga masyarakat Indonesia. Hal tersebut terkait dengan pengesahan UU Pornografi yang telah disahkan 30 Oktober 2008 yang lalu oleh Dewan Perwakilan Rakyat RI. Meskipun disertai aksi Walk Out oleh Fraksi PDIP dan PDS, Rancangan Undang-Undang itupun akhirnya menjadi UU, tentu setelah melalui perjalanan panjang dan berliku-liku nan melelahkan.

Ada dua kubu, yang menolak dan mendukung UU tersebut, dengan argumentasi masing-masing. Aksi demontrasi menolak dan mendukung terjadi di beberapa daerah. Dengan argumentasi yang menurut anggapan mereka “benar”, diteriakkanlah suara-suara kebenaran tersebut ke publik.

Akankah konflik antara dua kubu itu terus berlanjut? Dapat dipastikan iya. Berbagai langkah telah disiapkan oleh kedua belah pihak pasca pengesahan UU Pornografi. Gubernur, DPRD Bali dan elemen masyarakat Bali menyatakan menolak pengesahan UU Pornografi serta akan mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Pendukung UU ini menyatakan bahwa pengesahan RUU menjadi UU sangatlah mendesak dilakukan, di tengah penurunan moralitas bangsa. Sedangkan, kubu yang menolak UU Pornografi menyatakan bahwa UU tersebut akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, disamping telah ada pengaturan mengenai pornografi telah ada.

Pelik memang berbicara mengenai masalah UU Pornografi ini. Penuh dengan argumentasi-argumentasi yang dianggap “benar”. Namun, menjembatani konflik di atas, ada beberapa hal yang penting untuk dicermati. Kedua kubu sama-sama menyatakan bahwa mendukung atau menolak adalah untuk “menyelamatkan” negeri ini. Apa gerangan yang perlu diselamatkan? Tentu point yang “diselamatkan” oleh masing-masing kubu berbeda serta memiliki latar belakang dalam hal penyelamatan bangsa ini. Dengan adanya UU Pornografi, di satu sisi akan digunakan untuk menyelamatkan moralitas bangsa yang telah merosot, disisi lain penolakan terhadap UU tersebut akan menyelamatkan keutuhan bangsa. Lalu, penyelamatan moralitas ataukah penyelamatan keutuhan bangsa? Kedua hal itu sangat penting dan memang perlu untuk diselamatkan dan dijaga, namun kehadiran UU pornografi bisa dikatakan bertolak belakang serta terjadi trade off dengan tujuan penyelamatan moralitas atau keutuhan bangsa.

Moralitas bangsa Indonesia memang patut dipertanyakan, sehingga timbul berbagai macam kejahatan, korupsi, perampokan, pemerkosaan, pencabulan dan tindakan criminal yang lain. Keutuhan bangsa pun tidak luput dari bahaya. Negara kesatuan terancam dengan adanya upaya untuk memisahkan diri dari NKRI.
Melalui peristiwa pengesahan UU Pornografi ini, setidaknya menyadarkan kita bahwa kedua aspek, moralitas dan keutuhan bangsa, perlu untuk diselamatkan. Iwan Fals dalam salah satu lagunya mengatakan diperlukan penegakan hukum yang tegas, tidak berat sebelah dan tidak pandang bulu, tanpa terkecuali yang bersalah harus dihukum.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah supaya berpikir, bertindak dan berbuat dalam koridor hukum yang berlaku. “Urus moralitas pribadi sebelum mengurusi moralitas orang lain”, kata seorang teman ketika berdiskusi mengenai lagu “Manusia Setengah Dewa”-nya Iwan Fals. Tentu, dengan didukung oleh penegakan akan supremasi hukum. Ingatlah kita pada cita-cita pendirian negeri ini, yaitu untuk pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya dengan berlandaskan pada Pancasila. Hal-hal yang ingin merusak dan mengancam cita-cita tersebut perlu diperangi.

Jaga masa depan negeri ini dari segala macam bahaya yang mengancam. Jaga keutuhan bangsa Indonesia dari setiap upaya-upaya yang bertujuan untuk memecah belah. Jaga Indonesia.

Kamis, 06 November 2008

Fair Play: Siap Tempur, Siap Menang Siap Kalah


Sebelum pertandingan sepak bola dilaksanakan (Liga Champion, World Cup, Euro, Liga Super Indonesia), terlebih dulu dilakukan ceremony, tidak lupa Fair Play Flag-nya. Ini bukan hanya sekedar slogan yang dicanangkan oleh Fédération Internationale de Football Association (FIFA). Fair flag tersebut dibawa oleh satu tim (biasanya anak-anak) dan berdiri di tengah lapangan sebelum kickoff dilakukan.


Namun di Indonesia, meski di awal pertandiangan telah diusung Fair Play Flag, toh kok masih banyak penyimpangan yang terjadi. Pemukulan terhadap wasit maupun pemain, perkelahian suporter sampai kepada tindakan pengrusakan fasilitas-fasilitas dalam stadion. Faktor tidak siap untuk kalah, hanya siap menang menjadi penyebab fair play tidak berjalan berjalan dengan sempurna.


Pasca penghitungan suara Pemilu Presiden di US, calon Presiden John McCain yang kalah langsung memberikan ucapan selamat kepada Presiden Terpilih Barack Obama. Sungguh, suatu pembelajaran demokrasi yang sangat bagus dan fair. Para pendukung pun dengan legawa menerima kekalahan calonnya.


Menerima kekalahan memang sangat sulit. Semua orang akan melakukan “euphoria” saat kemenangan ada di tangan. Bangga. Namun, apabila “dewa kekalahan” lagi berpihak, sangat sulit “menyambut” kedatangannya. Kecewa. Cobalah tengok beberapa kasus seperti dalam dunia olahraga atau dalam pilkada yang terjadi di Indonesia. Pihak tim sepakbola yang kalah, entah pemain, official, supporter tidak jarang melampiaskan kekecewaan mereka dengan berkelahi atau melakukan pengrusakan. Pihak Calon Gubernur/Bupati yang kalah pun tidak sedikit yang menyatakan kekecewaannya, protes ke KPU bahwa ada indikasi kecurangan, boikot hingga terjadinya bentrokan antara pendukung yang menang versus yang kalah.


Kapan prinsip fair play bisa dijunjung dan ditegakkan? Kalau siap menang, tentu siap kalah pun harus dimiliki. Menang dan kalah adalah sifat alamiah. Itu adalah sebuah hasil dari “pertarungan”. Namun demikian, dalam proses pertarungan tersebut perlu juga diatur dan dilakukan secara fair play, tidak ada kecurangan yang dilakukan.


Akankah pelajaran berdemokrasi di USA kemarin akan menjadi inspirasi untuk pesta demokrasi di Indonesia nanti. Calon yang kalah dapat menerima kekalahan, calon yang menang pun tidak menjadi sombong. Ungkapan “menang ora umuk, kalah orang ngamuk” (menang tidak sombong, kalah tidak marah) sepertinya perlu terus didengung-dengungkan dan dikampanyekan. Bukan hanya sekedar terpasang secara formalitas di spanduk dan diucapkan, namun juga dalam sebuah tindakan yang dinyatakan.

(Bagian Kedua) Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi: Jaga Dong Indonesia

Indonesia, negeri yang dalam sejarah diincar oleh negara-negara di Eropa karena memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Mereka rela mengarungi samudera untuk dengan semboyan Gold, Glory dan Gospel-nya. Tak pelak lagi, kedatangan mereka pada akhirnya mengakibatkan pertempuran dengan menggunakan senjata. Entah sudah berapa orang yang tewas dalam laga-laga pertempuran tersebut. Pengorbanan jiwa, raga, harta, nyawa maupun darah mewarnai Bumi Pertiwi yang disebut Zamrud Khatulistiwa ini.

Menilik berbagai peristiwa yang ada di tanah air ini (meskipun Soekarno sudah memproklamasikan kemerdekaan tahun 1945 yang lalu), masih ada “pertempuran” yang terjadi. Tidak perlu jauh-jauh pada Agresi Militer Belanda, tahun 2002 yang lalu, tepatnya 12 Oktober bom maha dahsyat mengguncang Legian Kuta Bali. Berbagai macam kerusuhan dan bom-bom lain pun terjadi di banyak daerah di Republik ini.

Kalau di televisi ada acara Republik BBM (Benar-Benar Mabuk, Baru Bisa Mimpi atau nama yang lain), Republik BBM kali ini adalah Bom-Bom Mengguncang dibumbui dengan TTM (Teror-Teror Menyebar). Amat dahsyat bom-bom itu bila mengguncang, menyisakan puing-puing, trauma, tangis dan duka. Jangankan setelah meledak, sebelum meledak atau baru terror pun, banyak orang sudah ketakutan.

Amrozi, nama itu akhir-akhir ini menjadi popular di Indonesia maupun di luar negeri. Bersama cs-nya, menjadi bahan pemberitaan yang terus diburu misteri eksekusi mati yang (akan segera) dilakukan. Di tengah kontroversinya, teror-teror bom muncul kembali, menambah ketakutan-ketakutan di masyarakat. Dengan berbagai macam argumen yang diberikan, seolah-olah bom yang meledak maupun teror bom yang muncul di masyarakat Indonesia dapat dibenarkan.

Dengan bom tersebut apakah memang benar dan bisa menciptakan kedamaian. Kedamaian seperti apa yang ingin diraih? Patut disayangkan, apabila dengan mengatasnamakan agama dan kedamaian, upaya menciptakan kedamaian melalui serangkaian peledakan bom dan teror-teror.

Bangsa ini adalah bangsanya bangsa-bangsa, terdiri dari berbagai macam suku, agama, kepercayaan serta budaya. Masing-masing memiki kekuatan dan kelemahan, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Akan indah apabila mereka berdampingan dan hidup dalam perbedaan serta penuh dengan toleransi.

Amrozi telah memberikan banyak pelajaran untuk bangsa ini. Pelajaran untuk selalu “eling lan waspada”, bahwa persatuan dan kesatuan bangsa adalah yang terutama dan selalu waspada terhadap upaya-upaya penghancuran persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu peribahasa Jawa mengatakan “rukun agawe santosa, crah agawe bubrah” atau dapat dikatakan rukun akan membuat sejahtera, namun pertikaian dan pertengkaran akan membuat kehancuran.

Akankah Bom-Bom Mengguncang akan terus terjadi? Dan Teror-Teror Menyebar terus dikumandangkan ke seantero negeri ini? Jaga keutuhan Bangsa Indonesia. Tidak hanya tugas pemerintah maupun aparat kepolisian, namun juga tugas kita semua untuk tetap menjaga keutuhan Republik ini.

Rabu, 05 November 2008

(Bagian Pertama) Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi: Jaga Dong Indonesia


Tidak berlebihan jika keempat kata dengan huruf terakhir “i” pada judul di atas sangat santer dibicarakan oleh publik Indonesia akhir-akhirnya (paling tidak mewakili banyak peristiwa di bumi pertiwi ini). Media massa baik cetak, elektronik menjadikannya bahan berita untuk dipublikasikan dan didiskusikan. Campur bawur, ruwet. Itulah kata yang (mungkin) dapat menggambarkan kondisi bangsa ini di tengah peristiwa-peristiwa yang membuat orang tergeleng-geleng.

“Kenken (bagaimana) toh dengan negeri Indonesia ini? penuh dengan korupsi.........korupsi.................korupsi...........”celetuk seorang ibu di sebuah warung makan ketika melihat sebuah tayangan di televisi. Acara itu bernama Kumpulan Perkara Korupsi (KPK). Yang namanya kumpulan, mesti lebih dari satu, demikian pula kumpulan (perkara) yang satu ini sudah sangat banyak di negeri ini.

Uang rakyat diembat, sedangkan rakyat kini hidup melarat. Kehidupan masyarakat yang sudah terhimpit, disuguhi tontonan para pejabat yang menggerogoti uang milik negara seperti “Tikus-Tikus Kantor” nya Iwan Fals.

Kumpulan perkara korupsi, perkara ini perlu terus dilanjutkan dan diselesaikan. Langkah awal ini perlu terus dilakukan untuk memburu “tikus-tikus penggerogot” kekayaan negara. Hampir setiap hari di berita-berita, ada saja peristiwa penangkapan oknum yang korupsi atau sidang yang terkait masalah korupsi, melibatkan para pejabat, politisi, menteri atau mantan menteri, banyak yang terlibat. Sudah berapa rupiah negara dirugikan oleh ulah mereka.

Uang menyilaukan mata. Menjadikan manusia buta dan kemudian menghalalkan segala cara untuk memperolehnya melalui korupsi. Inikah yang disebut zaman edan itu, yang tidak edan tidak kebagian. Yang diherankan adalah mengapa mereka sampai tega melakukan pencurian uang negara sedangkan kalau melihat di luar sana banyak rakyat miskin yang menderita dan sengsara, anak-anak banyak yang putus sekolah, kelaparan dan terdapat sekian banyak permasalah sosial lainnya.

Mau di bawa kemana negeri ini? Menghancurkan negara ini akan semudah membalikkan telapak tangan jika dibandingkan dengan bagaimana susah payah The Founding Father berjuang untuk mendirikannya.

Jaga Indonesia. Tetap utuh, tegak berdiri perkasa di tengah-tengah arus dan gelombang globalisasi. Itu tugas kita bersama, kalau bukan masyarakat Indonesia yang menjaga Indonesia, siapa lagi. (Bersambung)

Kamis, 16 Oktober 2008

Pandangan Mata di Segara Ayu

Denpasar, 16 Oktober 2008
Hari Minggu yang lalu, aku, Sunny, Giri, Intan dan Gede ingin pergi untuk sekedar refreshing. Kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Segara Ayu di dekat Pantai Sanur. Kami berencana naik kano. Rencana tersebut dibicarakan pada pukul 12.00 WITA. Kami akan berangkat pada pukul 16.00 WITA. Waktu itu, di Denpasar sangat panas sekali.

Pukul 15.30 WITA, kami sudah siap-siap berangkat ke Pantai Segara Ayu. Kami naik 2 sepeda motor dan satu vespa. Aku berbondengan dengan Giri menggunakan Honda Grand ’96 ku. Intan dan Gede menggunakan Honda dan Sunny sendirian menggunakan vespa. Tepat pukul 16.00 WITA kami meluncur di Pantai Segara Ayu. Memang betul-betul ayu pantai itu. Indah sekali. Warna laut yang biru meneduhkan hatiku. Sangat ramai wisatawan, dalam maupun luar negeri. Mereka menikmati salah satu keindahan alam di Bali.

Keinginanku untuk main kano berubah menjadi keinginan untuk berdiam diri di atas pasir. Yah, mereka mengajakku untuk ikut, namun aku menolaknya. Aku hendak menikmati keindahan pantai sambil melihat aktivitas yang dilakukan wisatawan itu di tepi pantai. Ada yang duduk di pasir seperti aku, ada yang berbaring, ada yang berenang, main kano sampai aku mengamati orang-orang yang bekerja sebagai penjual lumpia, jagung bakar, penyewa kano. Semua tidak luput dari pengamatanku.

Ada yang menarik dalam pandangaku. Seorang penyewa kano. Untuk menyewa kano, wisatawan hanya membayar Rp 10.000,00. Coba bayangkan, dalam sehari berapa pendapatan yang diperoleh Bapak itu? Kemudian pikiranku melayang dan mengandai-andai. Jika Pantai ini sepi oleh wisatawan, Bapak itu akan kehilangan uang yang cukup besar. Sayang, aku tidak berbicara dengan dia. Dia sibuk sekali melayani konsumen. Pasti sangat menarik mengetahui hal tersebut. Yah, aku ingin tahu lebih dalam karena Bali sangat mengandalkan pariwisata. Pasca Bom Bali I dan II tentu pariwisata Bali mengalami perubahan. Terlebih lagi, wacana RUU Pornografi yang akan disahkan mendapatkan tentangan keras masyarakat di Bali.


Mulai Dari Nol

Denpasar, 16 Oktober 2008
Mendekati Idul Fitri 1429 H, ada satu iklan yang sangat menarik dari Pertamina. Meski sudah agak terlambat, namun sangat menarik membahas mengenai iklan tersebut. Ada seorang Bapak yang hendak mengisi bensin di suatu SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Sambil menelpon dengan nada marah dia meminta petugas untuk mengis bensin ke tangki mobil. Petugas SPBU yang masih terlihat muda itu meminta Bapak yang sedang menelpon itu untuk mematikan handphonenya. Tidak lupa, petugas SPBU mengucapkan "dimulai dari angka nol". Setelah selesai mengisi bensin, pada saat yang bersamaan, bedug magrib mengumandang dan petugas SPBU mempersilakan Bapak itu untuk berbuka. Namun, Bapak itu menolak dengan nada yang marah. Petugas SPBU menanggapi dengan senyum dan ucapan terima kasih. Sungguh sabar sekali petugas itu dan bagus sekali pelayanannya (dalam iklan.......)

Masih bercerita mengenai iklan tersebut. Pada saat Idul Fitri dan setelah melaksanakan sholat Ied, petugas SPBU yang sama dengan penggalan cerita di atas kembali bekerja. Bapak yang sama pun datang kembali namun dengan semua anggota keluarga, tentu setelah sholat Ied pula. Dengan sabar, petugas SPBU mengucapkan "minal aidin walfaidzin), melayani dan tentu mengatakan "dimulai dari angka nol". Bapak yang duduk di depan sebelah kiri itu pun hanya menganggukkan kepala. Kemudian petugas itu mengisi bensin di tangki mobil.
Dengan melihat dari spion mobil, Bapak tersebut mengingat bagaimana dia pernah berkata kasar dengan petugas tersebut. Singkat cerita, Bapak itu keluar dan berjabat tangan dengan petugas SPBU tersebut serta berkata "dimulai dari nol lagi" dan diikuti dengan seluruh anggota keluarganya.

Suatu skenario iklan yang sangat mengharukan. Iklan tersebut mengandung makna. Selain dalam rangka Idul Fitri yang identik dengan saling memaafkan, tidak ada dosa kesalahan. Iklan tersebut terinspirasi dari keinginan Pertamina untuk selalu memberikan pelayanan yang baik dan jujur kepada palnggan. Kata "mulai dari nol" satu slogan yang menarik. Pas ketika Idul Fitri dan pas ketiga Pertamina ingin memberikan pelayanan yang jujur kepada konsumen. “Pasti Pas” dengan kata lain tidak ada tipu-tipu lagi ke konsumen.

Namun ada yang menarik. Salah satu teman mengatakan bahwa iklan itu sebagai permintaan maaf Pertamina bahwa selama ini telah membohongi pelanggan ketika mengisi bensin di SPBU. Entah takaran kurang pas, atau tidak mulai dari nol, pelayanan petugas yang tidak ramah atau bentuk-bentuk lain. Yah, itu salah satu pendapat teman.


Secara ideal, pelayanan di SPBU seperti yang dilakukan petugas dalam iklan tersebut. Ramah, murah senyum, sabar, menunjukkan angka nol serta mengisi bahan bakar yang pas dengan permintaan pelanggan. Ye, kalau pelanggan diberi takaran yang lebih mesti mau, tapi SPBU yang rugi. Demikian juga kalau pelanggan diberi takaran yang kurang pasti marah-marah. Maka yang tepat “Pasti Pas”. Enak di pelanggan, enak di SPBU.

Namun, ada yang berbeda antara SPBU di Jawa (Salatiga, Solo dan Sekitarnya) dengan SPBU di Bali (khususnya di Denpasar). Ucapan petugas “dimulai dari angka nol” belum pernah ditemui pada beberapa SPBU yang pernah dikunjungi. Ada apa gerangan ya? Angka yang menunjukkan rupiah dan liter pembelian pun banyak yang tidak jelas pada mesin pengisian. Bagaimana pelanggan bisa tahu “Pasti Pas”? Jangan-jangan ada aksi tipu-tipu yang merugikan pelanggan. Sungguh apabila hal itu terjadi, iklan itu hanyalah sekedar iklan yang tidak membawa dampak/pesan yang ingin disampaikan. Ataukah itu hanya diterapkan pada daerah-daerah tertentu saja?

Patut menjadi perhatian otoritas terkait mengenai keberadaan SPBU di Bali. Iklan yang ditampilkan ketika Idul Fitri tersebut seharusnya dijadikan titik balik perubahan yang dilakukan oleh Pertamina. Dan tentu saja, pelayanan petugas perlu ditingkatkan sehingga pelanggan menjadi puas.