Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Januari 2009

Menaksir Iklan Politik dan Komunikasi Kampanye

Musim kampanye, ialah salah satu fase dalam proses pemilihan umum. Pada ase tersebut, memunculkan sejumlah fenomena-fenomena menarik di masyarakat. Pergantian era kepemimpinan memunculkan kewajiban untuk mencari pemimpin baru. Tak pelak, sistem pemilihan hadir untuk memberikan solusi sebagai cara untuk mendapat pemimpin baru yang sesuai dengan kehendak rakyat. Muncullah tokoh-tokoh yang ”mencoba” untuk menjadi pemimpin negara yang mencoba menarik simpati pemilih dan memperoleh dukungan suara. Oleh sebab itu, pada musim kampanye inilah dipandang sebagai saat yang tepat untuk mengucapkan janji-janji politik, menebar pesona dalam usaha untuk memperoleh penilaian positif oleh masyarakat di daerah pemilihan.

Mencermati keadaan di atas, muncul sejumlah usaha-usaha yang dilakukan oleh calon pemimpin tersebut untuk memperoleh dukungan suara rakyat, salah satunya melakukan iklan politik sebagai sebuah komunikasi kampanye. Fakta menarik adalah, di beberapa daerah kini marak spanduk atau baliho yang berjejar di sepanjang jalan sampai perkampungan penduduk. Dengan memasang muka, jargon, janji ataupun ajakan untuk memilih, alat tersebut dinilai sebagai media yang sahih untuk berkampanye.

Betulkah demikian? Belum tentu. Menilik beberapa fakta di lapangan media-media yang disebutkan di atas belum tentu memberikan dampak yang positif untuk memperoleh dukungan suara. Perlu sejumlah tools lain yang digunakan oleh calon tersebut sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan kampanye ke benak pemilih. Muncul sejumlah cara yang ditempuh seperti penggunaan internet campaign, berkunjung ke forum-forum masyarakat, bakti-bakti sosial, mengiklankan diri mereka di media-media massa baik cetak maupun elektronik atau cara-cara lain yang intinya bermaksud menguasai benak pikiran konsumen.

Strategi Menyerang Pemilih
Beberapa media yang disebutkan di atas, digunakan sebagai media penyampai pesan dari pemberi ke penerima pesan. Strategi-strategi disusun untuk menginvasi benak konsumen dan menyakinkan pemilih bahwa sang calon adalah pemimpin yang tepat. Penyampai pesan menyuguhkan materi-materi kampanye melalui media yang digunakan untuk diterima oleh pemilih.

Banyak spanduk dan baliho terpasang dipinggir jalan. Bentuk komunikasi tersebut hanyalah komunikasi satu arah yang menampilkan sosok ”positif” dari sang salon. Dikatakan komunikasi satu arah dan menampilkan sosok positif karena penerima pesan hanya dicekoki oleh profil calon seperti nama, asal daerah pemilihan, jargon-jargon sampai ajakan untuk memilih sang kandidat. ”Komunikasi politik jalanan”, demikian Ibed menyebutnya, yang melihat pemandangan iklan-iklan kampanye menggunakan media spanduk dan baliho yang terpasang di jalan-jalan.

Tak tanggung-tanggung, spanduk atau baliho yang dipasang sangat banyak dengan berbagai ukuran, mulai dari yang kecil hingga yang seukuran layar bioskop. Tentu disesuaikan dengan kocek sang kandidat. Pengusaha percetakan/sablon laris manis menanti setiap rupiah yang masuk ke kantong, menanti order tim sukses calon legislatif untuk pembuatan media kampanye sesuai dengan yang dipesan.

Cara lain untuk menarik simpati pemilih adalah dengan mengunjungi pemilih dengan menghadiri pertemuan-pertemuan di lingkungan masyarakat atau melalui pelaksanaan bakti sosial. Turun ke daerah pemilihan dilakukan sebagai pengumuman bahwa calon yang bersangkutan maju sebagai kandidat pemimpin. Tentu dengan kampanye ke masyarakat terkait dengan visi, misi serta motto yang disandang untuk maju di kursi pemilihan, selain janji perubahan apabila calon yang bersangkutan benar-benar terpilih nanti. Satu per satu calon legislatif secara bergantian mendengung-dengungkan program-program yang ditawarkan ke daerah pemilihan masing-masing.

Di lain pihak, ada sejumlah calon legislatif yang memanfaatkan teknologi internet untuk mengiklankan dirinya, seperti membangun website/blog, memanfaatkan mailing list hingga terdaftar dalam komunitas persahabatan di dunia cyber seperti facebook. Beberapa calon legislatif terlihat di media tersebut untuk membangun persahabatan juga sebagai media mencari dukungan serta doa restu. Melalui media internet tersebut, calon legislatif mencoba untuk menarik simpati melalui pemikiran-pemikiran mereka yang dapat dibaca oleh pemilih secara online. Atau dengan menambah ”friends” di facebook untuk menjaring suara dan aspirasi.

Sejumlah Kelemahan
Dilihat berdasarkan media-media iklan berkampanye calon legislatif tersebut, ada sejumlah kelemahan yang terjadi. Spanduk/baliho yang terpasang di jalanan (baca: komunikasi politik jalanan) hanyalah komunikasi satu arah dari calon kepada pemilih di daerah pemilihan masing-masing. Barisan baliho-baliho itu hanyalah sebagai media untuk menciptakan kesadaran (awarness) pemilih bahwa calon legislatif tersebut sebagai salah satu caleg dari suatu parpol peserta pemilu. Itulah mengapa, perlu dilakukan upaya lain untuk mendukungnya. Bukankah pemilih malahan bingung, semua baliho/spanduk menjanjikan sesuatu hal yang semuanya baik dan positif. Bagaimana untuk mengujinya kemampuan sang calon?

Maka dari itu, muncullah sejumlah agenda seperti debat publik, diskusi dan sejenis forum untuk mengetahui dan memaparkan visi misi sang kandidat. Dari kegiatan-kegiatan tersebut, pemilih akan bisa menilai apakah sesuai dengan keinginan rakyat. Dengan mengundang ahli pada beberapa bidang dan diberi sejumlah studi kasus real yang terjadi di masyarakat, di posisikan sudah duduk di kursi legislatif dan dimungkinkan terjadi komunikasi dua arah maka kemampuan calon akan dapat dinilai. Pada event seperti ini, ada calon yang berani tampil, ada yang ragu-ragu, namun ada pula yang takut bertemu dengan konstituen/masyarakat. Sesuatu hal yang aneh, namun terjadi.

Komunikasi dua arah dalam proses kampanye adalah hal yang penting. Spanduk/baliho hanyalah untuk membangun kesadaran bahwa sang calon “ada” sebagai peserta pemilu. Setelah tahap tersebut perlu dilakukan upaya untuk membangun ketertarikan pemilih pada sang calon. Melalui komunikasi dua arah, pemilih akan bisa mengukur kemampuan sang kandidat dalam hal kemampuan, visi misi serta pandangan-pandangan mereka terhadap permasalahan di masyarakat.

Komunikasi dengan pemilih dapat dilakukan juga dengan mengunjungi pemilih secara langsung. Mengetuk pintu dari rumah ke rumah, memperkenalkan diri dan menjaring permasalahan di masyarakat melalui pemilih. Namun, sudah adakah yang berani melakukannya? Memang perlu kerja keras serta pengorbanan diri karena menjadi wakil rakyat adalah sebuah tanggung jawab yang besar pula.

Bagaimana dengan aktivitas kegiatan-kegiatan sosial di masa kampanye? Ini pun salah satu metode menarik simpati pemilih. Masyarakat diajak untuk peduli dengan lingkungan kerja bakti, donor darah, pengobatan gratis, hingga pembagian kondom gratis. Masyarakat ditarik untuk bersimpati ke calon legislatif bahwa dia peduli dengan masyarakat. Kegiatan-kegiatan ini selain untu menciptakan kesadaran juga sebagai ajang agar pemilih interest dengan sang calon.

Pada event-event seperti itu adalah saat yang tepat untuk mendekatkan diri ke masyarakat. Dengan maksud untuk mengetahui keadaan masyarakat pemilih, apa masalah-masalah sosial yang dihadapi hingga pemberitahuan kebijakan yang akan ditawarkan ke pemilih apabila sang calon terpilih. Akan tetapi, fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini adalah pemilih sudah kenyang dengan ”janji manis” yang ditawarkan ketika masa kampanye. Belum ada bukti, kalau tidak ingin dikatakan tidak, akan apa yang dijanjikan pada masa-masa kampanye di pemilihan-pemilihan yang lalu. Janji perubahan, lapangan kerja terbuka, harga sembako murah, bebas korupsi, pendidikan gratis, kesehatan murah, pengurusan izin dipermudah, harga BBM murah, kemiskinan berkurang, banjir ditanggulangi dan ribuan janji-janji serupa yang bermuara kepada kesejahteraan rakyat belum terealisasi. Inilah tantangan untuk mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya.

Layakkah menjadi wakil rakyat jika melupakan rakyatnya? Itulah pekerjaan rumah yang perlu untuk dipecahkan. Iklan dan komunikasi politik yang dikumandangkan selama masa kampanye jangan berhenti manakala telah memperoleh kursi di pemerintahan. Itulah mengapa, apabila beriklan atau berkomunikasi politik pada masa kampanye perlu kehatian-hatian dalam pelaksanaannya.

Menarik Simpati Pemilih dan Pertanggungjawabannya
Menarik simpati pemilih diperlukan untuk memperoleh dukungan suara pada hari pelaksanaan pemilu. Setidaknya ada beberapa faktor kunci yang perlu diperhatikan untuk menarik simpati dan dukungan pemilih. Seorang tokoh yang memiliki mimpi untuk duduk di kursi pemerintahan perlu memiliki keunggulan dibandingkan dengan kandidat lain. Massa (baca: pemilih) akan melihat faktor-faktor yang dimiliki oleh sang kandidat.

Calon yang memiliki darah keturunan orang-orang besar (baca: penguasa/mantan penguasa) akan dipandang oleh pemilih. Lihatlah bagaimana Megawati Soekarno Putri, tidak dapat dipungkiri faktor Soekarno memberikan dampak yang signifikan pada Megawati. Sejumlah nama-nama yang memiliki darah keturunan ”orang besar” di Indonesia memegang posisi dan jabatan penting di pemerintahan. Tidak bisa disangkal, faktor keturunan masih sangat relevan menjadi faktor yang dipandang pemilih untuk calon pemimpinnya.

Di tengah kesusahan-kesusahan dan problema sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia dibutuhkan figur calon maupun pemimpin yang menaruh kepedulian kepada rakyatnya. Faktor inilah yang saat ini dicoba dilakukan oleh calon legislatif dalam masa kampanye untuk menarik simpati dan dukungan, dalam bentuk bakti sosial, pemberian bantuan ke masyarakat dan sejenisnya. Selain itu, calon legislatif mencoba untuk memberikan kepeduliannya melalui penjabaran visi dan misinya terhadap permasalahan yang dihadapi, dalam bentuk debat, diskusi atau tulisan-tulisan yang dipublikasikan maupun tidak. Media-media seperti surat kabar, website, blog dan semacamnya, menjadi incaran yang dipakai untuk menyalurkan pemikiran. Concern, kepedulian dan perhatian calon legislatif terhadap permasalahan di masyarakat pun akan menjadi pertimbangan di benak pemilih manakala menentukan profil calon pemimpinnya.

Kepopuleran seseorang di masyarakat, disebut sebagai salah satu elemen penentu kemenangan seseorang dalam pemilu. Lihatlah banyak lembaga survei yang melakukan survei popularitas calon menurut masyarakat. Dari pihak kandidat, mereka berupaya keras untuk terus mendongkrak popularitas mereka. Lihat iklan Partai Demokrat yang mencoba mengerek popularitas SBY, presiden incumbent, yang berhasil menurunkan harga BBM sampai 3 kali. Atau bagaimana fenomena calon legislatif dari kalangan artis yang saat ini sangat ramai. PAN, salah satu peserta pemilu yang paling banyak memanfaatkan kepopuleran artis-artis tersebut untuk memperoleh dukungan suara. Sampai-sampai muncul anekdot yang mengatakan ”Partai Artis Nasional”. Kalaupun tidak sebagai caleg, partai politik menggunakan artis-artis tersebut untuk menarik massa pada saat kampanye

Namun, bagaimanapun kekuatan finansial tidak bisa dilepaskan. Untuk gencar melakukan iklan, kunjungan-kunjungan, bakti sosial, membangun website/blog, membuat baliho/spanduk, kaos dan media iklan sejenisnya, memerlukan dukungan finansial yang kuat. Salah seorang tim kampanye partai politik di Bali mengiyakan pernyataan di atas. Satu orang caleg harus mengeluarkan dana jutaan rupiah per bulan sebagai belanja kampanye demi untuk dikenal dan mendapatkan simpati konstituen. Lalu, bagaimana untuk caleg-caleg yang tidak berkekuatan finansial?

Kandidat yang memiliki kekuatan faktor-faktor di atas memiliki peluang untuk menang. Tinggal bagaimana mengelola elemen-elemen tersebut sebagai sebuah strategi menarik simpati dan memperoleh dukungan suara. Hanya mengoptimalkan satu elemen pada masa kampanye belum menjamin konstituen terpikat. Paling tidak menggunakan dua elemen atau kombinasi faktor-faktor tersebut perlu untuk menarik simpati massa hingga memperoleh dukungan. Sebagai penutup, tanggung jawab yang dipegang nantinya di kursi pemerintahan sangat berat. Janji-janji masa kampanye, visi misi program yang telah diutarakan tidak hanya sebatas ucapan lidah tidak bertulang, namun dari hati nurani yang berjiwa besar untuk mengabdi kepada bangsa dan negara demi kesejahteraan rakyat.

Sabtu, 17 Januari 2009

Kemeriahan Sang Kandidat

















Foto: Sunny Boy Batubara


Pemilu legislatif tinggal menghitung hari. Partai Politik peserta pemilu sibuk mempersiapkan diri menyambut “pertempuran“ untuk memperebutkan kursi legislatif di DPRD II, DPRD I maupun DPR Pusat. Masing-masing peserta pemilu menjalankan strategi-strategi untuk menarik simpati dan perhatian masyarakat.


Semua sibuk menyambut pesta demokrasi. Euforia pasca kejatuhan rezim Orde Baru, memberikan ruang untuk masing-masing warga negara Indonesia dalam berdemokrasi terlebih perubahan yang signifikan pada sistem Pemilu di negeri Indonesia. Multipartai. Tercatat banyak partai-partai baru maupun partai lama yang “bangkit kembali“ setelah dilebur di zaman Soeharto.


Rakyat pun secara langsung memilih wakil-wakil rakyat mereka secara langsung. Sesuatu hal yang tidak ada sejak Soeharto berkuasa. Pertaruangan semakin sengit ketika warga negara diberi kebebasan untuk menjadi calon anggota legislatif. Para calon legislatif itu harus menarik simpati rakyat untuk memilih mereka.


Tidak dapat dihindari lagi perang untuk menarik simpati masyarakat dilakukan calon legislatif di masing-masing daerah pemilihan masing-masing. Upaya mengenalkan diri dilakukan dengan berbagai macam cara. Semua berupaya merebut simpati pemilih. Memasang poster, spanduk, iklan merupakan salah satu cara untuk unjuk muka pada pemilih. Wujud-wujud bantuan langsung pun diberikan ke pemilih dengan mengatakan “mohon doa restu dalam pemilihan bulan April nanti“. Itupun muncul dalam spanduk, baliho dan media kampanye yang lain.


“Kalau cuma restu, pasti diberikan “ujar seseorang ketika mendengar ucapan seorang calon legislatif di suatu pertemuan.


Ada pula yang berkata kepada seorang rekannya, “Ini baru satu caleg ke kampung kita, kalau semua caleg turun ke sini, pasti banyak amplop yang didapat“.


Fakta-fakta itu terjadi. Pemberian sumbangan maupun melaksanakan kegiatan sosial dilakukan untuk mendekatkan diri ke pemilih, mulai dari pengobatan gratis, penanaman pohon, sampai kepada pemberian sejumlah uang untuk uang kas kampung atau pembangunan.


Kemeriahan menyambut pesta demokrasi terjadi di Provinsi Bali. Spanduk dan baliho dengar berbagai macam ukuran, stiker yang tertempel di angkutan umum maupun mobil pribadi. Perjalanan pulang pergi Denpasar-Solo ketika libur Natal dan Tahun Baru terdapat pemandangan yang menarik terjadi di sepanjang jalan.


Baliho dan spanduk berbagai macam ukuran terpampang di setiap pinggir jalan yang dilalui. Sangat banyak dan sangat meriah dengan warna-warna yang beraneka ragam dan dengan slogan-slogan dan motto-motto yang ditampilkan.

Secara total, Calon Legislatif DPRD I Provinsi Bali saja sebanyak 826 yang terbagi ke dalam 9 daerah pemilihan. Bisa dibayangkan, bagaimana cara masing-masing caleg tersebut menarik simpati pemilih di daerah pemilihan masing-masing. Belum lagi jumlah calon legislatif di masing-masing kota/kabupaten maupun untuk pusat. Akan sangat meriah.


Bermacam cara dilakukan untuk menarik simpati massa. Baliho-baliho yang dipasang di jalan-jalan kota sampai dengan jalan-jalan di perkampungan merupakan indikasi bahwa gelaran pemilu legislatif April 2009 nanti akan terjadi sebuah pertarungan yang sengit. Apalagi pasca Mahkamah Konstitusi menggugurkan poin a-e pasal 214 UU No. 10 Tahun 2008 mengenai Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Berdasarkan putusan MK tersebut, nomor urut tidak lagi berpengaruh dalam penetapan calon terpilih untuk anggota DPR, DPRD Provinsi maupun DPRD Kota/Kabupaten.

Dengan kata lain, calon legislatif yang memperoleh suara yang terbanyak, dialah yang akan terpilih. Oleh sebab itu, terdapat potensi untuk menarik pemilih melalui popularitas calon legislatif ke masyarakat melalui politik uang, bantuan-bantuan sosial dan bentuk-bentuk lain. Tanpa melihat bagaimanakah kemampuan, dedikasi, loyalitas dari calon legislatif terhadap negara dan masyarakat. Muncul anggapan di masyarakat bahwa calon legislatif yang “berduitlah“ yang nanti akan memenangkan persaingan itu.


Kemeriahan iklan-iklan politik di jalan-jalan menjadi pemandangan yang akhirnya akan menjadi sampah. Tunggu saja nanti setelah masa kampanye habis dan pemilu berakhir spanduk, baliho, poster dan media iklan politik lain yang terpampang di jalan-jalan itu hilang dan akhirnya menumpuk menjadi sampah. Semoga, janji-janji yang terpasang dalam iklan-iklan tersebut pun tidak hanyut dan hilang manakala sang kandidat betul-betul duduk di kursi legislatif.

Selasa, 16 Desember 2008

Catatan Ringan Training IRI


Denpasar, 15 Desember 2008

Sabtu pagi, 13 Desember 2008. Sebuah ruang pertemuan di Hotel Aston Denpasar, berkumpul simpatisan muda partai politik Bali yang akan bertarung di Pemilu 9 April 2009 nanti. Di ruang Agung Hotel Aston Denpasar tersebut terpampang satu spanduk kegiatan ber-title “Party Youth Development and Constituent Outreach Program“. Kegiatan yang difasilitatori The International Republican Institute ini akan dilaksanakan selama 2 hari dan merupakan tahap pertama dari “Youth Party Forum“. Menurut rencana, kegiatan tahap kedua akan dilaksanakan pada bulan Januari 2009.

Untuk membantu partai politik dan para calon legislatif agar dapat bekerja efektif dalam Kampanye Pemilu 2009 mendatang, IRI memiliki program khusus untuk pemuda partai politik yang akan membekali para pemuda partai dengan ketrampilan khusus yang dibutuhkan untuk membantu partai politik pada masa sebelum dan sesudah pemilu. Sifat program pelatihan ini adalah ToT (Training of Trainers). Para pemyda diharapkan akan kembali ke partai masing-masing untuk melakukan pelatihan lanjutan dan/atau aktivitas bagi partai masing-masing untuk meraih dukungan suara pada Pemilu 2009 mendatang.

Lebih lanjut, tujuan dari program ini adalah untuk membantu partai serta calon legislatifnya untuk meraih dukungan suara pada masa pra-Pemilu serta untuk membantu anggota dewan ketika sudah mulai bekerja lembaga legislatif. IRI dalam undangan yang dibagikan ke partai politik mensyaratkanpeserta dalam kegiatan ini adalah pemuda partai yang bukan calon legislatif. Namun, kenyataan yang terjadi adalah banyak peserta yang merupakan calon legislatif dari suatu partai. Hal tersebut ditemui ketika berbincang santai dengan beberapa peserta, ada beberapa orang yang memberikan kartu nama yang menyatakan bahwa dirinya adalah calon legislatif dari suatu partai politik. Menjadi sebuah bahan evaluasi untuk training-training selanjutnya

Pada tahap pertama ini, materi yang disampaikan akan berfokus kepada mengenai Research Importance to a Campaign. Meskipun demikian, ada beberapa materi lain yang telah disiapkan oleh IRI. Sebelum sesi pertama dimulai, Ibu Desi Indrimayutri, selalu Program Officer IRI, memiliki beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta training dan dikumpulkan pada saat makan siang. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan pada program-program training yang selama ini penulis ikuti baik sebagai peserta maupun panitia.
1. Mengapa Anda datang ke training IRI ini?
2. Harapan Anda dengan mengikuti training IRI ini?
3. Bagaimana kemungkinan hasil pencapaian harapan Anda tersebut melalui training yang dilakukan IRI ini?

Pada sesi pertama dengan topik “Pemuda dalam Politik“ oleh Yudistira Adnyana, seorang dosen FISIP dari Universitas Udayana. Dalam makalahnya yang berjudul “Peran Pemuda dalam Partai Politik untuk Mendukung Demokratisasi“. Adnyana menyampaikan bahwa beberapa hal penting mengenai peran pemuda dalam kancah politik. Dosen FISIP Universitas Udayana ini memaparkan peran pemuda baik secara historis dan komparatif seperti gerakan pemuda di Perancis, Amerika Serikat Jerman maupun di negera sendiri, Indonesia.

Meskipun demikian, untuk memainkan perannya di dunia politik, pemuda perlu mengetahui dan memahami beberapa hal yang penting, seperti masalah demokratisasi, sistem pemilu, sistem kepartaian, sistem pemerintahan. Dalam kaitannya dengan perannya di parpol, pemuda perlu mengambil peran dalam memperkuat fungsi-fungsi partai politik, baik dalam hal komunikasi politik, sosialisasi politik, rekrutmen politik maupun pengatur konflik.

Dalama kesimpulan akhirnya, beliau memaparkan bahwa demokrasi sebagai “proyek politik“ jangka panjang, maka generasi muda partai secara alamiah mempunyai peran penting demi kelangsungan partai dan demokrasi. Oleh sebab itu, untuk memperbaiki sistem politik demokrasi ke depan, generasi muda partai harus punyai visi penataan sistem politik demokrasi.

Sebagai generasi muda yang akan melanjutkan tongkat estafet di partai politik mereka khususnya, kepemimpinan adalah salah satu hal yang penting dan harus dimiliki. Perdebatan kepemimpinan apakah dari bakat keturunan atau karena proses belajar menjadi salah satu bahan diskusi kelompok yang difasilitasi oleh Supriyadi dari bagian Ilmu Perilaku Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Namun, diawal sesi, peserta diajak untuk bermain dalam kelompok, semacam ice breaking. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok dan tiap kelompok dipilih ketua dan sekretaris. Tiap ketua dan sekretaris kelompok maju ke depan untuk mengambil undian. Ternyata kertas undian tersebut ialah daftar lagu. Tiap kelompok harus menyanyikan 4 lagu yang diacak secara bersama-sama dan sekeras-kerasnya. Lagu-lagu yang harus dinyanyikan adalah Garuda Pancasila, Matahari Tenggelam, Maju Tak Gentar dan Halo-Halo Bandung.

Semua kelompok bersemangat. Meskipun kelompok lain menyanyi dengan keras, tiap kelompok harus bersemangat dan tidak terpengaruh. Meskipun makalah yang disajikan banyak membahas teori kepemimpinan, namun Supriyadi menyampaikan materi secara sederhana. Supriyadi mampu menyederhanakan teori kepemimpinan yang abstrak ke yang lebih empiris melalui permainan-permainan yang dilakukan.

Dari dua sesi yang disampaikan, terdapat 5 karakteristik pemimpin yaitu fokus, semangat, kebersamaan, belajar, mencari harapan anggota dan komunikasi dua arah. Karakteristik tersebut diperoleh dari sampaikan oleh peserta melalui proses permainan atau diskusi yang dilakukan. Permainan menyanyi kelompok bersama-sama dengan lagu yang berbeda, diskusi karakteristik kepemimpinan individu dan kelompok serta permainan komunikasi.

Khusus permainan komunikasi ini, ketua kelompok diharuskan menyampaikan perintah hanya secara lisan sedangkan anggota diminta menggambar bangun yang diuraikan secara lisan oleh ketua dan sekretaris masing-masing kelompok dengan estimasi waktu sesuai dengan permintaan ketua dan sekretaris kelompok. Hasilnya, banyak yang keliru dengan tahap pertama ini. Banyak yang bingung atas apa yang disampaikan sehingga banyak bangun yang digambar peserta salah. Terjadi diskusi. Apa yang salah? Si pemberi pesan ataukah penerima pesan yang salah? Keduanya salah. Apa yang kurang? Hanya satu arah, disampaikan lisan, tidak ada alat bantu/peraga dan estimasi waktu pemberian informasi kurang.

Baiklah. Diulang. Sekarang diperbaiki. Perkirakan estimasi waktu, peserta boleh bertanya atau pun menggunakan peraga/alat bantu. Ketua dan sekretaris kelompok tampil lebih bagus. Peserta pun dalam menggambar bangun lebih mudah dan jelas. Hasilnya, jauh lebih bagus dari tahap pertama bila hanya dilakukan dengan komunikasi satu arah. Metode belajar yang sangat-sangat menarik. Setiap mendapatkan kesimpulan dari tiap-tiap game dicatat. Hasilnya, 5 hal utama dalam kepemimpinan. Pemimpin yang memiliki karakteristik fokus, semangat, kebersamaan, belajar, mencari harapan anggota dan selalu berkomunikasi dua arah.

Di akhir sesi, Supriyadi dan panitia membagikan selembar kertas ke masing-masing peserta yang berisi pertanyaan seputar pengetahuan umum. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan sangatlah terbatas. Banyak peserta yang “terjebak“ mengerjakan semua 21 pertanyaan tersebut. Mereka tidak mengindahkan perintah “bacalah kesemuanya dulu dengan cermat“, padahal, peserta hanya diharuskan menjawab 2 pertanyaan saja.
“Seorang pemimpin harus cermat dan teliti“, kata Supriyadi.
“Kalau nanti jadi pemimpin, dimintai tanda tangan surat penting langsung ditandatangani tanpa dibaca dulu, namun ternyata ada kesalahan bagaimana?“, tandasnya

Menarik sekali materi yang dibawakan Pak Supriyadi.

Di sesi selanjutnya, diisi oleh James Lantry dari Australia. Materi inti dari training ini yaitu tentang “Research Importance to a Campaign“. James memaparkan bahwa sangat penting melakukan riset sebelum melakukan kampanye, akan akan dapat mengerti sasaran dari kampanye serta sesuai dengan isu-isu serta permasalahan hangat yang ada di masyarakat. Selain itu, penting untuk menggali data dan informasi yang ada di masyarakat sehingga sasaran kampanye akan jelas dan terarah. Biaya (cost) untuk kampanye pun akan lebih efisien bila dilakukan riset. Hal tersebut telah dibuktikan melalui pengalaman-pengalaman James pada beberapa riset-riset yang telah dilakukannya.

Tujuan dari materi ini adalah peserta dapat melakukan riset yang sederhana sebelum melakukan kampanye. Melalui riset tersebut akan diperoleh sejumlah data dan informasi yang sangat berguna untuk berkampanye. Riset yang dapat didesain oleh parpol sendiri, tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Data-data dapat diperoleh melalui berita di televisi, koran, interne, data hasil pemilihan masa lalu atau data sekunder lainnya.

James memberikan 12 pertanyaan sederhana yang dapat digunakan parpol untuk melakukan riset yang tidak membutuhkan biaya yang besar, bisa melalui kuesioner atau telepon. Selain melalui penelitian kuantitatif tersebut, riset juga dapat dilakukan melalui penelitian kualitatif dengan melakukan Focus Group Discussion. Akan banyak informasi yang didapat jika melakukan riset dan hasilnya bermanfaat untuk kampanye.

Sesi James pada hari pertama berakhir dan akan dilanjutkan pada hari kedua. Di ruang yang sama, James kembali memaparkan pentingnya data, pentingnya melakukan riset untuk mencari topik aktual di masyarakat sehingga kampanye yang dilakukan akan efektif dan efisien. Dia buktikan melalui tayangan iklan kampanye yang dibuatnya dibandingkan dengan iklan kampanye pesaing. Lebih mengena dan lebih hemat cost jika melakukan riset. Hasil penelitian baik yang kuantitatif maupun yang kualitatif bermanfaat untuk kampanye di masyarakat dan menarik simpati masyarakat.

Cukup interaktif diskusi James dengan peserta. Ada yang bertanya harus seberapa besar sampel yang diambil karena biasanya itu menjadi “rahasia dapur“ lembaga survei, apakah 1000, 2000 dan seterusnya. Adapula yang bertanya mengenai FGD yang dinilai mempunyai banyak kelemahan baik karena fasilitator atau peserta FGD yang dominan berbicara sehingga peserta lain jadi “ngikut“ sehingga akan sangat bias.

Sangat menarik. Meski hanya satu sesi. Namun, pembicara selanjutnya akan memaparkan mengenai pertanyaan dan daftar pertanyaan. Sesuai dijadwal acara, materi ini akan disampaikan selama 2 sesi oleh Drs. I Nyoman Wiratmaja M.Si, dosen Universitas Warmadewa Denpasar.

Ada banyak tips yang diberikan untuk merumuskan dan mendesain suatu alat ukur berupa kuesioner, baik jenis-jenis pertanyaan maupun jawaban yang dikehendaki, apakah pertanyaan terbuka atau tertutup. Selain itu juga dipaparkan kelemahan dan keunggulan masing-masing serta hal-hal yang perlu dihindari dalam mendesain pertanyaan, contohnya pertanyaan memihak, satu pertanyaan dua makna, bias kebaikan umum, bias identitas responden, istilah asing dan teknis, bias simbol kehormatan, pertanyaan membingungkan, pertanyaan negatif ganda, pertanyaan prediksi di luar diri responden, kategori jawaban tidak menunjukkan prioritas penempatan, kategori jawaban yang tumpang tindih dan kategori jawaban tidak menampung semua kemungkinan. Oleh sebab itu penting melakukan pre-test kuesioner sehingga akan dapat diketahui kelemahan dan dapat dilakukan perbaikan-perbaikan.

Sayang, pelatihan seperti ini masih minim simulasi, meskipun banyak diskusi. Pengalaman yang dilakukan oleh penulis pada beberapa training di beberapa dinas pemerintahan di Jawa Tengah membuktikan bahwa training seperti itu perlu latihan dan praktek lapangan. Pernah melakukan training penelitian di dinas Pariwisata Kebumen dan Banyumas mengenai metodologi penelitian mulai dari desain kuesioner hingga pengolahan data dan pelaporan.

Selama 2 hari peserta ditatar untuk praktek lapangan. Pada saat masih ada trainer, bisa dikatakan berhasil, peserta mengerti. Ya, karena kalau lupa masih bisa bertanya, bahkan ada yang mencatat. Namun, ketika trainer pergi dan mereka hendak melakukan penelitian yang serupa, semuanya lupa, bingung mulai darimana. Satu pelajaran yang berharga...

Sempat “menyentil“ Ibu Desi dengan usul kurang simulasi, dia jawab bahwa pada sesi selanjutnya akan dilakukan simulasi. Dan ternyata memang benar. Peserta diminta untuk membuat pertanyaan sederhana terkait dengan jumlah parpol di Bali yang ikut, nama-nama parpol yang dikenal dan apakah responden mengenal nama partai peserta pelatihan atau pertanyaan-pertanyaan lain yang masih berkaitan. Masing-masing peserta harus mencari seorang responden di sekitar Aston Hotel untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan kemudian akan didiskusikan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ditemui.

Setelah selesai banyak peserta yang menceritakan pengalaman-pengalaman mereka. Ada yang menanyai orang yang sama (double posting), pengetahuan responden yang kurang tentang jumlah parpol di Bali terbukti dari ketidaktahuan mereka mengenai jumlah parpol peserta pemilu 2009, hingga parpol pewawancara yang belum dikenal oleh responden dikarenakan parpol kecil. Melalui moments wawancara ini, pewawancara juga melakukan edukasi maupun promosi terhadap parpolnya. Banyak hal yang bisa ditemui di lapangan.

Setelah sesi diskusi tersebut, James kembali menjadi fasilitator. Dia memandu mengenai tabulasi secara sederhana. Dalam presentasinya itu, dia biasa menggunakan Microsoft Excel untuk mentabulasi, atau software SPSS. Sangat menarik sebenarnya, lagi-lagi peserta tidak simulasi yang disayangkan pada tahap ini.

Namun menurut Ibu Desi, akan dilakukan training lanjutan terkait dengan pengolahan data, database ataupun teknologi informasi. Untuk menjaring aspirasi peserta, IRI telah membagikan angket untuk bahan-bahan yang dikehendaki peserta untuk training teknologi informasi di bulan Januari 2009, menurut rencana.

Semoga peserta training ini tidak seperti peserta training dari Dinas Pariwisata Kabupaten Kebumen dan Banyumas di atas. Ketika peserta kembali ke parpol masing-masing, hasil pelatihan ini dapat ditularkan kepada parpol masing-masing. Paling tidak, penelitian sederhana dapat dilakukan oleh partai politik yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar melakukan kampanye. Atau, karakteristik kepemimpinan sebagai hasil kesimpulan diskusi di sesi Kepemimpinan dapat dilakukan oleh masing-masing peserta dan disebarkan laksana “virus“ figur pemimpin yang dihasilkan adalah sesuai dengan cita-cita luhur bangsa. (Win)