Selasa, 16 Desember 2008

Catatan Ringan Training IRI


Denpasar, 15 Desember 2008

Sabtu pagi, 13 Desember 2008. Sebuah ruang pertemuan di Hotel Aston Denpasar, berkumpul simpatisan muda partai politik Bali yang akan bertarung di Pemilu 9 April 2009 nanti. Di ruang Agung Hotel Aston Denpasar tersebut terpampang satu spanduk kegiatan ber-title “Party Youth Development and Constituent Outreach Program“. Kegiatan yang difasilitatori The International Republican Institute ini akan dilaksanakan selama 2 hari dan merupakan tahap pertama dari “Youth Party Forum“. Menurut rencana, kegiatan tahap kedua akan dilaksanakan pada bulan Januari 2009.

Untuk membantu partai politik dan para calon legislatif agar dapat bekerja efektif dalam Kampanye Pemilu 2009 mendatang, IRI memiliki program khusus untuk pemuda partai politik yang akan membekali para pemuda partai dengan ketrampilan khusus yang dibutuhkan untuk membantu partai politik pada masa sebelum dan sesudah pemilu. Sifat program pelatihan ini adalah ToT (Training of Trainers). Para pemyda diharapkan akan kembali ke partai masing-masing untuk melakukan pelatihan lanjutan dan/atau aktivitas bagi partai masing-masing untuk meraih dukungan suara pada Pemilu 2009 mendatang.

Lebih lanjut, tujuan dari program ini adalah untuk membantu partai serta calon legislatifnya untuk meraih dukungan suara pada masa pra-Pemilu serta untuk membantu anggota dewan ketika sudah mulai bekerja lembaga legislatif. IRI dalam undangan yang dibagikan ke partai politik mensyaratkanpeserta dalam kegiatan ini adalah pemuda partai yang bukan calon legislatif. Namun, kenyataan yang terjadi adalah banyak peserta yang merupakan calon legislatif dari suatu partai. Hal tersebut ditemui ketika berbincang santai dengan beberapa peserta, ada beberapa orang yang memberikan kartu nama yang menyatakan bahwa dirinya adalah calon legislatif dari suatu partai politik. Menjadi sebuah bahan evaluasi untuk training-training selanjutnya

Pada tahap pertama ini, materi yang disampaikan akan berfokus kepada mengenai Research Importance to a Campaign. Meskipun demikian, ada beberapa materi lain yang telah disiapkan oleh IRI. Sebelum sesi pertama dimulai, Ibu Desi Indrimayutri, selalu Program Officer IRI, memiliki beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta training dan dikumpulkan pada saat makan siang. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan pada program-program training yang selama ini penulis ikuti baik sebagai peserta maupun panitia.
1. Mengapa Anda datang ke training IRI ini?
2. Harapan Anda dengan mengikuti training IRI ini?
3. Bagaimana kemungkinan hasil pencapaian harapan Anda tersebut melalui training yang dilakukan IRI ini?

Pada sesi pertama dengan topik “Pemuda dalam Politik“ oleh Yudistira Adnyana, seorang dosen FISIP dari Universitas Udayana. Dalam makalahnya yang berjudul “Peran Pemuda dalam Partai Politik untuk Mendukung Demokratisasi“. Adnyana menyampaikan bahwa beberapa hal penting mengenai peran pemuda dalam kancah politik. Dosen FISIP Universitas Udayana ini memaparkan peran pemuda baik secara historis dan komparatif seperti gerakan pemuda di Perancis, Amerika Serikat Jerman maupun di negera sendiri, Indonesia.

Meskipun demikian, untuk memainkan perannya di dunia politik, pemuda perlu mengetahui dan memahami beberapa hal yang penting, seperti masalah demokratisasi, sistem pemilu, sistem kepartaian, sistem pemerintahan. Dalam kaitannya dengan perannya di parpol, pemuda perlu mengambil peran dalam memperkuat fungsi-fungsi partai politik, baik dalam hal komunikasi politik, sosialisasi politik, rekrutmen politik maupun pengatur konflik.

Dalama kesimpulan akhirnya, beliau memaparkan bahwa demokrasi sebagai “proyek politik“ jangka panjang, maka generasi muda partai secara alamiah mempunyai peran penting demi kelangsungan partai dan demokrasi. Oleh sebab itu, untuk memperbaiki sistem politik demokrasi ke depan, generasi muda partai harus punyai visi penataan sistem politik demokrasi.

Sebagai generasi muda yang akan melanjutkan tongkat estafet di partai politik mereka khususnya, kepemimpinan adalah salah satu hal yang penting dan harus dimiliki. Perdebatan kepemimpinan apakah dari bakat keturunan atau karena proses belajar menjadi salah satu bahan diskusi kelompok yang difasilitasi oleh Supriyadi dari bagian Ilmu Perilaku Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Namun, diawal sesi, peserta diajak untuk bermain dalam kelompok, semacam ice breaking. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok dan tiap kelompok dipilih ketua dan sekretaris. Tiap ketua dan sekretaris kelompok maju ke depan untuk mengambil undian. Ternyata kertas undian tersebut ialah daftar lagu. Tiap kelompok harus menyanyikan 4 lagu yang diacak secara bersama-sama dan sekeras-kerasnya. Lagu-lagu yang harus dinyanyikan adalah Garuda Pancasila, Matahari Tenggelam, Maju Tak Gentar dan Halo-Halo Bandung.

Semua kelompok bersemangat. Meskipun kelompok lain menyanyi dengan keras, tiap kelompok harus bersemangat dan tidak terpengaruh. Meskipun makalah yang disajikan banyak membahas teori kepemimpinan, namun Supriyadi menyampaikan materi secara sederhana. Supriyadi mampu menyederhanakan teori kepemimpinan yang abstrak ke yang lebih empiris melalui permainan-permainan yang dilakukan.

Dari dua sesi yang disampaikan, terdapat 5 karakteristik pemimpin yaitu fokus, semangat, kebersamaan, belajar, mencari harapan anggota dan komunikasi dua arah. Karakteristik tersebut diperoleh dari sampaikan oleh peserta melalui proses permainan atau diskusi yang dilakukan. Permainan menyanyi kelompok bersama-sama dengan lagu yang berbeda, diskusi karakteristik kepemimpinan individu dan kelompok serta permainan komunikasi.

Khusus permainan komunikasi ini, ketua kelompok diharuskan menyampaikan perintah hanya secara lisan sedangkan anggota diminta menggambar bangun yang diuraikan secara lisan oleh ketua dan sekretaris masing-masing kelompok dengan estimasi waktu sesuai dengan permintaan ketua dan sekretaris kelompok. Hasilnya, banyak yang keliru dengan tahap pertama ini. Banyak yang bingung atas apa yang disampaikan sehingga banyak bangun yang digambar peserta salah. Terjadi diskusi. Apa yang salah? Si pemberi pesan ataukah penerima pesan yang salah? Keduanya salah. Apa yang kurang? Hanya satu arah, disampaikan lisan, tidak ada alat bantu/peraga dan estimasi waktu pemberian informasi kurang.

Baiklah. Diulang. Sekarang diperbaiki. Perkirakan estimasi waktu, peserta boleh bertanya atau pun menggunakan peraga/alat bantu. Ketua dan sekretaris kelompok tampil lebih bagus. Peserta pun dalam menggambar bangun lebih mudah dan jelas. Hasilnya, jauh lebih bagus dari tahap pertama bila hanya dilakukan dengan komunikasi satu arah. Metode belajar yang sangat-sangat menarik. Setiap mendapatkan kesimpulan dari tiap-tiap game dicatat. Hasilnya, 5 hal utama dalam kepemimpinan. Pemimpin yang memiliki karakteristik fokus, semangat, kebersamaan, belajar, mencari harapan anggota dan selalu berkomunikasi dua arah.

Di akhir sesi, Supriyadi dan panitia membagikan selembar kertas ke masing-masing peserta yang berisi pertanyaan seputar pengetahuan umum. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan sangatlah terbatas. Banyak peserta yang “terjebak“ mengerjakan semua 21 pertanyaan tersebut. Mereka tidak mengindahkan perintah “bacalah kesemuanya dulu dengan cermat“, padahal, peserta hanya diharuskan menjawab 2 pertanyaan saja.
“Seorang pemimpin harus cermat dan teliti“, kata Supriyadi.
“Kalau nanti jadi pemimpin, dimintai tanda tangan surat penting langsung ditandatangani tanpa dibaca dulu, namun ternyata ada kesalahan bagaimana?“, tandasnya

Menarik sekali materi yang dibawakan Pak Supriyadi.

Di sesi selanjutnya, diisi oleh James Lantry dari Australia. Materi inti dari training ini yaitu tentang “Research Importance to a Campaign“. James memaparkan bahwa sangat penting melakukan riset sebelum melakukan kampanye, akan akan dapat mengerti sasaran dari kampanye serta sesuai dengan isu-isu serta permasalahan hangat yang ada di masyarakat. Selain itu, penting untuk menggali data dan informasi yang ada di masyarakat sehingga sasaran kampanye akan jelas dan terarah. Biaya (cost) untuk kampanye pun akan lebih efisien bila dilakukan riset. Hal tersebut telah dibuktikan melalui pengalaman-pengalaman James pada beberapa riset-riset yang telah dilakukannya.

Tujuan dari materi ini adalah peserta dapat melakukan riset yang sederhana sebelum melakukan kampanye. Melalui riset tersebut akan diperoleh sejumlah data dan informasi yang sangat berguna untuk berkampanye. Riset yang dapat didesain oleh parpol sendiri, tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Data-data dapat diperoleh melalui berita di televisi, koran, interne, data hasil pemilihan masa lalu atau data sekunder lainnya.

James memberikan 12 pertanyaan sederhana yang dapat digunakan parpol untuk melakukan riset yang tidak membutuhkan biaya yang besar, bisa melalui kuesioner atau telepon. Selain melalui penelitian kuantitatif tersebut, riset juga dapat dilakukan melalui penelitian kualitatif dengan melakukan Focus Group Discussion. Akan banyak informasi yang didapat jika melakukan riset dan hasilnya bermanfaat untuk kampanye.

Sesi James pada hari pertama berakhir dan akan dilanjutkan pada hari kedua. Di ruang yang sama, James kembali memaparkan pentingnya data, pentingnya melakukan riset untuk mencari topik aktual di masyarakat sehingga kampanye yang dilakukan akan efektif dan efisien. Dia buktikan melalui tayangan iklan kampanye yang dibuatnya dibandingkan dengan iklan kampanye pesaing. Lebih mengena dan lebih hemat cost jika melakukan riset. Hasil penelitian baik yang kuantitatif maupun yang kualitatif bermanfaat untuk kampanye di masyarakat dan menarik simpati masyarakat.

Cukup interaktif diskusi James dengan peserta. Ada yang bertanya harus seberapa besar sampel yang diambil karena biasanya itu menjadi “rahasia dapur“ lembaga survei, apakah 1000, 2000 dan seterusnya. Adapula yang bertanya mengenai FGD yang dinilai mempunyai banyak kelemahan baik karena fasilitator atau peserta FGD yang dominan berbicara sehingga peserta lain jadi “ngikut“ sehingga akan sangat bias.

Sangat menarik. Meski hanya satu sesi. Namun, pembicara selanjutnya akan memaparkan mengenai pertanyaan dan daftar pertanyaan. Sesuai dijadwal acara, materi ini akan disampaikan selama 2 sesi oleh Drs. I Nyoman Wiratmaja M.Si, dosen Universitas Warmadewa Denpasar.

Ada banyak tips yang diberikan untuk merumuskan dan mendesain suatu alat ukur berupa kuesioner, baik jenis-jenis pertanyaan maupun jawaban yang dikehendaki, apakah pertanyaan terbuka atau tertutup. Selain itu juga dipaparkan kelemahan dan keunggulan masing-masing serta hal-hal yang perlu dihindari dalam mendesain pertanyaan, contohnya pertanyaan memihak, satu pertanyaan dua makna, bias kebaikan umum, bias identitas responden, istilah asing dan teknis, bias simbol kehormatan, pertanyaan membingungkan, pertanyaan negatif ganda, pertanyaan prediksi di luar diri responden, kategori jawaban tidak menunjukkan prioritas penempatan, kategori jawaban yang tumpang tindih dan kategori jawaban tidak menampung semua kemungkinan. Oleh sebab itu penting melakukan pre-test kuesioner sehingga akan dapat diketahui kelemahan dan dapat dilakukan perbaikan-perbaikan.

Sayang, pelatihan seperti ini masih minim simulasi, meskipun banyak diskusi. Pengalaman yang dilakukan oleh penulis pada beberapa training di beberapa dinas pemerintahan di Jawa Tengah membuktikan bahwa training seperti itu perlu latihan dan praktek lapangan. Pernah melakukan training penelitian di dinas Pariwisata Kebumen dan Banyumas mengenai metodologi penelitian mulai dari desain kuesioner hingga pengolahan data dan pelaporan.

Selama 2 hari peserta ditatar untuk praktek lapangan. Pada saat masih ada trainer, bisa dikatakan berhasil, peserta mengerti. Ya, karena kalau lupa masih bisa bertanya, bahkan ada yang mencatat. Namun, ketika trainer pergi dan mereka hendak melakukan penelitian yang serupa, semuanya lupa, bingung mulai darimana. Satu pelajaran yang berharga...

Sempat “menyentil“ Ibu Desi dengan usul kurang simulasi, dia jawab bahwa pada sesi selanjutnya akan dilakukan simulasi. Dan ternyata memang benar. Peserta diminta untuk membuat pertanyaan sederhana terkait dengan jumlah parpol di Bali yang ikut, nama-nama parpol yang dikenal dan apakah responden mengenal nama partai peserta pelatihan atau pertanyaan-pertanyaan lain yang masih berkaitan. Masing-masing peserta harus mencari seorang responden di sekitar Aston Hotel untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan kemudian akan didiskusikan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ditemui.

Setelah selesai banyak peserta yang menceritakan pengalaman-pengalaman mereka. Ada yang menanyai orang yang sama (double posting), pengetahuan responden yang kurang tentang jumlah parpol di Bali terbukti dari ketidaktahuan mereka mengenai jumlah parpol peserta pemilu 2009, hingga parpol pewawancara yang belum dikenal oleh responden dikarenakan parpol kecil. Melalui moments wawancara ini, pewawancara juga melakukan edukasi maupun promosi terhadap parpolnya. Banyak hal yang bisa ditemui di lapangan.

Setelah sesi diskusi tersebut, James kembali menjadi fasilitator. Dia memandu mengenai tabulasi secara sederhana. Dalam presentasinya itu, dia biasa menggunakan Microsoft Excel untuk mentabulasi, atau software SPSS. Sangat menarik sebenarnya, lagi-lagi peserta tidak simulasi yang disayangkan pada tahap ini.

Namun menurut Ibu Desi, akan dilakukan training lanjutan terkait dengan pengolahan data, database ataupun teknologi informasi. Untuk menjaring aspirasi peserta, IRI telah membagikan angket untuk bahan-bahan yang dikehendaki peserta untuk training teknologi informasi di bulan Januari 2009, menurut rencana.

Semoga peserta training ini tidak seperti peserta training dari Dinas Pariwisata Kabupaten Kebumen dan Banyumas di atas. Ketika peserta kembali ke parpol masing-masing, hasil pelatihan ini dapat ditularkan kepada parpol masing-masing. Paling tidak, penelitian sederhana dapat dilakukan oleh partai politik yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar melakukan kampanye. Atau, karakteristik kepemimpinan sebagai hasil kesimpulan diskusi di sesi Kepemimpinan dapat dilakukan oleh masing-masing peserta dan disebarkan laksana “virus“ figur pemimpin yang dihasilkan adalah sesuai dengan cita-cita luhur bangsa. (Win)