
Denpasar, 1 Desember 2008
Minggu malam, Inter Milan melakoni pertandingan yang berat melawan kuda hitam Napoli di Stadion Giuzeppe Meazza, Milan, Italia. Pertandingan yang disiarkan langsung oleh Trans 7 ini sudah aku tunggu-tunggu. Sejal pukul 20.00 WITA, aku sudah online di depan TV, meskipun pertandingan itu akan disiarkan pada sekitar pukul 22.00 WITA. Sengaja memang aku siap jam 20.00 WITA karena juga ingin menyaksikan Golden Way-nya Mario Teguh dan Metro Files.di Metro TV.
Malam terakhir di bulan November itu benar-benar memberikan inspirasi. Mario Teguh mengangkat tema “If tomorrow never comes” dan Metro Files mengangkat Panglima Besar Jenderal Soedirman. Sungguh anugerah yang tak terkira disuguhi motivasi dari Mario Teguh dan semangat perjuangan Pak Dirman.
Setelah melihat dua tayangan inspirasional itu, akhirnya pertandingan Inter Milan vs Napoli dimulai. Giornata yang berat bagi Inter Milan, mengingat prestasi Napoli yang sangat mengesankan sehingga berada di lima besar klasemen.
Pada pertandingan pekan ke-14, Minggu (30/11), I Nerazzurri mengalahkan Napoli 2-1.Inter unggul 2-0 lebih dulu lewat gol Ivan Cordoba pada menit ke-16 dan Sulley Muntari menit ke-24. Namun, Napoli mampu memperkecil kekalahan lewat Lavezzi menit ke-36. Dengan kemenangan itu, Inter Milan yang memimpin klasemen sudah mengantongi nilai 33. Sementara Inter unggul 6 poin atas Juventus dan AC Milan.
Juventus pada pertandingan pekan ini mengalahkan Reggina dengan skor telah 4-0, sedangkan AC Milan harus tunduk di kandang Palermo dengan skor 3-1. Juventus dan AC Milan berada di peringkat kedua dan ketiga dengan poin yang sama 27.
Perjuangan masih panjang, jalan menuju scudetto masih terjal. Masih tersisa 24 pertandingan lagi untuk sampai ke tangga juara di musim ini. Mengutip salah satu lagu yang sering dinyanyikan suporter Indonesia “Tunjukkan prestasimu, libaslah musuhmu, Inter Milan aku nang mburimu” (Lagu ini begitu akrab denganku manakala aku sering melihat pertandingan sepakbola di Stadion Manahan Solo, ketika itu Solo menjadi homebase beberapa klub seperti Pelita Solo, Persijatim Solo FC. Setelah kedua tim itu hengkang, tim asli dari Kota Bengawan menggunakan Stadion Manahan sebagai kandang mereka).