Menarik mencermati himbauan yang diucapkan oleh Bang Napi pada salah satu tayangan kumpulan berita kriminal di televisi. “Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan....Waspadalah.....Waspdalah”. Tidak pelak lagi, bagian akhir ini ingin melihat peristiwa yang semakin lama bukannya semakin menurun tetapi malah terus mengalami peningkatan, dialah kriminalitas.
Himbauan Bang Napi di atas menjadi sebuah refleksi yang mengingatkan kita untuk selalu waspada...waspada dan waspada sebab “bahaya” dapat mengancam sewaktu-waktu. Lihatlah, betapa sangat menyedihkan dan mengerikan kasus-kasus kriminalitas yang terjadi akhir-akhir ini dengan segala macam motif dan metode untuk melakukannya.
Tengoklah kasus mutilasi yang banyak terjadi di Indonesia, yang paling heboh akhir-akhir ini adalah kasus mutilasi yang dilakukan oleh Ryan. Belum selesai kasus itu diselidiki, Kepolisian Republik Indonesia disibukkan lagi dengan mutilasi di bus Mayasari. Kasus mutilasi juga terjadi di Denpasar, Bali.
Tidak hanya mutilasi, kasus-kasus kriminalitas mencuat ke permukaan dan pemberitaan mulai dari pencurian, perampokan, pemerkosaan, penculikan, perjudian, penjambretan, aborsi, narkoba serta kasus-kasus kriminalitas yang mengerikan lainnya. Inikah yang dimaksudkan dengan bangsa yang berkeTuhanan Yang Maha Esa dan Berkemanusiaan yang adil dan beradab? Amatlah disayangkan jika di tengah bangsa yang berketuhanan dan berkemanusian, namun tingkat kriminalitas yang terjadi juga meningkat.
Telah banyak korban yang berjatuhan akibat semakin tinggi angka kriminalitas. Mencermati berbagai peristiwa-peristiwa kriminalitas yang terjadi, banyak pelajaran yang dapat dipetik. Indonesia sebagai negara hukum yang berKetuhanan dan berperikemanusiaan perlu mawas diri dan berkaca. Aparat kepolisian tiap-hari terus disibukkan untuk mengungkap kasus-kasus kriminal yang terus mengalami peningkatan. Inikah pertanda idealisme bangsa tidak lagi tertanam dan dilaksanakan oleh anak-anak bangsa?
Menekan angka kriminalitas memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Jangan sampai Indonesia menjadi tidak aman dikarenakan oleh ulah anak bangsa sendiri. Ketakutan, trauma adalah bagian yang tidak terpisahkan dari korban kriminalitas maupun warga lainnya. Maka dari itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan lingkungan.
Tidakkah akan menjadi lebih harmonis, ketika kehidupan dipenuhi dengan sikap saling toleransi dan menghormati. Tidak jarang, kasus kriminal terjadi hanya dikarenakan oleh masalah-masalah yang sepele. Meskipun demikian, kewaspadaan terhadap segala macam tindakan kriminal yang mengancam kehidupan tetap diperlukan. Jaga keamanan Indonesia sehingga masyarakat akan dapat tenang manakala bekerja, anak-anak dapat konsentrasi untuk sekolah dan kehidupan masyarakat akan berjalan secara harmonis.
Dari bagian satu sampai empat ini, adalah sebuah kewajiban setiap warga negara untuk menjaga negara di mana mereka berdiam. Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi hanyalah sedikit penggambaran terhadap fenomena dan fakta yang terjadi di masyarakat Indonesia. Sudah menjadi kewajiban bagi kita semua menjaga Indonesia. Kalau bukan kita yang menjaga Indonesia, siapa lagi.
Himbauan Bang Napi di atas menjadi sebuah refleksi yang mengingatkan kita untuk selalu waspada...waspada dan waspada sebab “bahaya” dapat mengancam sewaktu-waktu. Lihatlah, betapa sangat menyedihkan dan mengerikan kasus-kasus kriminalitas yang terjadi akhir-akhir ini dengan segala macam motif dan metode untuk melakukannya.
Tengoklah kasus mutilasi yang banyak terjadi di Indonesia, yang paling heboh akhir-akhir ini adalah kasus mutilasi yang dilakukan oleh Ryan. Belum selesai kasus itu diselidiki, Kepolisian Republik Indonesia disibukkan lagi dengan mutilasi di bus Mayasari. Kasus mutilasi juga terjadi di Denpasar, Bali.
Tidak hanya mutilasi, kasus-kasus kriminalitas mencuat ke permukaan dan pemberitaan mulai dari pencurian, perampokan, pemerkosaan, penculikan, perjudian, penjambretan, aborsi, narkoba serta kasus-kasus kriminalitas yang mengerikan lainnya. Inikah yang dimaksudkan dengan bangsa yang berkeTuhanan Yang Maha Esa dan Berkemanusiaan yang adil dan beradab? Amatlah disayangkan jika di tengah bangsa yang berketuhanan dan berkemanusian, namun tingkat kriminalitas yang terjadi juga meningkat.
Telah banyak korban yang berjatuhan akibat semakin tinggi angka kriminalitas. Mencermati berbagai peristiwa-peristiwa kriminalitas yang terjadi, banyak pelajaran yang dapat dipetik. Indonesia sebagai negara hukum yang berKetuhanan dan berperikemanusiaan perlu mawas diri dan berkaca. Aparat kepolisian tiap-hari terus disibukkan untuk mengungkap kasus-kasus kriminal yang terus mengalami peningkatan. Inikah pertanda idealisme bangsa tidak lagi tertanam dan dilaksanakan oleh anak-anak bangsa?
Menekan angka kriminalitas memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Jangan sampai Indonesia menjadi tidak aman dikarenakan oleh ulah anak bangsa sendiri. Ketakutan, trauma adalah bagian yang tidak terpisahkan dari korban kriminalitas maupun warga lainnya. Maka dari itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan lingkungan.
Tidakkah akan menjadi lebih harmonis, ketika kehidupan dipenuhi dengan sikap saling toleransi dan menghormati. Tidak jarang, kasus kriminal terjadi hanya dikarenakan oleh masalah-masalah yang sepele. Meskipun demikian, kewaspadaan terhadap segala macam tindakan kriminal yang mengancam kehidupan tetap diperlukan. Jaga keamanan Indonesia sehingga masyarakat akan dapat tenang manakala bekerja, anak-anak dapat konsentrasi untuk sekolah dan kehidupan masyarakat akan berjalan secara harmonis.
Dari bagian satu sampai empat ini, adalah sebuah kewajiban setiap warga negara untuk menjaga negara di mana mereka berdiam. Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi hanyalah sedikit penggambaran terhadap fenomena dan fakta yang terjadi di masyarakat Indonesia. Sudah menjadi kewajiban bagi kita semua menjaga Indonesia. Kalau bukan kita yang menjaga Indonesia, siapa lagi.