Jumat, 06 Maret 2009

Bercermin Pada Kehidupan

Orang bijak berkata bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun, berpijak dari pernyataan tersebut masih banyak yang tidak bisa memahami arti penting pengalaman, baik pengalaman dari diri sendiri maupun pengalaman dari pihak lain. Setiap kejadian, peristiwa tentu ada makna dibaliknya sebagai salah satu pelajaran yang berharga.

Adalah sebuah cermin. Ketika wajah seseorang di depannya, maka akan terpampanglah roman mukanya. Apabila sedang berias, diberikanlah kepadanya sebuah cermin. Bahkan seseorang pun bisa mengambil rambut ubannya dengan menggunakan cermin. Bawalah filosofi cermin untuk untuk berkaca tentang kehidupan.

Menyimak pemberitaan hangat di media massa saat ini, hampir tidak pernah putus pemberitaan mengenai bencana alam, kejahatan, masalah-masalah sosial hingga ontran-ontran di panggung politik. Peristiwa-peristiwa bila ditelisik akan menjadi cermin yang akan memaparkan potret kehidupan. Namun, ketika memandang potret itu, masing-masing memiliki argumennya masing-masing.

Catatan singkat mengenai dukun cilik, Ponari, dari Jombang. Bagaimana ribuan orang berduyun-duyun memadati rumah anak yang diakui memiliki “watu gledhek” yang sakti. Ada yang menyoroti karena berhubungan dengan biaya kesehatan yang yang tidak dijangkau masyarakat, ada yang mengatakan pengobatan Ponari itu sudah biasa dilakukan, dan berbagai pendapat lainnya. Bagi pemerintah, sepatutnya hal tersebut menjadi cermin, apakah memang biaya kesehatan itu ada masyarakat yang tidak bisa menjangkau.

Banyak pro dan kontra mengenai fenomena itu. Ketika ilmu dan praktek kedokteran telah dikenal oleh masyarakat, namun ternyata masih banyak orang yang secara tidak masuk akal meminum air mineral yang dicelup batu gledhek ataupun sumur di rumah Ponari. Adalah sebuah tantangan besar untuk mengedukasi masyarakat, siapa tahu malah air sumur itu penuh dengan bakteri yang mendatangkan penyakit. Tetapi, ada sebagian memang orang yang sakit menjadi sembuh karena tersugesti dengan meminum air rendaman itu. Namun yang pasti, fenomena itu menjadi sebuah cermin yang berharga.

Dalam ranah pendidikan, saat ini begitu deras di pemberitaan mengenai kasus kekerasaan yang dilakukan oleh siswa-siswa pada beberapa daerah. Kasus kekerasan yang direkam dalam melalui ponsel itu menampar sejumlah pihak. Satu kejadian di suatu daerah diikuti oleh siswa di daerah lainnya. Mungkinkah ini sebuah fenomena gunung es? Kejadian yang terlihat hanya sedikit yang terungkap namun masih menggunung kejadian lainnya yang belum kelihatan. Adakah yang salah dengan pendidikan di Indonesia sehingga siswa didiknya bertingkah layaknya preman jalanan? Bagaimana peran orang tua? Apa yang harus dilakukan untuk mencegah kejadian yang sama timbul kembali?

Tidak kalah pula fakta mengenai kasus aborsi yang terus terkuak, di Bali, di Jakarta ataupun di kota-kota lain di Indonesia, yang masih belum dikuak. Sangat mengerikan.

Kejadian-kejadian yang telah berlaku itu bisa digunakan sebagai cermin diri, apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki di kemudian hari. Apakah ini yang diramalkan oleh Jayabaya dalam “Ramalan Jayabaya”? Beberapa diantarantya menyataka: Lali kamanungsan---Lupa jati kemanusiaan; Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan; Kanca dadi mungsuh ---Kawan menjadi lawan; Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu; Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna; Akeh anak haram---Banyak anak haram.

Ataukan menurut memang "jamane jaman edan. sing ora melu edan ora keduman”. Meskipun demikian, “sak beja-bejane wong kang lali isih luwih beja wong kang eling lan waspodo". Kira-kira seperti itulah yang dikatakan oleh Ronggowarsito.

Kiranya kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini bisa menjadi cermin diri untuk kita semua.