
Tidak berlebihan jika keempat kata dengan huruf terakhir “i” pada judul di atas sangat santer dibicarakan oleh publik Indonesia akhir-akhirnya (paling tidak mewakili banyak peristiwa di bumi pertiwi ini). Media massa baik cetak, elektronik menjadikannya bahan berita untuk dipublikasikan dan didiskusikan. Campur bawur, ruwet. Itulah kata yang (mungkin) dapat menggambarkan kondisi bangsa ini di tengah peristiwa-peristiwa yang membuat orang tergeleng-geleng.
“Kenken (bagaimana) toh dengan negeri Indonesia ini? penuh dengan korupsi.........korupsi.................korupsi...........”celetuk seorang ibu di sebuah warung makan ketika melihat sebuah tayangan di televisi. Acara itu bernama Kumpulan Perkara Korupsi (KPK). Yang namanya kumpulan, mesti lebih dari satu, demikian pula kumpulan (perkara) yang satu ini sudah sangat banyak di negeri ini.
Uang rakyat diembat, sedangkan rakyat kini hidup melarat. Kehidupan masyarakat yang sudah terhimpit, disuguhi tontonan para pejabat yang menggerogoti uang milik negara seperti “Tikus-Tikus Kantor” nya Iwan Fals.
Kumpulan perkara korupsi, perkara ini perlu terus dilanjutkan dan diselesaikan. Langkah awal ini perlu terus dilakukan untuk memburu “tikus-tikus penggerogot” kekayaan negara. Hampir setiap hari di berita-berita, ada saja peristiwa penangkapan oknum yang korupsi atau sidang yang terkait masalah korupsi, melibatkan para pejabat, politisi, menteri atau mantan menteri, banyak yang terlibat. Sudah berapa rupiah negara dirugikan oleh ulah mereka.
Uang menyilaukan mata. Menjadikan manusia buta dan kemudian menghalalkan segala cara untuk memperolehnya melalui korupsi. Inikah yang disebut zaman edan itu, yang tidak edan tidak kebagian. Yang diherankan adalah mengapa mereka sampai tega melakukan pencurian uang negara sedangkan kalau melihat di luar sana banyak rakyat miskin yang menderita dan sengsara, anak-anak banyak yang putus sekolah, kelaparan dan terdapat sekian banyak permasalah sosial lainnya.
Mau di bawa kemana negeri ini? Menghancurkan negara ini akan semudah membalikkan telapak tangan jika dibandingkan dengan bagaimana susah payah The Founding Father berjuang untuk mendirikannya.
Jaga Indonesia. Tetap utuh, tegak berdiri perkasa di tengah-tengah arus dan gelombang globalisasi. Itu tugas kita bersama, kalau bukan masyarakat Indonesia yang menjaga Indonesia, siapa lagi. (Bersambung)