Senin, 04 Mei 2009

Ketika Cinta Itu Menjadi Nyata

Lagu “Berita Kepada Kawan” Ebiet G Ade melantun sempurna, di tengah malam dengan ditemani bulan sabit di atas langit. Sayup-sayup ibarat syair kehidupan membisik di antar sela-sela telinga. Ada sejumlah bayangan yang hilir mudik menghantui alam pikiran ini.

Sesosok tubuh laki-laki tua menarik sebuah gerobag berwarna hijau. Berkeliling dari rumah ke rumah. Diambil sekeranjang sampah dari satu rumah, ditumpahkan ke atas gerobagnya. Bergerak ke rumah yang lain. Demikian itu terus dilakukan, tiap langkah demi langkah, mulai pagi hingga menjelang sore. Tiada terasa , hari demi harus terus dilalui dan pekerjaan nan berat itu telah dilalui lebih dari 20 tahunan.

Perjalanan yang dilalui memanglah menyedihkan, namun cinta telah mengobarkan semangat bapak itu untuk memberikan kehidupan untuk anak dan istrinya. Siapa yang tidak akan bangga melihat perjuangan yang sedemikian hebat?

Setiap peluh yang mengalir, adalah wujud cinta yang diberikan. Kini, usia telah membuat kulit yang hitam legam menjadi keriput, pandangan kabur. Keinginan untuk memberikan cinta itu belumlah padam.

Itulah sepenggal cerita orang tuaku, yang terus bekerja keras untuk keluarganya. Ingin membantu meringankan beban itu, namun apa daya, belum mampu, setidaknya sampai beberapa waktu yang lalu. Bayangan yang terus menghantui itu, kini sedikit demi sedikit akan menjadi pudar. Aku menyuruh Bapak untuk mengurangi aktivitas sebagai penarik gerobag sampah. Aku ingin Bapak lebih banyak istirahat, meskipun tetap beraktivitas menarik gerobag sampah tapi tidak terlalu banyak.

Aku bisa merasakan bagaimana beratnya menarik gerobag itu. Ya, beberapa waktu yang lalu, saat Bapak sakit, aku dan kakakku menggantikan Bapak untuk menarik gerobag hijaunya. Betapa sangatlah berat, terik panas matahari menyengat dan siapapun yang ditanya apakah mau melakukan pekerjaan itu, bisa ditebak pasti tidak akan mau. Akan tetapi, oleh Bapak yang telah berumur 68 tahun, pekerjaan itu dilakukan dengan penuh sukacita.

Aku tahan-tahan melihat Bapak yang tiap hari bersusah payah bekerja. Bapak hanya berpesan untuk menjadi pandai dan tidak seperti orang tuanya. Tidak tahan setiap kali melihat Bapak bekerja dibawah terik mentari bahkan ketika hujan deras turun. Di kala badan tidak enak pun, Bapak memaksakan diri untuk menarik gerobagnya.
Sudah cukup rekoso Bapak. Setelah 14 tahun di pembuangan dan lebih dari 20 tahun di jalanan berkeliling, sudah saatnya Bapak untuk mengurangi aktivitas berat itu.

Semalam aku menelpon Bapak dan mengutarakan maksudku. Semula memang timbul penolakan,khawatir mengenai kebutuhan rumah tangga yang harus terpenuhi. Aku coba yakinkan bahwa kalau sebagai anak yang sudah bekerja, aku yang akan bertanggung jawab untuk kebutuhan rumah. Wajar penolakan itu karena tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Sudah saatnya yang muda yang bekerja, itu yang aku katakan ke Bapak. Aku seneng ketika Bapak mau untuk mengurangi aktivitas. Kini giliranku untuk membahagiakan orang-orang yang aku cinta. Ketika cinta Bapak nyata dalam hidupku, aku ingin membalasnya dengan memberikan cinta yang nyata pula kepadanya. Ada seorang teman yang bertanya, “Bagaimana dengan ibumu, kok kalau menulis hanya mengutarakan cerita tentang Bapakmu saja? Jawabannya sederhana, terlalu sulit untuk diungkapkan, ketika harus mengurai kata demi kata untuk menggambarkan betapa besar kasih sayang seorang ibu. Sulit diterjemahkan dalam bahasa tulisan.