Minggu, 30 November 2008

Jelang Inter Milan Vs Napoli


Denpasar, 30 November 2008
Minggu yang sangat melelahkan kudu dilakoni Inter Milan. Setelah pekan lalu di Serie A Liga Italia harus menghadapi musuh bebuyutan, Juventus, dan di Liga Champion Eropa menghadapi Panathinaikos Yunani, pada pekan ke-14 ini Inter Milan harus menghadapi kuda hitam Napoli.

Di pentas Liga Champion Eropa, Inter Milan kalah di kandang sendiri dengan kemenangan 1-0. Akankah Inter Milan sanggup mempertahankan posisi di Puncak klasemen? Bersama menunggu aksi-aksi bintang Inter Milan yang diramu oleh pelatih Jose "The Special One " Mourinho.

Sabtu, 29 November 2008

Mengenang Keceriaan dan Kehampaan

KEMBALI TERKENANG
DAN AMAT MERINDUKAN
SAAT DAUN – DAUN BETERBANGAN
JATUH BERSERAKAN

MENGAYUH LANGKAH – LANGKAH KEHIDUPAN
MENUJU GERBANG KEEMASAN
AKU AMAT MERINDUKAN
BERSAMA – SAMA MENCAPAI KEJAYAAN

MUNGKINKAH MASA LALU KEMBALI TERULANG?
KETIKA TERIK MENTARI MEMBAKAR KULIT
ANGIN PANAS MENIUP RAGA
DI TENGAH HATI YANG DINGIN TERTIUP CINTA

BERJALAN MENGELILINGI PUTARAN WAKTU
DALAM KEBISINGAN MASIH ADA KEHAMPAAN
DALAM KEHAMPAAN MASIH ADA KECERIAAN
TERASA SEMPURNA

Luapan Cinta

Intan permata hati
Terang kemilau
Cahaya terpendar
Dalam kalbu
Menerangi sudut demi sudut
Relung hati

Tiada yang ku damba
Selain dirimu
Peluk mesra dan cium Kekaguman itu
Mengobati hati ini
Yang selalu rindu

Perhiasan yang melekat Dalam jiwa
Senantiasa memberi Keindahan
Lihatlah daku dan dikau
Selalu bersama dalam Kemesraan
Membisikkan kata-kata cinta
Meneriakkan panji-panji cinta

Bersama bertolak menuju lautan
Yang terhampar seakan tiada bertepi
Dengarkan ombak telah berteriak
Memanggil-manggil
Mengajak bersama
Mengarungi samudera raya

Suara Nurani

Mengalun musik
Menyejukan hati
Membius setiap telinga
Yang terpampang mempesona

Lagu-lagu mengalun
Diiringi suara rintik hujan
Syair yang didendangkan
Menyayat kalbu
Mengiris sampai menusuk
Tulang raga ini

Nyanyian perdamaian bertalu-talu
Merinding bulu roma
Setiap kali memaknai syairnya

Jumat, 28 November 2008

(Masih) Menunggu Konsistensi Inter Milan

Denpasar, 27 November 2008
Minggu 23 November 2008 pukul 03.00 WIB, alarm ponselku berbunyi. Sengaja kupasang pada jam tersebut karena ingin melihat pertandingan big match Inter Milan vs Juventus di TV 7. Partai yang ditunggu-tunggu penggemar sepakbola terutama Liga Italia Serie A. Giornata ke-13 ini, Inter Milan akan menghadapi Si Nyonya Besar, Juventus.


Inter Milan sebagai pemuncak klasemen sementara harus berupaya keras untuk mempertahankan posisi dari pesaing-pesaing terdekatnyanya seperti AC Milan, Juventus, Napoli, Lazio dan Fiorentina. Persaingan yang ketat di papan atas klasemen ini menyebabkan Inter Milan waspada dengan Juventus.


Pertandingan pagi itu berjalan sangat ketat, silih berganti kedua kesebelasan menyerang dan bertahan. Setelah lama menunggu gol, Inter Milan akhirnya mencetaknya melalui Muntari. Hingga menit akhir, kedudukan 1-0 untuk kemenangan Inter Milan. Dengan nilai 30 hingga pekan ke-13 ini, Inter Milan masih kokoh di puncak klasemen. Di pertandingan lain, AC Milan bertanding lawan Torino dengan hasil seri 2-2. Dengan poin 27 yang dimiliki AC Milan di peringkat ke-2 (selisih 3 poin), menjadikan Inter Milan penguasa hingga pekan ini.


Pada pentas Serie-A, Inter Milan akhir-akhir ini memang merajai dengan menjadi juara 3 kali berturut-turut, sejak pelimpahan mahkota juara dari Juventus karena kasus calciopoli. Kasus tersebut akhirnya menyeret Juventus terlempar ke Serie B.


Kamis pagi 27 November 2008 waktu Indonesia, Inter Milan menghadapi Panathinaikos di ajang Liga Champion Eropa. Bertanding dengan klub asal Yunani tersebut, Inter Milan dijagokan akan menang, apa lagi bermain di Stadion Giuseppe Meazza, Milan. Namun, hasil pertandingan berkata lain. Setelah keasyikan menggempur pertahanan Panathinaikos melalui striker andalan Zlatan “Ibra Kadabra” Ibrahimovic dan Adriano, Inter Milan malah lengah dan akhirnya kebobolan satu gol di menit 69 oleh Jose Sarriegi.


Meski tetap lolos ke babak 16 “Knock Out“ Besar, hasil ini mengecewakan. Klasemen akhir apakah Inter Milan menjadi juara atau runner-up group B, akan ditentukan pada match day ke-6 Liga Champion, Inter Milan akan melawan Werder Bremen, sedangkan Panathinaikos akan menghadapi Anathosis.


Sebagai salah satu klub besar dengan pelatih yang paten, pemain berkelas dunia dan dukungan dana yang melimpah, konsistensi Inter Milan dalam setiap pertandiangan masih terus ditunggu. Namun, dengan berkaca pada filosofi kehidupan, tidak selamanya kemenangan ada ditangan, tidak selamanya kekalahan akan didapat, tidak mungkin menang terus, tidak mungkin kalah terus. Yang terpenting adalah lakukan yang terbaik dan bermain secara fair play. (Win)

Kamis, 27 November 2008

Makna 24


Denpasar-26 November 2008
Selasa, 25 November 2007 pukul 23.50 WITA, terdengar suara ring tone ponselku, ada panggilan masuk. Aku yang sudah tertidur terbangun dan mengangkat panggilan tersebut. Ada yang mengucapakan selamat ulang tahun kepadaku. Hanya singkat dialog malam itu, kemudian aku tutup bermaksud ingin berdoa mengucap syukur dan ber-make a wish. Waktu menunjukkan pukul 00.00 WITA, pertanda sudah masuk hari Rabu 26 November 2008.


Di kamar aku bersama Sunny, sedang mengetik menggunakan laptop. Terlihat serius sekali. Aku beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar. Denpasar dingin dan mendung melingkupi kota ini sejak pagi. Duduk di teras sambil merenung sebentar. Pikiranku melayang dan membayangkan 24 tahun yang lalu di Dusun Benowo Wetan. Mak (panggilan untuk Ibuku) melahirkanku. Dan tanggal 26 November ini aku kini berumur 24 tahun.


Ulang tahun ke-24 ini sangat istimewa untukku. Untuk pertama kalinya, aku tidak ”merayakan” bersama keluarga di Benowo. Meskipun bukan dalam arti perayaan yang mewah, namun selama 23 tahun yang lalu aku mesti selalu berkumpul ketika tanggal 26 November. Itu yang penting dan selalu membuatku kangen bersama keluarga. Ulang tahun kali ini istiwewa, aku tidak bersama keluargaku.


Malam terus berjalan, mendekati pagi. Di teras rumah aku mengucapkan beberapa harapan-harapanku. Tanpa meniup lilin dan potong kue, aku berharap dapat membahagiakan keluargaku. Mereka telah banyak berkorban untukku, tidak ternilai harganya. Tanggal 25 November 2008, Bapak dan Mak menelponku, kangen. Aku katakan bahwa aku akan pulang pas libur Natal dan Tahun Baru. Aku pun sudah kangen dengan pecel bakmi Mak.


Aku juga ingin kuliah lagi. Bapak pernah mengatakan bahwa beliau hanya ”kuat” membiayai sampai S1 saja. Namun, pernah suatu saat mengatakan aku disuruh untuk kuliah S2. Entah uang darimana aku tidak tahu. Dalam hatiku, aku ingin melanjutkan kuliah dari usahaku sendiri, baik bekerja maupun mencari beasiswa. Aku telah memulainya dengan bekerja di Global Research and Intelligence Network. Sebuah awal yang bagus. Aku mulai menabung untuk melanjutkan studiku. Di samping itu, aku pun banyak memiliki kenalan dengan orang-orang luar negeri melalui perusahaan ini. Pengalaman yang sangat berharga.


Waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 WITA. Aku kembali ke kamar. Terlihat Sunny masih serius mengetik. Aku berbaring untuk tidur, karna nanti jam 05.30 aku harus bangun. Rutin itu aku lakukan dengan dibantu alarm di ponsenku.


Meskipun hari ini ultahku, namun tidak ada yang istimewa. Semua berjalan seperti hari-hari biasa. Paling terima SMS berisi ucapan selamat. Atau dari comments/message friendster ucapan selamat ultah yang datang dari teman-teman. Pikiranku masih dengan harapan-harapanku semalam.


Siang hari di kantor, ada SMS masuk mengucapkan selamat ultah. Ada yang menulis ”tiup lilinnya......potong kuenya........”, beraneka ragam SMS masuk ke ponselku.
”Potong kue?”, kataku dalam hati


Sampai umur ke-24 ini, hanya sekali potong kue plus tiup lilin. Itupun hadiah dari kakak ponakanku. Bagiku bukan itu substansinya. Aku lebih suka melakukan perenungan dalam kesendirian. Tidak ada pesta, makan-makan, mentraktir teman pun tidak. Mentraktir kalau ada teman yang tahu kemudian mereka ”menodong” minta ditraktir.


Aku ingin menggapai setiap harapanku, dengan tetap ”ora et labora”. Selamat ulang tahun Winarto

Rabu, 26 November 2008

Peta Berjasa

Peta di samping adalah peta kota Denpasar. Peta tersebut dipasang di dinding kamar Agung. Aku juga menggunakan kamar itu. Hingga saat ini, aku masih sering melihat peta itu.
Sejak datang pertama kali di Bali, aku memanfaatkan peta tersebut untuk mengenal jalan-jalan di Bali. Maklum, ketika bulan Juni ke Bali, aku beberapa kali tersesat di Denpasar, sedangkan Agung saat itu sedang ada di Jakarta. Oleh sebab itu, pernah peta tersebut tak lepas dan selalu ku bawa ketika jalan-jalan, biar tidak tersesat.
Meskipun saat itu aku membawa peta, namun pernah masih tersesat juga. Usut punya usut dan bertanya ternyata peta itu ada yang salah. Adapula jalan baru di Denpasar, belum masuk di peta itu. Tapi, lumayanlah ada peta yang kubawa.
Kini, peta itu sudah terpasang lagi di dinding kamar Agung lagi. Aku sudah lumayan kenal dengan jalan-jalan utama dan “jalan tikus” di Denpasar.
Peta itu sudah berjasa selama aku di Bali.

Menolak UU Pornografi

Spanduk yang mengatakan “Kami Menolak Keras UU Pornografi Demi Bhineka Tunggal Ika” di atas terpasang di Jalan Kepundung Denpasar (dekat kantor Bali Pos).
(Foto oleh: Sunny Boy Batubara

Senin, 10 November 2008

(Bagian Empat: Habis) Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi: Jaga Dong Indonesia

Menarik mencermati himbauan yang diucapkan oleh Bang Napi pada salah satu tayangan kumpulan berita kriminal di televisi. “Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan....Waspadalah.....Waspdalah”. Tidak pelak lagi, bagian akhir ini ingin melihat peristiwa yang semakin lama bukannya semakin menurun tetapi malah terus mengalami peningkatan, dialah kriminalitas.

Himbauan Bang Napi di atas menjadi sebuah refleksi yang mengingatkan kita untuk selalu waspada...waspada dan waspada sebab “bahaya” dapat mengancam sewaktu-waktu. Lihatlah, betapa sangat menyedihkan dan mengerikan kasus-kasus kriminalitas yang terjadi akhir-akhir ini dengan segala macam motif dan metode untuk melakukannya.
Tengoklah kasus mutilasi yang banyak terjadi di Indonesia, yang paling heboh akhir-akhir ini adalah kasus mutilasi yang dilakukan oleh Ryan. Belum selesai kasus itu diselidiki, Kepolisian Republik Indonesia disibukkan lagi dengan mutilasi di bus Mayasari. Kasus mutilasi juga terjadi di Denpasar, Bali.

Tidak hanya mutilasi, kasus-kasus kriminalitas mencuat ke permukaan dan pemberitaan mulai dari pencurian, perampokan, pemerkosaan, penculikan, perjudian, penjambretan, aborsi, narkoba serta kasus-kasus kriminalitas yang mengerikan lainnya. Inikah yang dimaksudkan dengan bangsa yang berkeTuhanan Yang Maha Esa dan Berkemanusiaan yang adil dan beradab? Amatlah disayangkan jika di tengah bangsa yang berketuhanan dan berkemanusian, namun tingkat kriminalitas yang terjadi juga meningkat.

Telah banyak korban yang berjatuhan akibat semakin tinggi angka kriminalitas. Mencermati berbagai peristiwa-peristiwa kriminalitas yang terjadi, banyak pelajaran yang dapat dipetik. Indonesia sebagai negara hukum yang berKetuhanan dan berperikemanusiaan perlu mawas diri dan berkaca. Aparat kepolisian tiap-hari terus disibukkan untuk mengungkap kasus-kasus kriminal yang terus mengalami peningkatan. Inikah pertanda idealisme bangsa tidak lagi tertanam dan dilaksanakan oleh anak-anak bangsa?

Menekan angka kriminalitas memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Jangan sampai Indonesia menjadi tidak aman dikarenakan oleh ulah anak bangsa sendiri. Ketakutan, trauma adalah bagian yang tidak terpisahkan dari korban kriminalitas maupun warga lainnya. Maka dari itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan lingkungan.

Tidakkah akan menjadi lebih harmonis, ketika kehidupan dipenuhi dengan sikap saling toleransi dan menghormati. Tidak jarang, kasus kriminal terjadi hanya dikarenakan oleh masalah-masalah yang sepele. Meskipun demikian, kewaspadaan terhadap segala macam tindakan kriminal yang mengancam kehidupan tetap diperlukan. Jaga keamanan Indonesia sehingga masyarakat akan dapat tenang manakala bekerja, anak-anak dapat konsentrasi untuk sekolah dan kehidupan masyarakat akan berjalan secara harmonis.

Dari bagian satu sampai empat ini, adalah sebuah kewajiban setiap warga negara untuk menjaga negara di mana mereka berdiam. Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi hanyalah sedikit penggambaran terhadap fenomena dan fakta yang terjadi di masyarakat Indonesia. Sudah menjadi kewajiban bagi kita semua menjaga Indonesia. Kalau bukan kita yang menjaga Indonesia, siapa lagi.

Jumat, 07 November 2008

(Bagian 3) Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi: Jaga Dong Indonesia


Kata “pornografi”, istilah lama yang akhir-akhir ini menyeruak di telinga masyarakat Indonesia. Hal tersebut terkait dengan pengesahan UU Pornografi yang telah disahkan 30 Oktober 2008 yang lalu oleh Dewan Perwakilan Rakyat RI. Meskipun disertai aksi Walk Out oleh Fraksi PDIP dan PDS, Rancangan Undang-Undang itupun akhirnya menjadi UU, tentu setelah melalui perjalanan panjang dan berliku-liku nan melelahkan.

Ada dua kubu, yang menolak dan mendukung UU tersebut, dengan argumentasi masing-masing. Aksi demontrasi menolak dan mendukung terjadi di beberapa daerah. Dengan argumentasi yang menurut anggapan mereka “benar”, diteriakkanlah suara-suara kebenaran tersebut ke publik.

Akankah konflik antara dua kubu itu terus berlanjut? Dapat dipastikan iya. Berbagai langkah telah disiapkan oleh kedua belah pihak pasca pengesahan UU Pornografi. Gubernur, DPRD Bali dan elemen masyarakat Bali menyatakan menolak pengesahan UU Pornografi serta akan mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Pendukung UU ini menyatakan bahwa pengesahan RUU menjadi UU sangatlah mendesak dilakukan, di tengah penurunan moralitas bangsa. Sedangkan, kubu yang menolak UU Pornografi menyatakan bahwa UU tersebut akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, disamping telah ada pengaturan mengenai pornografi telah ada.

Pelik memang berbicara mengenai masalah UU Pornografi ini. Penuh dengan argumentasi-argumentasi yang dianggap “benar”. Namun, menjembatani konflik di atas, ada beberapa hal yang penting untuk dicermati. Kedua kubu sama-sama menyatakan bahwa mendukung atau menolak adalah untuk “menyelamatkan” negeri ini. Apa gerangan yang perlu diselamatkan? Tentu point yang “diselamatkan” oleh masing-masing kubu berbeda serta memiliki latar belakang dalam hal penyelamatan bangsa ini. Dengan adanya UU Pornografi, di satu sisi akan digunakan untuk menyelamatkan moralitas bangsa yang telah merosot, disisi lain penolakan terhadap UU tersebut akan menyelamatkan keutuhan bangsa. Lalu, penyelamatan moralitas ataukah penyelamatan keutuhan bangsa? Kedua hal itu sangat penting dan memang perlu untuk diselamatkan dan dijaga, namun kehadiran UU pornografi bisa dikatakan bertolak belakang serta terjadi trade off dengan tujuan penyelamatan moralitas atau keutuhan bangsa.

Moralitas bangsa Indonesia memang patut dipertanyakan, sehingga timbul berbagai macam kejahatan, korupsi, perampokan, pemerkosaan, pencabulan dan tindakan criminal yang lain. Keutuhan bangsa pun tidak luput dari bahaya. Negara kesatuan terancam dengan adanya upaya untuk memisahkan diri dari NKRI.
Melalui peristiwa pengesahan UU Pornografi ini, setidaknya menyadarkan kita bahwa kedua aspek, moralitas dan keutuhan bangsa, perlu untuk diselamatkan. Iwan Fals dalam salah satu lagunya mengatakan diperlukan penegakan hukum yang tegas, tidak berat sebelah dan tidak pandang bulu, tanpa terkecuali yang bersalah harus dihukum.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah supaya berpikir, bertindak dan berbuat dalam koridor hukum yang berlaku. “Urus moralitas pribadi sebelum mengurusi moralitas orang lain”, kata seorang teman ketika berdiskusi mengenai lagu “Manusia Setengah Dewa”-nya Iwan Fals. Tentu, dengan didukung oleh penegakan akan supremasi hukum. Ingatlah kita pada cita-cita pendirian negeri ini, yaitu untuk pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya dengan berlandaskan pada Pancasila. Hal-hal yang ingin merusak dan mengancam cita-cita tersebut perlu diperangi.

Jaga masa depan negeri ini dari segala macam bahaya yang mengancam. Jaga keutuhan bangsa Indonesia dari setiap upaya-upaya yang bertujuan untuk memecah belah. Jaga Indonesia.

Kamis, 06 November 2008

Fair Play: Siap Tempur, Siap Menang Siap Kalah


Sebelum pertandingan sepak bola dilaksanakan (Liga Champion, World Cup, Euro, Liga Super Indonesia), terlebih dulu dilakukan ceremony, tidak lupa Fair Play Flag-nya. Ini bukan hanya sekedar slogan yang dicanangkan oleh Fédération Internationale de Football Association (FIFA). Fair flag tersebut dibawa oleh satu tim (biasanya anak-anak) dan berdiri di tengah lapangan sebelum kickoff dilakukan.


Namun di Indonesia, meski di awal pertandiangan telah diusung Fair Play Flag, toh kok masih banyak penyimpangan yang terjadi. Pemukulan terhadap wasit maupun pemain, perkelahian suporter sampai kepada tindakan pengrusakan fasilitas-fasilitas dalam stadion. Faktor tidak siap untuk kalah, hanya siap menang menjadi penyebab fair play tidak berjalan berjalan dengan sempurna.


Pasca penghitungan suara Pemilu Presiden di US, calon Presiden John McCain yang kalah langsung memberikan ucapan selamat kepada Presiden Terpilih Barack Obama. Sungguh, suatu pembelajaran demokrasi yang sangat bagus dan fair. Para pendukung pun dengan legawa menerima kekalahan calonnya.


Menerima kekalahan memang sangat sulit. Semua orang akan melakukan “euphoria” saat kemenangan ada di tangan. Bangga. Namun, apabila “dewa kekalahan” lagi berpihak, sangat sulit “menyambut” kedatangannya. Kecewa. Cobalah tengok beberapa kasus seperti dalam dunia olahraga atau dalam pilkada yang terjadi di Indonesia. Pihak tim sepakbola yang kalah, entah pemain, official, supporter tidak jarang melampiaskan kekecewaan mereka dengan berkelahi atau melakukan pengrusakan. Pihak Calon Gubernur/Bupati yang kalah pun tidak sedikit yang menyatakan kekecewaannya, protes ke KPU bahwa ada indikasi kecurangan, boikot hingga terjadinya bentrokan antara pendukung yang menang versus yang kalah.


Kapan prinsip fair play bisa dijunjung dan ditegakkan? Kalau siap menang, tentu siap kalah pun harus dimiliki. Menang dan kalah adalah sifat alamiah. Itu adalah sebuah hasil dari “pertarungan”. Namun demikian, dalam proses pertarungan tersebut perlu juga diatur dan dilakukan secara fair play, tidak ada kecurangan yang dilakukan.


Akankah pelajaran berdemokrasi di USA kemarin akan menjadi inspirasi untuk pesta demokrasi di Indonesia nanti. Calon yang kalah dapat menerima kekalahan, calon yang menang pun tidak menjadi sombong. Ungkapan “menang ora umuk, kalah orang ngamuk” (menang tidak sombong, kalah tidak marah) sepertinya perlu terus didengung-dengungkan dan dikampanyekan. Bukan hanya sekedar terpasang secara formalitas di spanduk dan diucapkan, namun juga dalam sebuah tindakan yang dinyatakan.

(Bagian Kedua) Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi: Jaga Dong Indonesia

Indonesia, negeri yang dalam sejarah diincar oleh negara-negara di Eropa karena memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Mereka rela mengarungi samudera untuk dengan semboyan Gold, Glory dan Gospel-nya. Tak pelak lagi, kedatangan mereka pada akhirnya mengakibatkan pertempuran dengan menggunakan senjata. Entah sudah berapa orang yang tewas dalam laga-laga pertempuran tersebut. Pengorbanan jiwa, raga, harta, nyawa maupun darah mewarnai Bumi Pertiwi yang disebut Zamrud Khatulistiwa ini.

Menilik berbagai peristiwa yang ada di tanah air ini (meskipun Soekarno sudah memproklamasikan kemerdekaan tahun 1945 yang lalu), masih ada “pertempuran” yang terjadi. Tidak perlu jauh-jauh pada Agresi Militer Belanda, tahun 2002 yang lalu, tepatnya 12 Oktober bom maha dahsyat mengguncang Legian Kuta Bali. Berbagai macam kerusuhan dan bom-bom lain pun terjadi di banyak daerah di Republik ini.

Kalau di televisi ada acara Republik BBM (Benar-Benar Mabuk, Baru Bisa Mimpi atau nama yang lain), Republik BBM kali ini adalah Bom-Bom Mengguncang dibumbui dengan TTM (Teror-Teror Menyebar). Amat dahsyat bom-bom itu bila mengguncang, menyisakan puing-puing, trauma, tangis dan duka. Jangankan setelah meledak, sebelum meledak atau baru terror pun, banyak orang sudah ketakutan.

Amrozi, nama itu akhir-akhir ini menjadi popular di Indonesia maupun di luar negeri. Bersama cs-nya, menjadi bahan pemberitaan yang terus diburu misteri eksekusi mati yang (akan segera) dilakukan. Di tengah kontroversinya, teror-teror bom muncul kembali, menambah ketakutan-ketakutan di masyarakat. Dengan berbagai macam argumen yang diberikan, seolah-olah bom yang meledak maupun teror bom yang muncul di masyarakat Indonesia dapat dibenarkan.

Dengan bom tersebut apakah memang benar dan bisa menciptakan kedamaian. Kedamaian seperti apa yang ingin diraih? Patut disayangkan, apabila dengan mengatasnamakan agama dan kedamaian, upaya menciptakan kedamaian melalui serangkaian peledakan bom dan teror-teror.

Bangsa ini adalah bangsanya bangsa-bangsa, terdiri dari berbagai macam suku, agama, kepercayaan serta budaya. Masing-masing memiki kekuatan dan kelemahan, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Akan indah apabila mereka berdampingan dan hidup dalam perbedaan serta penuh dengan toleransi.

Amrozi telah memberikan banyak pelajaran untuk bangsa ini. Pelajaran untuk selalu “eling lan waspada”, bahwa persatuan dan kesatuan bangsa adalah yang terutama dan selalu waspada terhadap upaya-upaya penghancuran persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu peribahasa Jawa mengatakan “rukun agawe santosa, crah agawe bubrah” atau dapat dikatakan rukun akan membuat sejahtera, namun pertikaian dan pertengkaran akan membuat kehancuran.

Akankah Bom-Bom Mengguncang akan terus terjadi? Dan Teror-Teror Menyebar terus dikumandangkan ke seantero negeri ini? Jaga keutuhan Bangsa Indonesia. Tidak hanya tugas pemerintah maupun aparat kepolisian, namun juga tugas kita semua untuk tetap menjaga keutuhan Republik ini.

Rabu, 05 November 2008

(Bagian Pertama) Korupsi, Amrozi, Pornografi dan Mutilasi: Jaga Dong Indonesia


Tidak berlebihan jika keempat kata dengan huruf terakhir “i” pada judul di atas sangat santer dibicarakan oleh publik Indonesia akhir-akhirnya (paling tidak mewakili banyak peristiwa di bumi pertiwi ini). Media massa baik cetak, elektronik menjadikannya bahan berita untuk dipublikasikan dan didiskusikan. Campur bawur, ruwet. Itulah kata yang (mungkin) dapat menggambarkan kondisi bangsa ini di tengah peristiwa-peristiwa yang membuat orang tergeleng-geleng.

“Kenken (bagaimana) toh dengan negeri Indonesia ini? penuh dengan korupsi.........korupsi.................korupsi...........”celetuk seorang ibu di sebuah warung makan ketika melihat sebuah tayangan di televisi. Acara itu bernama Kumpulan Perkara Korupsi (KPK). Yang namanya kumpulan, mesti lebih dari satu, demikian pula kumpulan (perkara) yang satu ini sudah sangat banyak di negeri ini.

Uang rakyat diembat, sedangkan rakyat kini hidup melarat. Kehidupan masyarakat yang sudah terhimpit, disuguhi tontonan para pejabat yang menggerogoti uang milik negara seperti “Tikus-Tikus Kantor” nya Iwan Fals.

Kumpulan perkara korupsi, perkara ini perlu terus dilanjutkan dan diselesaikan. Langkah awal ini perlu terus dilakukan untuk memburu “tikus-tikus penggerogot” kekayaan negara. Hampir setiap hari di berita-berita, ada saja peristiwa penangkapan oknum yang korupsi atau sidang yang terkait masalah korupsi, melibatkan para pejabat, politisi, menteri atau mantan menteri, banyak yang terlibat. Sudah berapa rupiah negara dirugikan oleh ulah mereka.

Uang menyilaukan mata. Menjadikan manusia buta dan kemudian menghalalkan segala cara untuk memperolehnya melalui korupsi. Inikah yang disebut zaman edan itu, yang tidak edan tidak kebagian. Yang diherankan adalah mengapa mereka sampai tega melakukan pencurian uang negara sedangkan kalau melihat di luar sana banyak rakyat miskin yang menderita dan sengsara, anak-anak banyak yang putus sekolah, kelaparan dan terdapat sekian banyak permasalah sosial lainnya.

Mau di bawa kemana negeri ini? Menghancurkan negara ini akan semudah membalikkan telapak tangan jika dibandingkan dengan bagaimana susah payah The Founding Father berjuang untuk mendirikannya.

Jaga Indonesia. Tetap utuh, tegak berdiri perkasa di tengah-tengah arus dan gelombang globalisasi. Itu tugas kita bersama, kalau bukan masyarakat Indonesia yang menjaga Indonesia, siapa lagi. (Bersambung)