Indonesia, negeri yang dalam sejarah diincar oleh negara-negara di Eropa karena memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Mereka rela mengarungi samudera untuk dengan semboyan Gold, Glory dan Gospel-nya. Tak pelak lagi, kedatangan mereka pada akhirnya mengakibatkan pertempuran dengan menggunakan senjata. Entah sudah berapa orang yang tewas dalam laga-laga pertempuran tersebut. Pengorbanan jiwa, raga, harta, nyawa maupun darah mewarnai Bumi Pertiwi yang disebut Zamrud Khatulistiwa ini.
Menilik berbagai peristiwa yang ada di tanah air ini (meskipun Soekarno sudah memproklamasikan kemerdekaan tahun 1945 yang lalu), masih ada “pertempuran” yang terjadi. Tidak perlu jauh-jauh pada Agresi Militer Belanda, tahun 2002 yang lalu, tepatnya 12 Oktober bom maha dahsyat mengguncang Legian Kuta Bali. Berbagai macam kerusuhan dan bom-bom lain pun terjadi di banyak daerah di Republik ini.
Kalau di televisi ada acara Republik BBM (Benar-Benar Mabuk, Baru Bisa Mimpi atau nama yang lain), Republik BBM kali ini adalah Bom-Bom Mengguncang dibumbui dengan TTM (Teror-Teror Menyebar). Amat dahsyat bom-bom itu bila mengguncang, menyisakan puing-puing, trauma, tangis dan duka. Jangankan setelah meledak, sebelum meledak atau baru terror pun, banyak orang sudah ketakutan.
Amrozi, nama itu akhir-akhir ini menjadi popular di Indonesia maupun di luar negeri. Bersama cs-nya, menjadi bahan pemberitaan yang terus diburu misteri eksekusi mati yang (akan segera) dilakukan. Di tengah kontroversinya, teror-teror bom muncul kembali, menambah ketakutan-ketakutan di masyarakat. Dengan berbagai macam argumen yang diberikan, seolah-olah bom yang meledak maupun teror bom yang muncul di masyarakat Indonesia dapat dibenarkan.
Dengan bom tersebut apakah memang benar dan bisa menciptakan kedamaian. Kedamaian seperti apa yang ingin diraih? Patut disayangkan, apabila dengan mengatasnamakan agama dan kedamaian, upaya menciptakan kedamaian melalui serangkaian peledakan bom dan teror-teror.
Bangsa ini adalah bangsanya bangsa-bangsa, terdiri dari berbagai macam suku, agama, kepercayaan serta budaya. Masing-masing memiki kekuatan dan kelemahan, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Akan indah apabila mereka berdampingan dan hidup dalam perbedaan serta penuh dengan toleransi.
Amrozi telah memberikan banyak pelajaran untuk bangsa ini. Pelajaran untuk selalu “eling lan waspada”, bahwa persatuan dan kesatuan bangsa adalah yang terutama dan selalu waspada terhadap upaya-upaya penghancuran persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu peribahasa Jawa mengatakan “rukun agawe santosa, crah agawe bubrah” atau dapat dikatakan rukun akan membuat sejahtera, namun pertikaian dan pertengkaran akan membuat kehancuran.
Akankah Bom-Bom Mengguncang akan terus terjadi? Dan Teror-Teror Menyebar terus dikumandangkan ke seantero negeri ini? Jaga keutuhan Bangsa Indonesia. Tidak hanya tugas pemerintah maupun aparat kepolisian, namun juga tugas kita semua untuk tetap menjaga keutuhan Republik ini.