Senin, 16 Maret 2009

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Penyakit Menular Seks

Bali, pulau dengan sejuta pesona, hingga banyak orang dari dalam maupun luar negeri ”tergoda” menikmati daya tariknya. Industri pariwisata berkembang, yang diikuti oleh usaha-usaha pengikut dan pendukungnya. Berbagai fasilitas dibangun dan dikembangkan untuk menyambut tamu-tamu wisatawan yang datang. Berbagai bidang pekerjaan pun tersedia di Pulau Dewata tersebut.


Meski demikian, kondisi tersebut pun membawa ”dampak buruk” bagi Bali. Industri prostitusi pun juga berkembang pesat di sana. Tentu, hal ini akan menjadi jalur yang akan menjadi media penularan dan penyebaran penyakit menular seks. Perilaku berganti-ganti pasangan disebut-sebut sebagai salah satu faktor penyebab penularan penyakit menular seks, selain ada faktor-faktor lain.


Penyakit menular seks atau dalam bahasa medis disebut sebagai STD (Sexually Transmitted Diseases) menjadi topik panas yang dibahas di masyarakat, terkhusus di Bali. Untuk di Bali, penularan penyakit menular seks menurut dr. Elly sangatlah cepat. Kasus-kasus yang terjadi selama ini penyakit tersebut ditularkan serta disebarkan melalui dunia prostitusi yang semakin luas, perilaku seks yang tidak aman dan sering berganti-ganti pasangan, arus keluar masuk penduduk yang tinggi dari dalam dan luar negeri dan praktik injeksi serta sterilisasi alat kedokteran yang belum memenuhi syarat seperti penggunaan jarum suntik bagi pecandu narkoba.


Masyarakat belum banyak yang paham tentang penyakit menular seks (PMS) ini, demikian dikatakan oleh dr. Elly menurut pengalamannya selama ini. Ia menyebutkan penyebab PMS yakni bakteri, virus, jamur, protozoa maupun ekstoparasit. Bakteri dapat menyebabkan penyakit kencing nanah dan sipilis (atau dikenal dengan raja singa). Virus menyebabkan penyakit HIV/AIDS, herpes genitalis, kutil kelamin dan hepititis B. Jamur dan protozoa mengakibatkan keputihan, ekstoparasit mengakibatkan gatal-gatal pada alat kelamin. Lebih lanjut, PMS yang disebabkan bakteri dan jamur dapat disembuhkan dengan antibiotik asal diketahui dan diobati sedini mungkin, sedangkan PMS karena virus sangat sulit diobati bahkan tidak dapat disembuhkan seperti HIV/AIDS.


Pengetahuan masyarakat yang masih minim akan apa itu PMS, bahaya yang ditimbulkan dan bagaimana memutus mata rantainya, disebut dr. Elly sebagai penyebab kasus ini akan tetap langgeng dan terus meluas, terutama yang ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak aman dan sering berganti-ganti pasangan. Oleh sebab itulah, dr. Elly menaruhkan perhatian khusus pada kampanye, sosialisasi dan edukasi ke masyarakat mengenai PMS melalui Elly Medical Service-nya ataupun ikut dalam program-program sejenis bersama-sama dengan rekan-rekan sejawatnya.


Dari pengalaman dr. Elly dalam pencegahan kasus PMS di Bali, perhatiannya saat ini dicurahkan pada pendekatan pada elemen masyarakat yang melakukan seks aktif dan berperilaku ganti-ganti pasangan, para Pekerja Seks Komersil misalnya, dikarenakan mata rantai penyebaran PMS sangat berpotensi melalui mereka. Tidak hanya mengedukasi dan memberikan pemahaman mengenai PMS, dr. Elly juga melakukan kerjasama dengan beberapa pihak untuk melakukan kampanye penggunaan dan pembagian kondom bagi mereka. Program tersebut telah dijalankan pada tempat-tempat yang berisiko terjadinya transaksi seks seperti lokalisasi, warung remang-remang dan tempat-tempat lain yang diduga rentan.


Menurut pengakuan dari beberapa pasiennya, pengetahuan akan penyakit menular seksual masih minim, juga dalam hal penggunaan kondom sebagai upaya pencegahan. Oleh sebab itulah, perlu lebih digalakkan lagi kampanye dan edukasi ke masyarakat. Dalam edukasi tersebut, disarankan bagi para pekerja seks komersil untuk selalu teratur memeriksakan diri dan menganjurkan penggunaan kondom untuk mencegah penularan penyakit.



Keprihatinan Pada Generasi Muda

Memutus mata rantai penyakit menular seksual tidak bisa dipisahkan dari generasi muda. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang demikan pesat ditunjang oleh rasa ingin tahu yang menggebu-gebu menjadikan kalangan generasi muda sebagai kelompok yang rentan terhadap penyebaran penyakit menular seks. Karena dorongan kedua hal tersebut, dapat menyebabkan terjadinya perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan, termasuk dalam seks bebas dan berganti-ganti pasangan.


Selain itu, generasi muda juga rawan dalam hal penggunaan narkoba. Dalam kaitannya dengan penyakit menular seks, pengguna narkoba dengan jarum suntik terutama, sangatlah mudah sebagai media penularan PMS. Hal tersebut dikarenakan biasanya pecandu narkoba menggunakan jarum suntik secara bergantian, padahal jarum suntik yang telah dipakai tersebut tidak aman dan tidak steril.


Arus migrasi baik wisatawan maupun tenaga kerja ke Bali, telah memengaruhi gaya hidup anak muda Bali. Sempat beberapa kali melihat 2 murid Sekolah Menengah Pertama berciuman bibir di pinggir jalan. Bahkan, dr. Elly pernah melihat adegan yang lebih panas dilakukan anak remaja di kolam renang. Sudah sejauh itu. Kalau di tempat umum mereka telah berbuat yang demikan,bukankah sangat mungkin mereka akan melakukan hal yang lebih? Beberapa waktu yang lalu pun, Bali digemparkan oleh video mesum yang dilakukan oleh anak muda yang juga marak di beberapa daerah di Indonesia.


Itu yang teridentifikasi, belum kasus-kasus yang belum terungkap, laksana gunung es. Untuk itulah dr. Elly terus berjuang untuk memberikan edukasi kepada generasi muda khususnya melalui gagasan pengenalan kurikulum reproduksi manusia, seksologi dan kontrasepsi di kalangan generasi muda. Meskipun masih sebatas gagasan, namun sejumlah kegiatan pengedukasian ke generasi muda pun telah dilakukan. Diharapkan, setelah memperoleh informasi seputaran reproduksi, seksologi dan kontrasepsi, kaum muda dapat berhati-hati dalam menjaga diri dan berperilaku sehat.


Proses Panjang

Menilik pada kegiatan-kegiatan edukasi yang dilakukan selama ini, dr. Elly mengakui bahwa butuh proses yang panjang dan dukungan dari segenap elemen pemerintah dan masyarakat. Para pekerja seks komersial, meskipun masih sangat kecil jumlahnya, yang dulu malu, takut untuk memeriksakan diri secara rutin dan tidak menggunakan kondom, telah mulai mengerti akan bahaya penyakit menular seks. Dikatakan dr. Elly, bahwa setelah diberi informasi mengenai hal tersebut, beberapa pekerja seks komersil menghubungi dr. Elly untuk sekedar berdiskusi, konsultasi ataupun memeriksakan diri.


Memutus mata rantai penularan penyakit menular seks itu perlu komitmen bersama. Komitmen untuk setia kepada pasangannya masing-masing, tidak berganti-ganti pasangan, menjauhi narkoba terutama narkoba suntik dan penting untuk selalu berhati-hati dalam pergaulan dan tindakan. Pernah ada satu kasus, secara tidak sengaja rekan sejawat dr. Elly terinfeksi virus HIV/AIDS. Jarum suntik yang digunakan untuk menyuntik pasiennya, secara tidak sengaja tertusuk. Ternyata, pasien tersebut mengidap HIV/AIDS. Akhirnya, teman dr. Elly ini pun tertular virus yang mematikan dan menjadi momok itu.


Janganlah ragu untuk memeriksakan diri, kalau memang telah terkena penyakit menular seks dapat segera dilakukan tindakan pengobatan. Kalau pun terpaksa harus melakukan aktivitas seks aktif dan berganti-ganti pasangan, lakukan secara aman dengan menggunakan kondom sebagai tindakan pencegah. Demikian, pesan yang disampaikan oleh dr. Elly.


Artikel ini juga dipublikasikan oleh Jangkang Research Institute. Klik disini