Minggu, 22 Februari 2009

Eksistensi Ikatan Alumni: Merintis dan Mempertahankan Kelangsungannya

Untuk Almamaterku SMU 3 Surakarta
Widya Karma Jaya

Selama hampir dua minggu ini, terjadi diskusi yang menarik milis alumni SMU Negeri 3 Surakarta. Bermula dari sebuah postingan oleh salah seorang anggota mengenai sejarah konflik Israel-Palestina. Oleh anggota yang lain menyatakan tidak setuju dengan postingan itu karena “berbau SARA”. Sebagai salah satu anggota milis itu, dalam kacamata penulis memang bernuansa SARA dan tidak cocok untuk diposting di milis alumni itu khususnya.

SMU N 3 Surakarta, dalam tumbuh dan berkembangnya dikenal sebagai salah satu sekolah favorit di Kota Surakarta, juga dikenal sebagai salah satu sekolah yang dihuni oleh beragam suku bangsa yang berbeda-beda dan dengan berbagai perbedaan-perbedaan yang memperkaya. Dengan motto Widya Karma Jaya, yang berarti unggul dalam ilmu dan perbuatan, sekolah ini telah mencapai usia emas.

Kembali ke persoalan diskusi di milis. Penulis mencoba untuk menggali banyak informasi dari kakak angkatan yang sudah lama bergabung di milis itu pasca “komplain” postingan di milis. Sebagai anggota baru, mencoba mencari informasi mengenai komunitas alumninya adalah sesuatu hal yang wajar. Pertanyaan pertama mengenai etika bermilis yang ada diberlakukan di milis alumni SMU 3 itu. Ada yang mengatakan bahwa ketika milis ini dibangun, memang ada etika yang diberlakukan seperti tidak memposting hal-hal yang berbau SARA ataupun “saru”.

Muncul pula tanggapan dari dari anggota yang lain dan menyatakan bahwa postingan mengenai sejarah itu tidak berbau SARA bahkan ada yang memasukkan lagi sejarah dari sisi lain konflik Israel Palestina, jelas berbeda dengan postingan sejarah yang pertama. Terdapat pula usulan mengenai postingan di milis itu untuk tetap dibiarkan berjalan apa adanya, jika memang berkenan dibaca, jika tidak berkenal tinggal di-delete.

Dalam salah satu tanggapan penulis di milis itu, memberikan contoh mengenai etika bermilis dari milis alumni SMU 3 yang lain, hingga pertanyaan sejarahnya apakah alumni SMU ini pecah sehingga harus memiliki dua milis. Usut punya usut ada yang memberikan cerita sejarahnya mengapa ada dua milis itu dan ternyata masih ada banyak, milis lain yang terkait dengan alumni SMU 3 Surakarta, terutama yang mengatasnamakan angkatan. Di sela-sela “debat” itu ada yang mengungkapkan tidak masalah banyak milis, bahkan akan semakin menambah dan mempertahankan perbedaan dan keanekaragaman SMU 3 Surakarta, serta tidak perlu membatasi postingan di milis, biarkan individu masing-masing yang membatasi. Kalau pun ada postingan yang tidak berkenan di hati anggota tinggal dihapus dari inbox, hingga ada yang guyonan akan membuat milis baru lagi dengan kriteria umur, angkatan muda, angkatan tua, daerah asal dan usul-usul nyleneh lainnya.

Stop di sana cerita awal mula tulisan ini. Point of view yang ingin dikupas adalah mengenai eksistensi alumni dalam keberlangsungan suatu lembaga pendidikan, khususnya SMU 3 Surakarta. Berdasarkan milis-milis yang telah dibangun dan berkaitan dengan alumninya, tergambar bahwa alumni SMU 3 masih bergerak tak beraturan dan belum terstruktur. Salah satu anggota mengatakan bahwa ide awal dibangun milis ini adalah untuk “ngumpulke balung pisah”, yang bermakna dengan milis ini diharapkan alumni SMU 3 yang tersebar di segenap penjuru dalam berkumpul dan berkomunikasi dalam media milis tersebut.

Terungkap pula bahwa melalui milis ini ada ide untuk memberikan beasiswa untuk adik-adik angkatan yang mengalami kesulitan pendanaan untuk sekolah. Great idea. Namun, dalam perjalanannya, meskipun hal tersebut telah terlaksana, namun gerakannya masih tak beraturan, tak terorganisasi. Alumni SMAGA (sebutan SMU/SMA 3 Surakarta), belum memiliki konsep, program dan goal yang jelas dalam keinginannya untuk berkontribusi bagi almamaternya.

Secara usia sekolah, SMAGA telah melewati ulang tahun ke-50, namun alumninya belum bergerak secara beraturan, padahal alumni SMAGA memiliki kekuatan dan potensi yang sangat melimpah dan masih bisa menghasilkan sesuatu yang lebih optimal. Lalu, apa yang harus dilakukan sekarang? Apakah di mata alumni telah puas dengan aktivitas dan hasil yang telah dicapai selama ini?

Perlu digali lebih dalam. Dalam pengamatan penulis selama ini, memang keberadaan ikatan alumni SMAGA masih sangat minim informasi, baik dalam hal aktivitas maupun organisasinya. Mengetahui keberadaan milis SMAGA ini pun dari sebuah pencarian di search engine. Teman-teman alumni yang lain bisa dikategorikan sebagai kelompok yang tidak tahu mengenai milis tersebut ataupun kelompok yang tidak mau bergabung. Namun kelompok yang kedua ini, mungkin hanyalah sangat kecil prosentasenya. Kebanyakan dikarenakan sangat minim informasi sehingga usaha mengumpulkan “balung” tadi masih terengah-engah. Bagaimana tidak, dari kedua milis alumni SMAGA tersebut hanya memiliki dua sampai tiga ratusan anggota, jika dibandingkan dengan jumlah alumni SMAGA.

Bolehlah kalau dulu masih terkendala dalam hal komunikasi, telepon dan internet masih dimiliki kalangan terbatas, namun bagaimanapun sekarang tidak bisa dipungkiri, internet maupun telepon telah menjadi nafas dan kebutuhan pokok manusia, meskipun masih ada orang/masyarakat yang belum mengenal ataupun sulit untuk mengaksesnya. Namun, jika dibandingkan beberapa tahun yang lalu, perkembangan sistem telekomunikasi dan informasi telah berkembang pesat dan cepat.

Untuk lebih memantapkan perjuangan dan pergerakan alumni SMAGA, perlu dilakukan langkah-langkah untuk lebih menunjukkan kiprahnya dalam melakukan upaya mengumpulkan “balung sing pisah” dan berkontribusi untuk almamaternya. Alumni perlu melembaga dalam satu ikatan yang jelas struktur, program maupun aktivitas yang dilakukan. Dengan melembaga, maka akan ada kejelasan program-program yang hendak dilakukan serta dalam lebih dipertanggungjawabkan.

Jika ikatan alumni SMAGA memiliki struktur kepengurusan, program-program serta aktivitas-aktivitas yang jelas, apa yang akan diperoleh? Cobalah berimajinasi. Ambil contoh, tujuan ikatan alumni ini paling tidak ide untuk mengumpulkan “balung pisah” dan berkontribusi ke almamater. Jika ada struktur dan program yang jelas, tentu ide tersebut akan berkonsekuensi pada adanya unit yang akan menangani dan bertanggungjawab, sampai dirumuskan program untuk mencapai tujuan itu.

Sebuah contoh sederhana, aka nada bidang yang menangani bidang informasi dan komunikasi, bertanggung jawab untuk mengelola website, milis maupun database alumni SMAGA. Ketiga hal itu penting sebagai langkah untuk menunjukkan eksistensi ikatan alumni. Terkadang memang, alumni “dilupakan” oleh pihak sekolah. Bagaimana sangat minimnya informasi alumni SMAGA di website sekolah itu. Atau sangat minim anggota 2 milis yang selama ini aktif. Kalau ada bidang yang bertanggung jawab di bidang ini, maka usaha untuk mengumpulkan alumni dalam satu ikatan akan dijalankan secara lebih tersistematis dan dapat dipertanggungjawabkan. Tentu, masih ada hal-hal lain yang bisa dilakukan dan disentuh oleh ikatan alumni dalam kegiatannya untuk lebih berkontribusi.


Bidang-bidang tersebut dapat bekerjasama dengan pihak sekolah untuk pembuatan database alumni. Tiap tahun pasti ada alumni, dan tiap tahun akan terus ada selama sekolah itu tetap beroperasi. Bukankah di event perpisahan, ikatan alumni harusnya tampil di acara tersebut? Sebuah event yang tepat untuk menginformasikan eksistensi alumni SMAGA, program-program maupun aktivitas yang dilakukan sumbangsih alumni bagi almamaternya.

Relasi antara alumni dan sekolah sangatlah penting dilakukan. Konsistensi hubungan keduanya memberikan dampak bagi keberlangsungan proses pendidikan pada almamaternya. Banyak orang tua ataupun siswa yang mengambil keputusan untuk masuk ke suatu sekolah dengan melihat keberhasilan alumninya. Proses belajar selama 3 tahun di SMU telah memberikan kenangan tersendiri bagi alumni, terutama setelah sekian tahun tidak berjumpa dengan sekolah, guru dan teman-temannya, hingga masih ingin memberikan sesuatu untuk alamaternya itu.

Itulah pentingnya alumni melembaga dan terorganisasi dalam satu ikatan. Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Kuncinya adalah pada alumni itu sendiri. Kalau memang masih ingin memberikan sesuatu untuk almamaternya, juga untuk menjalin silaturahmi dengan adik, seangkatan maupun kakak angkatan, mengapa harus tanggung-tanggung. Semuanya perlu ditata sehingga setiap program, aktivitas yang dilakukan akan lebih terencana, teratur, terkontrol dan terevaluasi.


Winarto
SMUGA 2000-2003

Dipublikasikan di www.wikarya.org, situs alumni SMA 3 Surakarta

Kamis, 12 Februari 2009

Andai di Dunia Kartun

Berita-berita di media massa baik cetak dan elektronik beberapa hari ini menampilkan sesuatu hal yang membuat hati miris. Serangan Israel di Jalur Gaza, bencana banjir di beberapa wilayah di Indonesia termasuk Semarang dan Jakarta, kebakaran semak dan hutan di Australia, demo yang berujung maut di Sumatera Utara hingga seabreg peristiwa lain baik bencana alam, kriminalitas maupun kecelakaan. Makin ngeri....

Fenomena dukun cilik, Ponari, di Jombang pun menyita perhatian publik tanah air. Ribuan orang berduyun-duyun datang meminta kesembuhan dari batu ajaib yang dimiliki Ponari dengan meminum air mineral setelah batu itu dicelupkan ke dalamnya. Namun sayang, praktek tersebut ditutup karena sang dukun kelelahan dan sakit. Kalau sang dukun cilik sakit, mengapa tidak mencelupkan batu miliknya itu ke air mineral dan kemudian meminumnya ya?

Jika ditanya, siapa yang mau mendapat sakit, kecelakaan, musibah ataupun bencana selama masih ada di dunia fana ini? Ah tidak usah terlalu memikirkan hal-hal seperti itu, kapan menimpa, kalau terjadi bagaimana dan perasaan ketakutan yang berlebihan lainnya. Orang Jawa bilang eling lan waspodo atau ada juga nasehat untuk selalu berjaga dan berdoa.

Masih ingat dengan film Space Jam? Ya, ketika kemampuan beberapa jagoan Basket NBA dicuri dan digunakan untuk bertanding melawan Looney Tunes, Bugs Bunny dan kawan-kawan? Michael Jordan pun diculik oleh Tunes dan kawan-kawan untuk membantu melawan. Sesuatu yang menarik adalah bagaimana jika manusia bisa seperti kartun-kartun itu? Diinjak sampai gepeng pun akhirnya bisa pulih dalam sepersekian detik, memegang bom atau granat yang hampir meledak dan akhirnya meledak pun bisa cepat kembali ke bentuk semula.

Masuk ke dunia khayal. Andai saja di dunia kartun, mungkin penduduk di Palestina tidak perlu banyak yang terbunuh atau kehilangan sanak saudara dan harta benda. Banjir di Semarang sana tidak perlu menghentikan roda perekonomian dan aktivitas lain ketika orang mampu menyedot bahkan meminumnya,hahahaha.

Mudah sekali berbicara layaknya seorang sutradara. Tapi itulah dunia kartun, dunia khayal. Dalam kisah perseteruan abadi Tom and Jerry, betapa seru dan menggemaskan pertempuran mereka berdua, bahkan kadang menggunakan granat, meriam, bom dan senjata-senjata lainnya. Toh ketika kena, eh bisa recovery secepat kilat dan semudah membalik telapak tangan. Hahahaha

Ingat juga dengan cerita Doraemon, yang mempunyai kantong ajaib, yang punya alat-alat “canggih” dari abad 22. Ada mesin waktu, pintu kemana saja, baling-baling bambu dan mungkin ratusan alat-alat canggih lain. Dunia kartun oh dunia kartun.

Tapi ingat, bahwa ini masih di dunia. Lahir, tumbuh dan berkembang, sakit, bencana, kecelakaan, bahagia hingga peperangan bisa mengancam umat manusia. Bukan di dunia kartun, dengan tangan bisa menahan granat, kalau pun meledak tidak akan mati. Atau bila terjadi tabrakan kereta versus kereta, tidak akan menelan korban jiwa. Belum ada mesin waktu maupun pintu kemana saja seperti punya Doraemon. Namun, kalau suatu saat nanti tercipta, apa yang akan terjadi ya?