Kamis, 16 Oktober 2008

Pandangan Mata di Segara Ayu

Denpasar, 16 Oktober 2008
Hari Minggu yang lalu, aku, Sunny, Giri, Intan dan Gede ingin pergi untuk sekedar refreshing. Kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Segara Ayu di dekat Pantai Sanur. Kami berencana naik kano. Rencana tersebut dibicarakan pada pukul 12.00 WITA. Kami akan berangkat pada pukul 16.00 WITA. Waktu itu, di Denpasar sangat panas sekali.

Pukul 15.30 WITA, kami sudah siap-siap berangkat ke Pantai Segara Ayu. Kami naik 2 sepeda motor dan satu vespa. Aku berbondengan dengan Giri menggunakan Honda Grand ’96 ku. Intan dan Gede menggunakan Honda dan Sunny sendirian menggunakan vespa. Tepat pukul 16.00 WITA kami meluncur di Pantai Segara Ayu. Memang betul-betul ayu pantai itu. Indah sekali. Warna laut yang biru meneduhkan hatiku. Sangat ramai wisatawan, dalam maupun luar negeri. Mereka menikmati salah satu keindahan alam di Bali.

Keinginanku untuk main kano berubah menjadi keinginan untuk berdiam diri di atas pasir. Yah, mereka mengajakku untuk ikut, namun aku menolaknya. Aku hendak menikmati keindahan pantai sambil melihat aktivitas yang dilakukan wisatawan itu di tepi pantai. Ada yang duduk di pasir seperti aku, ada yang berbaring, ada yang berenang, main kano sampai aku mengamati orang-orang yang bekerja sebagai penjual lumpia, jagung bakar, penyewa kano. Semua tidak luput dari pengamatanku.

Ada yang menarik dalam pandangaku. Seorang penyewa kano. Untuk menyewa kano, wisatawan hanya membayar Rp 10.000,00. Coba bayangkan, dalam sehari berapa pendapatan yang diperoleh Bapak itu? Kemudian pikiranku melayang dan mengandai-andai. Jika Pantai ini sepi oleh wisatawan, Bapak itu akan kehilangan uang yang cukup besar. Sayang, aku tidak berbicara dengan dia. Dia sibuk sekali melayani konsumen. Pasti sangat menarik mengetahui hal tersebut. Yah, aku ingin tahu lebih dalam karena Bali sangat mengandalkan pariwisata. Pasca Bom Bali I dan II tentu pariwisata Bali mengalami perubahan. Terlebih lagi, wacana RUU Pornografi yang akan disahkan mendapatkan tentangan keras masyarakat di Bali.


Mulai Dari Nol

Denpasar, 16 Oktober 2008
Mendekati Idul Fitri 1429 H, ada satu iklan yang sangat menarik dari Pertamina. Meski sudah agak terlambat, namun sangat menarik membahas mengenai iklan tersebut. Ada seorang Bapak yang hendak mengisi bensin di suatu SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Sambil menelpon dengan nada marah dia meminta petugas untuk mengis bensin ke tangki mobil. Petugas SPBU yang masih terlihat muda itu meminta Bapak yang sedang menelpon itu untuk mematikan handphonenya. Tidak lupa, petugas SPBU mengucapkan "dimulai dari angka nol". Setelah selesai mengisi bensin, pada saat yang bersamaan, bedug magrib mengumandang dan petugas SPBU mempersilakan Bapak itu untuk berbuka. Namun, Bapak itu menolak dengan nada yang marah. Petugas SPBU menanggapi dengan senyum dan ucapan terima kasih. Sungguh sabar sekali petugas itu dan bagus sekali pelayanannya (dalam iklan.......)

Masih bercerita mengenai iklan tersebut. Pada saat Idul Fitri dan setelah melaksanakan sholat Ied, petugas SPBU yang sama dengan penggalan cerita di atas kembali bekerja. Bapak yang sama pun datang kembali namun dengan semua anggota keluarga, tentu setelah sholat Ied pula. Dengan sabar, petugas SPBU mengucapkan "minal aidin walfaidzin), melayani dan tentu mengatakan "dimulai dari angka nol". Bapak yang duduk di depan sebelah kiri itu pun hanya menganggukkan kepala. Kemudian petugas itu mengisi bensin di tangki mobil.
Dengan melihat dari spion mobil, Bapak tersebut mengingat bagaimana dia pernah berkata kasar dengan petugas tersebut. Singkat cerita, Bapak itu keluar dan berjabat tangan dengan petugas SPBU tersebut serta berkata "dimulai dari nol lagi" dan diikuti dengan seluruh anggota keluarganya.

Suatu skenario iklan yang sangat mengharukan. Iklan tersebut mengandung makna. Selain dalam rangka Idul Fitri yang identik dengan saling memaafkan, tidak ada dosa kesalahan. Iklan tersebut terinspirasi dari keinginan Pertamina untuk selalu memberikan pelayanan yang baik dan jujur kepada palnggan. Kata "mulai dari nol" satu slogan yang menarik. Pas ketika Idul Fitri dan pas ketiga Pertamina ingin memberikan pelayanan yang jujur kepada konsumen. “Pasti Pas” dengan kata lain tidak ada tipu-tipu lagi ke konsumen.

Namun ada yang menarik. Salah satu teman mengatakan bahwa iklan itu sebagai permintaan maaf Pertamina bahwa selama ini telah membohongi pelanggan ketika mengisi bensin di SPBU. Entah takaran kurang pas, atau tidak mulai dari nol, pelayanan petugas yang tidak ramah atau bentuk-bentuk lain. Yah, itu salah satu pendapat teman.


Secara ideal, pelayanan di SPBU seperti yang dilakukan petugas dalam iklan tersebut. Ramah, murah senyum, sabar, menunjukkan angka nol serta mengisi bahan bakar yang pas dengan permintaan pelanggan. Ye, kalau pelanggan diberi takaran yang lebih mesti mau, tapi SPBU yang rugi. Demikian juga kalau pelanggan diberi takaran yang kurang pasti marah-marah. Maka yang tepat “Pasti Pas”. Enak di pelanggan, enak di SPBU.

Namun, ada yang berbeda antara SPBU di Jawa (Salatiga, Solo dan Sekitarnya) dengan SPBU di Bali (khususnya di Denpasar). Ucapan petugas “dimulai dari angka nol” belum pernah ditemui pada beberapa SPBU yang pernah dikunjungi. Ada apa gerangan ya? Angka yang menunjukkan rupiah dan liter pembelian pun banyak yang tidak jelas pada mesin pengisian. Bagaimana pelanggan bisa tahu “Pasti Pas”? Jangan-jangan ada aksi tipu-tipu yang merugikan pelanggan. Sungguh apabila hal itu terjadi, iklan itu hanyalah sekedar iklan yang tidak membawa dampak/pesan yang ingin disampaikan. Ataukah itu hanya diterapkan pada daerah-daerah tertentu saja?

Patut menjadi perhatian otoritas terkait mengenai keberadaan SPBU di Bali. Iklan yang ditampilkan ketika Idul Fitri tersebut seharusnya dijadikan titik balik perubahan yang dilakukan oleh Pertamina. Dan tentu saja, pelayanan petugas perlu ditingkatkan sehingga pelanggan menjadi puas.